Monash Herb Feith Indonesian Management Centre, sebuah platform yang didirikqn dengan tujuan meningkatkan interaksi komunitas riset dengan Indonesia, kembali mengadakan konferensi  di Monash University yang berlangsung selama tiga hari di awal Oktober kemarin. Konferensi tersebut membahas sejarah dan identitas komunitas Etnis Tionghoa di Indonesia.

Dr Hilmar Farid bersama panitia

Berbagai pihak dari berbagai latar belakang, baik seniman hingga peneliti dari luar Indonesia dan dari Tanah Air, hadir dalam konferensi yang diadakan dalam format berbagai sesi, mempresentasikan hasil karya seni dan riset mereka serta ambil bagian dalam diskusi dan tanya jawab.

“Acara ini diadakan untuk mempertemukan kembali begitu banyaknya ahli dan orang-orang non-akademik yang mempunyai minat besar terhadap masalah kebangsaan, etnisitas, dengan contoh kasus etnisitas Tionghoa di Indonesia,” ujar Professor Ariel Heryanto, Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre tentang tujuan pengadaan acara ini. “Kita tidak mau penelitian Chinese Indonesian menjadi masalah yang terisolir dari masalah lain. Jadi kita lihat Indonesia dalam konteks yang lebih besar. Dalam konteks kebangsaan, gender, kebudayaan, dan sebagainya,” tambahnya tentang berbagai tema yang disentuh dalam konferensi ini.

Sesi talkshow dihadiri audiens dengan antusias

Salah satu sesi dibuka oleh seniman Rani Pramesti dan Elina Simbolon. Rani mengawali dengan karyanya bertajuk “Sedih // Sunno”, sebuah karya seni interaktif, yang menjadi bagian dalam sebuah trilogi yang merepresentasikan pengalaman 3 generasi wanita dalam keluarganya. Contohnya karya sebelumnya, “Chinese Whisper”, menggambarkan pengalaman Rani dengan tragedi 1998.

“Sedih // Sunno” memiliki arti sedih dalam Bahasa Indonesia dan sunno yang berarti mendengar dalam Bahasa Hindi. Karya tersebut mengajak para audiens untuk mendengar kesedihan yang berdasarkan dari pengalaman ibunda sendiri yang pernah mengalami kekerasan seksual di usia muda. Karya ini menurut Rani bertujuan untuk menyediakan tempat yang aman agar para audiens dapat menghormati cerita tentang pengalaman trauma.

Diadakan di Arts House, North Melbourne, audiens dalam 1 kelompok terdiri dari 12 orang, memasuki ruangan yang dihiasi dengan batik berdasarkan pengalaman keluarga Rani dalam membuat batik. Disana mereka mendengarkan cerita tentang ibu dan keluarganya serta batik diiringi dengan suara ibunya.

Di bagian berikutnya para audiens diajak untuk bermain dalam permainan masa kecil menggambarkan bahwa kekerasan yang dialami ibunya terjadi di masa kecil dimana seorang anak seharusnya memiliki pengalaman yang indah. Para audiens kemudian diajak untuk mencelupkan lentera ke dalam air, diiringi dengan suara sang bunda yang menceritakan bahwa ia akhirnya menghadapi orang yang melakukan kekerasan tersebut kepadanya, dan memaafkannya, mengajak audiens untuk memaafkan dan melepaskan memori buruk. 

Pada kesempatan yang sama, Elina kemudian merepresentasikan proyek untuk program masternya yang berjudul “120598 cuts, investigation of social political trauma experienced by the ethnic Chinese community in Indonesian through sculptural objects, performatic photography and documentary”. Karya tersebut menggambarkan pengalaman Elina terhadap proses asimilasi etnis Tionghoa oleh pemerintah orde baru, digambarkan melalui objek skulptural.

Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre Professor Ariel Heryanto

Specifically my sculptural objects employ unconventional techniques such as cutting, puzzling, wrapping and hitting with the aim of transforming everyday materials such as kite, cable pass, cling wrap, stocking, cross petals and rice into metaphorical vessel of pain, anxiety, fear, dissociation and loss,” ujar Elina yang terinspirasi oleh seniman Doris Salcedo yang menggunakan konsep kehilangan dan trauma oleh konflik sosial dan politik dalam karyanya.

Seni Identitas

Diskusi pada hari itu menyentuh salah satu tantangan yang dihadapi oleh seniman beretnis dimana karya mereka sering dilabel dengan etnisitas mereka. “My intention is to honour my family’s stories, whether you want to label it Chinese Indonesian or whatever,” ujar Rani perihal motivasinya ketika menjumpai tantangan saat karyanya dinilai berdasarkan etnisitasnya.

Bagi Rani, salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para seniman yang menghadapi label terhadap karyanya adalah menjadi fleksibel terhadap hal tersebut dan menjadi lebih kritis terhadap siapa yang memiliki hak untuk lebih membicarakan tentang etnisitas orang lain dibanding dirinya.

“I’m tired of how I’m being boxed in this Asian arts. What’s next, maybe I’m just going to live my best life and that’s maybe the best I could be doing in the midst of these traumas and othering that happens in both Australia and Indonesia,” kisah Rani mengenai caranya menyikapi.

Monika Winarnita, Elina Simbolon, Wulan Dirgantoro, Rani Pramesti

Bicara soal cara yang digunakan oleh para panelis untuk mengupas cerita dan mempertimbangkan apa yang perlu diperlihatkan, Rani menceritakan tentang perencanaan “Sedih // Suno” dimana awalnya ia ingin menceritakan pengalaman neneknya. Namun ketika mendengar sendiri dari ibunya tentang pengalaman pahit yang dialaminya dalam perjalanan menuju ke kediaman neneknya, Rani mendapatkan panggilan hati yang keras untuk menghormati cerita ibunya.

Rani pun memilih untuk tetap teguh dalam menghormati cerita tersebut walaupun menghadapi tantangan dimana beberapa kolaboratornya memutuskan untuk berhenti berkerjasama dengan pergantian tersebut.

Untuk hasil karya skulptural yang dibuat oleh Elina, semua didasari oleh intuisinya. “I try to be open as much as possible but when we do artistic languages, there’s a lot of metaphors and that is not easy to access by anyone. Because we talk about something serious in a creative way through material,” ujar Elina tentang penggunaan bahan sebagai bentuk penyampaian melalui metafor.

There is a gap that not everyone can interpret the meaning… I just create the language that use the metaphor through the material. Not everybody have the intuition that’s why not everybody can read the language,” tambah Elina tentang tantangan yang bisa dihadapi audiens dalam mencoba mengerti sebuah hasil karya seni.

(dari kiri) Bianka Winataputri, FX Harsono, Ria Soemardjo, Rani Pramesti, Anita Dewi

Mengupas Trauma

Film berjudul “Chinese Whispers” hasil karya Rani diputar dan disusul dengan sesi tanya jawab oleh Rani, Ria Soemardjo, seorang komposer yang juga menjadi kolaborator bersama Rani, dan seniman asal Indonesia, FX Harsono dan Bianka Winataputri selaku kurator karya Harsono yang ditampilkan di MADA, Monash Caulfield campus.

Rani mengaku bangga dengan respon yang didapatnya atas cerita “Chinese Whispers”, dimana pembahasan tentang trauma etnis Tionghoa dari kerusuhan Mei 1998 bahkan mampu menyentuh hati audiens mancanegara, dengan beberapa yang mengaitkannya dengan trauma yang terjadi dari musibah di negara lain contohnya Kamboja dan Rwanda. “It’s been very exciting, the response to the digital version because it started a global conversation about for, the legacies of colonialism, racism, ongoing structural racism and so on,” papar Rani.

Selain menyentuh isu rasisme, film Chinese Whispers membahas tentang kasus pemerkosaan yang dialami oleh wanita dalam kerusuhan tersebut. Rani berharap karya ini bisa jalan untuk mengarahkan audiens kepada diskusi tentang kekerasan terhadap perempuan yang juga terjadi di negara lain.

