Dear Buset, Siapakah Pahlawan Wanitamu?

Monica Viani, mahasiswa Monash University

“Jadi, my female role models salah satunya adalah almarhum nenekku. Kenapa? Karena dia tumbuh dewasa masih pada era 60an yang tentunya memposisikannya dalam lingkungan yang membahayakan hidupnya sebagai chinese immigrant. Ditambah lagi, kakekku itu tidak berguna sama sekali dan membuat begitu banyak keputusan keuangan yang begitu buruk hingga mampu membahayakan keluarga. Ditambah lagi, nenekku terpaksa untuk membesarkan mamaku bersama enam saudaranya yang lain karena kakekku meninggal cukup dini. Lalu, aku tidak tahu bagaimana tapi nenekku memiliki sifat yang sangatlah analitikal hingga selama beberapa bulan terakhirnya, akal nenekku tidak pernah rusak separah orang-orang tua pada umumnya ketika mereka sudah lansia – dia masih merupakan orang yang pikiran yang cekatan.

Aku ingat sekali bahwa pada tahun 1970-an dia memiliki perusahaan badjaj di Jakarta yang ia bentuk dari awal sendiri. Bayangin deh, seorang chinese immigrant dapat membiayakan setiap dari anak-anaknya hingga sukses kuliah menjadi sarjana maupun dokter. Jujurnya dia itu cukup brutal sampai-sampai banyak sekali preman yang bekerja di bawah pimpinannya. Figur-figur wanita yang seperti nenekku ini, melawan sistem patriarki di mana pun mereka berada-lah yang menjadi inspirasiku.

They know they live under the patriarchy system but in their life’s dictionary there is no such thing as the patriarchal system – mereka tidak pernah membiarkan sistem patriarki mengatur hidup mereka. Tanpa harus berkoar-koar dan meneriakkan beribu kata, mereka sudah merupakan living proof bahwa melawan sistem patriarki itu mampu untuk dilakukan. Contoh lainnya Adinia Wirasti yang tidak menundukkan kepala kepada dogma Indonesia akan perempuan yang harus menikahi seorang pria untuk menemukan kebahagiaan dan kesuksesan. Atau figur lainnya adalah Tara Basro yang tidak malu untuk menikah pada umur 30 tahun atas dasar keputusannya juga memamerkan body positivity.”

Amra Voatey Sam, mahasiswa Monash University

“Bagiku, sederhana saja! Pahlawan wanitaku adalah ibuku sendiri. Bukan hanya karena ia adalah figur yang tanpa balas jasa membesarkanku sejak aku masih seorang bayi tanpa daya. Tetapi, ibuku adalah seseorang yang masa kini disebut sebagai woman of steel. Ibuku melawan bumi dan langit untuk mendapatkan hal-hal yang ia inginkan. Diantara empat saudara-saudari lainnya, ibuku tidak pernah mendapatkan dukungan dari kakek-nenekku. Seperti halnya dengan Negara Indonesia, di Kamboja seorang perempuan layaknya dibesarkan untuk menjadi istri yang kompeten bagi seorang pria. Menentang semua itu, ibuku bekerja begitu keras untuk membiayai gelar sarjana-nya sendiri hingga mencari kerja untuk membiayai hidupnya sendiri. Semua ia lakukan hingga pada akhirnya ia menemukan seorang pria yang ia memang cintai dan hidup bersama dengan bahagia, ayahku. Dia melawan sistem sosial di Kamboja dan menjalani hidupnya sesuai dengan sistemnya sendiri.”

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Tunjangan Perjalanan Kerja (Travel Allowance)

Jika Anda merupakan karyawan yang bekerja untuk suatu perusahaan, dan Anda diharuskan untuk melakukan perjalanan jauh dalam rangka melaksanakan pekerjaan Anda, maka kemungkinan Anda...

The 11th Space: Ruang Pemacu Ide dan Aksi

Hidup di zaman serba terkoneksi, ide dan kreasi bisa hadir dari mana saja. Para kreator, pelaku bisnis, dan berbagai profesi lain kini dimungkinkan untuk...

RUPIAH BARU DI PENGHUJUNG TAHUN

Pada 19 Desember yang lalu bertempat di kantor pusat Bank Indonesia(BI), Presiden Joko Widodo bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gurbernur BI Agus...

WELCOMING LIWETAN

"Mencari komunitas" mungkin merupakan salah satu alasan utama mengapa orang mencari gereja Indonesia di kota Melbourne. Kami dari Indonesian Christian Church mau mengundang kamu...

Berpuisi di Siang Hari

Jembatan Poetry Society, sebuah komunitas penggemar puisi yang berdiri sejak 1991, kembali mengadakan acara baca puisi bersama yang terbuka, baik yang berpengalaman maupun yang penasaran...