Work-out From Home: Solusi Industri Olahraga Indonesia

0
97

Masa pandemi COVID-19 telah membawa perubahan bagi ekonomi dunia dan berbagai industri. Efek ini tidak mengecualikan industri olahraga yang mengandalkan jumlah siswa atau peserta kelas. Untungnya, BUSET mendapatkan kehormatan untuk mewawancarai dua figur yang bergerak dalam bisnis ini dan menggali cara mereka untuk mempertahankan karir mereka di dunia olahraga.

Maria Uli Manik adalah seorang wanita yang begitu antusias mengenai kesehatan jasmani. Uli sejak tahun 2003 ia memulai karirnya di industri olahraga dengan menjadi guru senam aerobic. Momen itu menjadi permulaan cinta Uli kepada bentuk-bentuk aktivitas fisik lainnya yang ia telah kuasai – Zumba, Yoga maupun Pilates. Kini Uli adalah pemilik dari studio olahraga di Jakarta, Pilates Soul studio.

Dalam menghadapi Pembatasan Sosial Berskala Besar yang menghadang orang-orang untuk berkunjung dan berolahraga, apakah solusi yang telah Anda terapkan demi meneruskan pekerjaan Anda yang bergantung pada jumlah peserta kelas?

“Sesuai dengan anjuran pemerintah, kami telah menerapkan protokol-protokol kesehatan di studio kami. Setiap member atau pengunjung akan harus melewati beberapa tes kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh, sejarah kepergian mereka ke suatu tempat selama pandemi, juga riwayat kesehatan mereka selama dua minggu terakhir.

Terlebih lagi, studio kami sendiri dibersihkan dan didesinfeksi. Sehabis ruangan habis dipakai untuk kelas, kami membersihkannya tidak hanya dengan alat-alat pembersih tetapi juga dengan menggunakan disinfektan pada setiap permukaan yang ada di ruangan tersebut. Sehabis membersihkannya, kami membiarkan ruangan tersebut kosong selama kira-kira 30 menit.

Kami juga telah menyediakan bagi para guru dan staf yang bekerja pada hari itu alat-alat proteksi diri. Kami para staf akan menjamin kesehatan para pelanggan dengan melindungi diri kami di dalam kelas sehingga tidak membatasi para murid untuk memakai masker atau alat perlindungan lainnya. Hal ini dikarenakan berolahraga menggunakan masker hanya akan mencegah mereka untuk bernapas dengan baik dan akan sesak napas. Namun, kebebasan untuk tidak memakai masker ini tidak berlaku baik sebelum dan sesudah kelas.

Kebanyakan dari kelas kami didatangi oleh orang-orang yang berminat untuk latihan dengan privat. Tetapi untuk kelas-kelas grup yang tetap kami adakan, kami membatasi kuota peserta sebanyak 7 orang dengan jarak diantara masing-masing dari para murid kami atur sepanjang dua meter lebih. Selain itu, kami juga menawarkan pengajaran online melalui virtual platform, Zoom. Di luar studio saya mengajar pula kelas-kelas privat home visit bagi yang masih tidak berani untuk mengunjungi studio dan tidak bisa belajar sendiri melalui online.”

Selama ini bagaimana tanggapan para member akan penerapan protokol baru ini?

“Setiap pelanggan yang datang ke studio kami cukup puas dengan protokol kesehatan yang kami terapkan dan percaya kepada kami dalam menjaga keselamatan mereka di studio kami. Walaupun semua tidak terlepas dari kondisi pribadi masing-masing sebelum dan sesudah kunjungan mereka ke studio kami. Tetapi, untungnya selama masa pandemi kami telah beroperasi selama tiga bulan tidak ada yang kembali positif terkena COVID-19.”

Apakah saran Anda bagi para pembaca Buset yang banyak terpaksa untuk berdiam diri di rumah karena lockdown?

“Kita memang harus akui bahwa demi kebaikan dan kesehatan semua orang kita harus menghadapi begitu banyak pembatasan dan restriksi. Terlebih lagi, saya mendengar banyak cerita dari teman-teman atau murid-murid saya mengenai orang-orang menjadi sangat stress dikarenakan masa pandemi ini.

Di rumah mereka harus menghadapi ketakutan mereka untuk keluar rumah, masalah-masalah dari work from home, atau bahkan masalah-masalah di rumah yang membenani mereka tiap hari. Segala tekanan itu tanpa disadari akan berpengaruh juga kepada kesehatan fisik dari tubuh mereka. Semakin mereka merasa tertekan dengan stress, tubuh mereka juga akan ikut menegang yang akan memarah apabila mereka hanya berdiam diri di depan layar komputer atau gadget mereka.

