Dewi Anggraeni, BEROPINI LEWAT TULISAN

Sosok penulis dan jurnalis yang sudah sering kita dengar namanya ini berbaik hati meluangkan waktu di Sabtu siang untuk ditemui oleh BUSET. Dewi Anggraeni yang jarang terlihat tanpa pakaian batiknya menceritakan perjalanan di balik karir yang telah dipilihnya.

Wanita ini lahir di tahun 1945 dan datang ke Australia atas peluang yang diberikan untuk bekerja sebagai pengajar budaya dan bahasa Indonesia serta Perancis. Ia kemudian menikah dengan Ian Fraser dan memutuskan untuk menetap di Negeri Kangguru ini hingga sekarang.

Meski selalu aktif menulis dan mengirimkan karyanya ke berbagai media di masa remajanya, Dewi Anggraeni pertama kali terjun di dunia jurnalistik sebagai wartawan pada 1986, ketika itu dirinya telah menetap di Australia selama lebih dari sepuluh tahun. Kala itu adalah majalah Tempo yang merekrut Dewi sebagai wartawan koresponden tetap hingga Tempo dibredel pemerintah tahun 1994. Ketika kembali beredar 5 tahun kemudian, Dewi yang diminta balik bekerja memutuskan untuk menjadi wartawan lepas karena banyaknya tuntutan pekerjaan yang ia terima dari banyak media di Australia.

Tentunya banyak tantangan yang harus dihadapi wanita kelahiran Jakarta ini dalam menjalankan pekerjaanya. Salah duanya adalah bila ada perbedaan pendapat dengan editor dan tugas yang menguras banyak waktu dan tenaga. “Dulu saat saya masih muda dan banyak energy, kalau sedang menulis mengenai topik tertentu bisa sampai tidak tidur karena kita harus menguber-uber isu itu sampai tuntas,” jelasnya lebih lanjut seraya bernostalgia.

Walau sudah tidak lagi bekerja sebagai wartawan yang aktif bertugas, Dewi masih banyak mengkontribusikan karya informatifnya baik dalam bentuk opini, esai maupun artikel. Berbagai media yang pernah mempublikasi buah pikirannya antara lain Jakarta Post, The Age, The Australian, Sydney Papers, Financial Review dan Griffith Review.

Ibu dari dua anak ini rupanya juga menulis banyak novel fiksi, baik dalam Bahasa Inggris maupun Indonesia. Tema-tema yang diangkat ber-genre sosial politik dan berdasarkan realita atau terinspirasi dari kisah nyata.

Dewi menyatakan jika novel-novelnya merupakan hasil luapan pikiran yang terpendam. Terutama melalui cerita fiksi yang ia tulis, Dewi dapat mengungkapkan opini dan deduksinya terhadap kasus-kasus yang pernah terjadi dengan bebas.

“Melalui karya-karya saya baik fiksi maupun non-fiksi, saya ingin menyampaikan cerita-cerita dan isu yang terlupakan atau dianggap tidak menjual oleh media melalui kemasan novel yang bisa menarik minat banyak orang,” ucap Dewi.

Hal tersebut dapat terlihat jelas dari buku terbarunya; Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan. Wanita yang memiliki pendidikan sastra Perancis ini menguak kembali cerita-cerita dari para korban pemerkosaan yang meliputi warga Tionghoa maupun non-Tionghoa. Dewi mengaku merasa tersinggung sekaligus prihatin sebab beberapa kasus pemerkosaan dan pembakaran di salah satu masa terkelam negeri Indonesia masih tidak diakui sampai sekarang. Selain itu, di bukunya tersebut Dewi menceritakan pengorbanan dan keberanian para aktivis dalam menolong korban kekerasan tragedi Mei 1998, yang kemudian merupakan pemicu lahirnya Komnas Perempuan.

“Warga Tionghoa banyak yang merasa tidak diperdulikan, padahal waktu kejadian tersebut, banyak wanita non Tionghoa yang juga memberikan bantuan dan dukungan kepada mereka. Hal ini tidak diketahui oleh banyak orang karena tidak pernah diliput dan disebarkan secara luas.”

Saat ini Dewi sedang dalam proses menulis buku fiksi yang kembali mengangkat tema tragedi Mei 1998. Dirinya pun mengakui proses penulisan buku ini akan memakan waktu yang lebih lama dari buku-buku sebelumnya karena banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menulis isu sensitif tersebut ke dalam bentuk cerita.

Bukan itu saja, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di La Trobe University ini juga memiliki rencana untuk menterjemahkan buku terbarunya ke dalam Bahasa Inggris. Namun keputusan tersebut berada di tangan penerbit Gramedia sehingga Dewi belum dapat mewujudkan keinginannya.

Di akhir wawancaranya dengan BUSET, seorang Dewi Anggraeni yang selalu dipenuhi kesibukan menyampaikan harapannya untuk Tanah Air. “Saat ini masyarakat Indonesia semakin mengerti proses demokrasi dan dapat menjalankannya walau belum sepenuhnya. Oleh karena itu saya berharap masa depan Indonesia bisa menjadi lebih cerah dari sebelum-sebelumnya, terutama dari jaman orde baru.”

 

gaby
foto: dok. pribadi

Discover

Sponsor

Latest

Mencegah Cabin Fever Saat Physical Distancing

Berlakunya aturan physical distancing di masa pandemi Corona secara tidak langsung mengurangi interaksi sosial terhadap orang lain dan lingkungan luar.

PERJALANAN LOUISA RIBBONACCI MENGHAPUS RASA TIDAK PERCAYA DIRI

Louisa Zais sudah mengenal musik sejak balita. Mulai dari piano, biola dan pelatihan vokal di usia lima tahun. Ia mengikuti sembilan kursus musik setiap...

DANIEL SI TUKANG BALON

Memilih profesi dalam kehidupan memang tidak mudah. Kita harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memilih; misalnya apakah pekerjaan tersebut cocok dengan kesukaan dan kemampuan kita...

Penggiat Kuliner Indonesia di Victoria Terima Pesan Persatuan Lewat Makan Malam Bersama

Restoran The Uleg di Brunswick terlihat padat dari luar. Ternyata, sedang ada perkumpulan yang diadakan oleh ICAV...

WANITA ART MARKET DANCE PARTY

EMPAT LIMA dengan bangga mempersembahkan peluncuran WANITA: Womens Arts Network Indonesia to Australia. WANITA menjadi wadah untuk para seniman kontemporer wanita, artis dan musisi yang...