Home BUSET NGELIPUT WARISAN BUDAYA JAWA DIPERTONTONKAN LEWAT TARIAN

WARISAN BUDAYA JAWA DIPERTONTONKAN LEWAT TARIAN

0
WARISAN BUDAYA JAWA DIPERTONTONKAN LEWAT TARIAN

Pada 20-21 November silam, Eko Supriyanto, penari tradisional Jawa asal Indonesia, dan koreografer asal Melbourne, Melanie Lane, menampilkan sebuah tarian produksi koreografer ternama asal Jerman, Arco Renz, yang diberi judul solid.states. Di sini Eko dan Melanie berhasil mempersembahkan karya yang sarat akan kebudayaan Jawa dan pengaruhnya di jaman sekarang. Mereka ingin menunjukkan bahwa jiwa seni yang mengalir dalam tubuh mereka masih merupakan bagian dari budaya leluhur yang selalu mereka junjung tinggi.

Eko Supriyanto dalam solid.states (foto: Jean-Luc Tanghe) 
Eko Supriyanto dalam solid.states (foto: Jean-Luc Tanghe)

Pendiri sekaligus direktur artistik dari EkosDance Company dan Solo Dance Studio di Surakarta, Eko Supriyanto adalah penari dan koreografer kenamaan Indonesia. Dirinya telah menekuni seni tari tradisional Jawa dan seni bela diri Pencak Silat sejak berusia 6 tahun. Karyanya tidak hanya dapat dinikmati di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Pasifik.

Laki-laki yang sukses menyabet titel PhD jurusan Performance Studies dari Universitas Gadjah Mada dan Master of Fine Arts (MFA) in Dance and Choreography dari UCLA Department of World Arts and Cultures ini mengaku awalnya ia dipaksa belajar menari oleh sang kakek serta sebagian besar keluarganya. “Karena kakek saya di Magelang adalah pengajar tari dan silat, tapi itu pun hanya untuk keluarga. Terus lama-lama setelah serius nari ya terinspirasi dari banyaknya keuntungan batin dan lahir ketika bisa menari,” ujar Eko yang dibesarkan di Magelang ini.

Eko bahkan pernah menjadi konsultan tari untuk penampilan produksi broadway Lion King karya Julie Taymor. Selain itu, pria kelahiran Banjarmasin, 26 November 1970 ini juga sempat menoreh kesuksesan sebagai koreografer dan tampil di Le Grand Macabre karya Peter Sellars, opera karya John Adam di Vienna yang berjudul Flowing Tree, Opera Jawa karya Garin Nugroho, menjadi salah satu penari di tur Drowned World Madonna dan masih banyak lagi.

Sejumlah pentas hebat tersebut bisa dicapai bukan tanpa usaha. Menurut Eko, selain perlu ketekunan dan jerih payah, menari juga perlu disertai dengan ketulusan hati. Kepada BUSET Eko sempat menceritakan mengenai kenapa dirinya memilih menari sebagai jalan karirnya. “Awalnya kan nggak suka, tapi setelah menari dan membuat karya tari, jadi bisa mendekatkan diri pada aktualitas kehidupan bahwa sebagai manusia yang berbudaya, sangat berperan aktif untuk saling berkolaborasi dan saling menghargai budaya satu dan lainnya. Sehingga dengan membuat karya yang bersumber dari nilai-nilai kemanusiaan ini, saya semakin yakin bahwa tari akan jadi profesi profesional dan profesi kehidupan.”

Pada awal meniti karirnya, Eko sering dicemooh karena penari dianggap tidak ada masa depan. Tetapi seiring waktu berjalan, ia justru semakin sadar bahwa segala kesulitan justru digunakan sebagai inspirasi dalam membuat karya tari.

Perjuangan Eko berbuah hasil, kini namanya sudah melambung sekaligus memiliki studio tari sendiri. “Sekarang sudah bisa beli rumah, mobil, bikin studio, dapur tetap ngebul, dan bisa nunjukin ke orang-orang bahwa mau berkehidupan cukup nggak perlu jadi hakim atau ekonom, atau pejabat yang hanya bisa korupsi,” ucapnya bangga.

EkosDance Company memang baru didirikan pada tahun 2015, akan tetapi proyek ini merupakan perbaruan yang modern dari Solo Dance Studio yang ia bentuk sejak 1996. “EkosDance Company lebih karya saya, bukan karya orang lain. Jadi sekaligus untuk mengenalkan karya-karya saya berikutnya.”

Kedepannya, pria yang ternyata juga gemar diving ini tetap berfokus untuk dapat mengasah keterampilannya dan berkarya di berbagai belahan bumi.

 

sasha