“Semua orang itu butuh kesempatan. Tidak akan bermakna apapun yang namanya talenta kalau gak ada kesempatanan, karena gak sempat di-explore menjadi karya.”

Buset Magazine mendapatkan kesempatan untuk berbincang langsung dengan musisi papan atas Tanah Air, Tompi, yang mampir ke Melbourne untuk mengisi panggung Soundsekerta 2019 – konser musik tahunan yang diadakan oleh perhimpunan pelajar Indonesia di Monash University.

Bicara soal profesinya, Tompi dikenal sebagai seseorang yang bermultitalenta. Selain kepiawaiannya dalam bermusik yang sudah dijalankan selama lebih dari 10 tahun, ia juga merupakan lulusan fakultas kedokteran dan menekuni karir sebagai seorang dokter bedah plastik. Namun bicara soal mata kuliah yang diambilnya, Tompi mengakui bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang didorong oleh orang tua, terutama sang bunda.

Meski begitu, semangat untuk terus beradaptasi menjadi resepnya untuk menempuh bidang tersebut. Ia juga merasa bahwa ia dapat menemukan persamaan antara profesi menjadi dokter dengan sebagai seorang seniman. “Mungkin saya bisa menggarisbawahi bahwa diri saya sendiri, saya lulus kedokteran dengan menganggap bahwa itu semua seperti kegiatan persenian. Saya tidak menganggap itu sebagai pelajaran eksak,” ujar Tompi yang mendapatkan gelar spesialis bedah plastik dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2010. “Kemanapun saya bawa rekaman, saya nyanyiin, terus kemana-mana dengerin itu. Jadi saya sudah gak baca buku. Itu cara saya menancapkan memori. Jadi pas ujian bisa jawab karena ‘kayaknya pernah denger deh’,” tambahnya tentang cara mempermudah cara belajarnya.

Dengan menemukan sebuah kesamaan dalam cara ia mempelajari kedokteran, pria kelahiran asal Lhokseumawe tersebut bisa menemukan passionnya dalam musik lewat mata pelajaran yang berbeda. Bagi Tompi sendiri, ia percaya bahwa musik bisa menjadi salah satu cara untuk melayakkan hidup seseorang. “Skill akan sangat menentukan dimana dia bisa berpijak. Semua hal bisa kita pakai untuk menjadi jalan keluar dari kesulitan, tapi kalau kita punya skill dan musik adalah sesuatu yang gampang untuk dibawa, karena orang Indonesia begitu lahir dinyanyikan oleh orang tuanya sejak kecil, jadi exposure terhadap musik bukan sesuatu yang mahal. Kalau ini dikuasain hidupnya bisa sangat menyenangkan, di samping bisa mencegah kita dari keadaan gila,” menurut sang pelantun tembang “Sedari Dulu”.

Cita-Cita Membuat Film Menjadi Kenyataan

Selain karir sebagai seorang musisi dan sebagai dokter bedah plastik, Tompi juga menyimpan cita-cita lain yang sudah dari dulu ingin ia realisasikan, yaitu membuat sebuah film. Bahkan sebelum mendaftar ke Universitas Indonesia, ia ingin sekali mendaftar ke institut kesenian Jakarta, karena cintanya terhadap hal yang berkaitan dengan visual yang bagus.

Cita-cita ini pun berkembang dari hobinya dalam dunia fotografi. Awalnya, Ayah dari tiga anak itu mengakui bahwa kesempatan memotret belum bisa ia dapatkan karena adanya keterbatasan uang. Namun interaksi dengan beberapa rekan fotografer yang sempat membantu memotretnya serta membuat video script membangkitkan rasa ketertarikan terhadap dunia fotografi.

“Ke beberapa teman yang saya anggap punya kapabilitas, saya tanya ke mereka tanpa malu, saya samperin, bahkan juga harus terbang keluar saya samperin tanya cara cuci film semuanya benar-benar dalemin, sampai saya sudah melewati fase yang saya mau, cari lagi yang lain sampai akhirnya orang-orang yang tadi saya tanyakan sebagai acuan dasar sekarang posisinya berbalikan nanya,” ujar pria yang mengakui kehausannya untuk mencari ilmu tentang fotografi terasa terlalu dalam. “Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita gak tahu,” papar Tompi bijak. Sekarang, ia menjalankan toko fotografi film bernama Soup N Film. 