Fx Harsono, seorang seniman dengan latar belakang aktivis yang kerap mengkritik kebijakan politik rejim orde baru – Suharto – mengungkapkan inspirasi untuk karyanya dari 2009-2019 yang berasal dari foto ayahnya yang ialah seorang fotografer dan pernah ikut ambil bagian dalam menguak pembantaian etnis Tionghoa dari sekitar tahun 1947-1949.

Berbagai buku tentang pengalaman etnis Tionghoa

In that photographs my father used the caption in white ink to show the place, what and how many victim found in that place. And in Blitar, my hometown, they found 191 dead bodies, buried in mass graves, and from the photographs I start to make research,” jelas Harsono yang sudah menemukan hampir 1800 nama korban dalam perjalanan risetnya.

“Di monash ini ada perpustakaan yang koleksinya sangat bangus tentang peranakan Tionghoa. Dan sangat jarang ada koleksi yang sebesar ini di dunia. Harapan kami, sesudah ini orang pada memanfaatkan fasilitas yang ada, memperdalam semua itu dan syukur-syukur teruskan kembali pemahaman kita, menggugat pengetahuan lama yang sudah agak kedaluarsa mengenai Tionghoa di Indonesia,” harap Profesor Ariel mengenai pengadaan acara ini dapat melebarkan pengetahuan dengan pemanfaatan resource untuk membuat berbagai macam karya yang dapat menelurkan diskusi lebih.

Apa Kata Mereka

Muhammad Zico Albaiquni, seniman

Seperti roller coaster gitu, mulai dari kejadian 98, sampai seperti polemik kebudayaan yang tidak pernah beres di Indonesia, empati gitu ya sampai saya bingung bagaimana saya memposisikan diri. Misal saya orang Indonesia, orang Sunda, saya kayak mendengar dari orang yang memiliki problem yang lebih besar dari saya, jadi kayak guilt trip jelas. Tadi pas juga ngejelasin tentang Jazz menarik banget dikembangkan oleh etnis keturunan Tionghoa, saya jadi menyadari betapa legitnya Rich Brian. Kayak itu dari black music to jazz di sana, dan di sini sama juga gak pernah nyebutin ada semacam ethnic cultural identity dibelakangnya tapi sekarang saya merasa wajar sekali ada Ramenvgurl, Rich Brian yang memang fasih gitu. Mungkin kebetulan yang bisq menjadi naratif yang uplifting menurut saya. 

Ir. Azmi, pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Saya sendiri mengelola museum perpustakaan peranakan Tionghoa, saya ingin menyampaikan bagaimana kontribusi etnik Tionghoa ini tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas. Itu yang bagi saya menjadi kesempatan untuk menyampaikan apa yang saya lakukan selama ini, berbagi, dan menyerap dari berbagai pemerhati Tionghoa yang datang dari seluruh benua. Saya kira acara ini harus diadakan lagi karena dengan ini kita bisa merencanakan langkah ke depan terutama untuk Indonesia, untuk menghadapi aspek kebangsaan. Menurut saya cerita dari Rani harus disampaikan kepada orang-orang yang pelakunya, atau yang berpotensi sebagai pelaku, biar mereka tahu oh begini akibatnya. Jadi namanya manusia, kalau melihat ini tersentuh. Jadi tidak selesai dalam ruangan ini saja, tapi itu seluas-luasnya.

Adrian Perkasa, researcher di Airlangga University dan Leiden University

Networking is very important ya, terutama coming from a lot of distance and academia. Barangkali untuk kandidat Phd, if we don’t have any position in Indonesia or abroad, we can also approach in these kinds of events, representing our achievements and research. If it is held more regularly it would be better since it’s closer to Indonesia. Bisa update ilmu, pentingnya conference seperti ini kita bisa kolaborasi bareng, dapat feedback untuk karya kita seperti kurang apa.

Denis
Foto: Denis/Herb Feith