Jadi, sebaiknya tetap aktif bergerak dan memilih olahraga yang tepat atau yang dibutuhkan oleh tubuh kita bukan olahraga yang saat ini on trend. Contohnya adalah biking yang saat ini lagi in apabila tidak diimbangi dengan pendinginan yang benar akan membentuk tubuh para pengendara semakin melengkung dan membungkuk. Karena itu, mereka yang sudah memiliki tubuh yang secara natural membungkuk dapat menemui masalah-masalah nyeri punggung. Maka dari itu, kita harus benar-benar mengenali tubuh kita juga hal-hal yang dibutuhkan dari tubuh kita.”

Arif Surahman adalah seorang penari profesional dan guru tari dari United Dance Works yang berkeyakinan bahwa olahraga tidak selalu mengenai mengeluarkan keringat ketik latihan. Dia percaya bahwa melalui tarian, setiap orang dapat bersenang-senang saat berolahraga dan mengekspresikan diri mereka. Setelah bertahun-tahun berkarir di industri tari, ia telah tampil di berbagai acara di berbagai tempat seperti penampilannya di Kongres Dunia Penelitian Tari di Athena, SoulSphere of Jakartadi Museum Nasional Indonesia bersama Namarina Youth Dance, dan masih banyak lagi.

Dalam menghadapi Pembatasan Sosial Berskala Besar yang menghadang orang-orang untuk berkunjung dan berolahraga, apakah solusi yang telah Anda terapkan demi meneruskan profesi Anda?

“Kalau untuk saya, karena saya juga mengajar murid-murid dance academy di United Dance Works yang terus beroperasi seperti biasa. Tetapi untuk open class reguler bagi publik, kami menanggulanginnya dengan menerapkan sistem kelas online setiap seminggu dua kali.”

Selama ini bagaimana tanggapan para member akan penerapan protokol baru ini?

“Jujur, menerapkan open class online ada positif dan negatifnya. Positifnya, orang-orang yang tidak bisa secara fisik mengikuti kelas-kelas regulerku terutama karena mereka tinggal terlalu jauh, akhirnya bisa mengikuti. Jadi, orang-orang yang tinggal di luar Jakarta atau bahakan di luar negeri seperti Singapura menjadi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kelas saya.

Tetapi sayangnya, menerapkan sistem online ini tidak memastikan jumlah peserta yang tetap bersedia untuk bergabung. Jujur, kapasitas orang-orang yang mengikuti kelas online saya jauh lebih sedikit dibandingkan kelas fisik saya yang sebenarnya sebelum masa pandemi. Kelas normalku kurang lebih dapat diisi oleh sekitar 15 hingga 20 orang, tetapi para peserta kelas online saya benar-benar menurun secara drastis. Sesekali, memang kelas online bisa diisi oleh sekitar 15 orang tetapi sangat bergantung dengan upaya marketing online dan apakah lagu yang saya pakai pada hari itu sedang populer.”

Apakah saran Anda bagi para pembaca yang banyak terpaksa untuk berdiam diri di rumah karena lockdown?

“Menurut saya, masa pandemi juga ada baiknya karena kita dipersatukan dengan keluarga kita dan menghabiskan waktu kita bersama-sama. Tetapi kita memang terpaksa harus berdiam diri di rumah. Cara mengatasi permasalahan ini dan terus aktif bergerak.

Kita tetap bisa olahraga di rumah kok. Dengan kemajuan teknologi, kita diberikan jauh lebih banyak oportunitas untuk berolahraga dengan video-video olahraga di YouTube, kelas-kelas online, bahkan mempelajari dance cover K-Pop pun menurutku sebuah bentuk olahraga asal ada niat melakukannya.

Kalau dari awal memang tidak memiliki niat, kalian hanya akan berolahraga setengah hati. Intinya adalah di mindset kita dalam menanggapi olahraga. Karena olahraga pada hakikatnya kita lakukan agar kita menjadi lebih baik dan lebih sehat. Lalu ketika kita membiarkan imun tubuh kita drop dengan tidak berolahraga, hanya akan mengundang berbagai penyakit yang dapat mencemari kesehatak kita. Tetapi kita bisa memaintain imun tubuh kita dengan berolahraga, tidak perlu dengan menari, sekedar push-up atau yoga bahkan pilates juga bisa!

Ayo! Rubah mindset kita, karena lebih baik menghindari penyakit dari pada mengobati.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here