September 2019 menjadi momen spesial bagi sang penggemar street photography tersebut setelah dirilisnya film layar lebar berjudul Pretty Boys, ini menjadi debutnya sebagai seorang sutradara. Film tersebut membahas tentang apa yang terjadi di balik layar televisi Indonesia, serta tekanan yang dihadapi para protagonisnya demi meraih kesuksesan termasuk resiko mengorbankan jati diri demi kepentingan rating penonton.

Tompi mengungkapkan bahwa sebelumnya, ia sudah mendapat tawaran dari beberapa teman untuk menyutradarai proyek film lain, namun akhirnya menjadi isapan jempol. “Mungkin mereka ragu juga buat memberikan kesempatan ini karena belum melihat [saya] buat proyek panjang, seperti halnya kalian belum bisa percaya seseorang yang belum ada karyanya kan sementara ini karya yang diproduksi tidak dengan biaya murah,” ujarnya.

Pretty Boys dibintangi oleh host The Tonight Show Deddy Mahendra Desta yang kerap disapa Desta bersama dengan Vincent Ryan Rompies. Mereka lah yang mengutarakan keinginan kepada Tompi dalam menggarap proyek termasuk berdiskusi dengannya tentang ide yang ingin diceritakan hingga akhirnya dikembangkan oleh Imam Darto selaku penulis naskah. “Semua orang itu butuh kesempatan. Tidak akan bermakna apapun yang namanya talenta kalau gak ada kesempatanan, karena gak sempat di-explore menjadi karya,” ucap sang alumni SMAN Modal Bangsa itu.

Tompi berharap dalam 10 tahun ini ia bisa mempersembahkan sebuah film musikal yang representatif dan menyatukan banyak musisi Tanah Air.

Pentingnya Menanamkan Passion pada Anak

Terkadang seseorang yang ingin mengikuti passion mereka harus terbentur dengan anjuran dari pihak lain, seperti dari keluarga sendiri. Padahal, Tompi percaya bahwa mengikuti passion adalah sesuatu yang sangat penting. Menurutnya, menyampaikan sebuah passion harus dilakukan dua arah, melalui sang pelaku dan juga ke orang tua.

Maka dari itu, menurut Tompi, peran keluarga dalam mengembangkan passion menjadi krusial dan ia mencoba untuk menerapkan hal tersebut dalam rumah tangganya sendiri. “Saya tidak akan memaksa anak-anak saya menjadi dokter atau seniman. Tapi saya akan tanya kamu mau jadi apa. Misal dia mau jadi Astronot, kita akan provide apapun yang dia kira-kira butuhkan untuk menjadi astronot,” papar pria yang dikaruniai tiga anak, Cut Malaka Ayesha, Teuku Omar Dakari dan Teuku Zakarizein.

Hal pertama yang harus diubah dalam adalah cara berpikir sang orang tua. “Walaupun banyak anak yang berhasil setelah dipaksa orang tuanya untuk menekuni bidang tertentu, yes berhasil, tapi saya yakin dia akan jauh berhasil jika dia menekuni apa yang dia mau. Misalnya pencapaian dia di bidang yang dipaksakan oleh orang tuanya 8, seandainya di yang dia mau bisa saja 12, but you never know karena dia gak pernah cobain kan,” tambahnya lagi.

“Kalau kita bekerja di bidang yang kita suka, rasanya pada saat kita di fase-fase yang terbawah pun kita tidak akan merasa terpuruk-terpuruk amat. Dan gak perlu takut buat menyobain sesuatu yang baru pada saat rasa down, banyak teman, banyak exposure ke bidang-bidang lain itu salah satu hal yang membuat gelora di bidang itu [ketika] awalnya mungkin jadi kebangun terus,” pesannya bahwa passion serta perubahan lingkungan dapat membantu mengatasi depresi.

Denis