TRANSFORMASI DIRI MENCAPAI IMPIAN | CHRISTOPHER TOBING

Christopher Tobing tidak pernah menyangka dirinya sampai di posisi yang sekarang ini; seorang founder dan Managing Director Big Change Agency yang telah membantu memberikan bimbingan dan pelatihan di banyak perusahaan besar sehingga mampu meningkatkan profit dan mencapai tujuannya.

Toper, begitu panggilannya, menempuh pendidikan di Melbourne, Australia sejak kelas 11 pada tahun 2002 hingga lulus S2 dari The University of Melbourne.

Pria bertubuh tegap ini tidak mengalami hambatan yang berarti dalam mendapatkan pekerjaan seusai kuliah. Ia mengawali karir sebagai seorang valuer di akhir 2007, yakni sebuah profesi yang bertanggungjawab menilai sebuah properti yang biasa dibutuhkan saat transaksi jual-beli. Pekerjaan tersebut sejalan dengan bidang kuliah yang ditekuninya. Ketika kuliah, Toper memilih mendalami ilmu dari gelar Bachelor of Property and Construction dan Master of Applied Commerce dari universitas yang sama.

Setelah 5 tahun bekerja di industri yang sedang naik daun, dan dengan posisi yang cukup bergengsi, Toper nekat memulai karier baru. “Dari segi posisi, gaji dan fasilitas berkerja sudah sangat nyaman pada saat itu, saya adalah satu-satunya valuer NAB untuk wilayah Melbourne CBD, Albert Park hingga St. Kilda,” ungkapnya. Namun Toper melihat ada yang kurang dalam hidupnya. Ia bekerja dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, dan kebanyakan menghabiskan waktu di jalan dari satu properti ke properti lainnya tanpa banyak berinteraksi dengan orang.

Dalam kesendiriannya itu, muncul pemikiran akan kemanakah profesi ini membawa masa depannya. Saat itu Toper telah memprediksikan bahwa komputer akan mengambil alih profesinya. Dan ternyata prediksinya menjadi kenyataan, sekarang ini sudah terdapat sistem penilaian properti yang digital.

Memperkaya Diri

Selama bekerja di NAB, Christopher muda yang masih bergairah dan agresif selalu bersemangat mengasah ketrampilan dan pengetahuannya demi mencapai kesuksesan. Tak jarang ia mengikuti seminar – seminar yang mengajarkan strategi sukses. “Mindset saya pada saat itu bagaimana menjadi kaya instan, namun bukan belajar menjadi kaya,” kisahnya.

Beberapa lini usaha sempat dicobanya, termasuk trading saham dan berjualan domain name yang kala itu sedang popular. Toper mengaku telah mendapatkan profit yang lumayan, meski juga mengalami buntung beberapa saat kemudian. Masih merasa kurang pas, semua pengalaman berbisnis dan kinerjanya sendiri ia telaah lebih lanjut.

Sewaktu mencari ‘jati dirinya’ Toper kembali mengikuti kelas personal development. Ia mendaftarkan diri ke sebuah instusi pendidikan The Coaching Institute. Di sini dia dihadapkan oleh dua pertanyaan penting.

Pertanyaan Pertama:

“Apakah ada pekerjaan yang selama ini ingin dikerjakan namun tidak memiliki keberanian untuk mengerjakannya?”

Setelah mencoba menggali keinginannya, Toper teringat konon dirinya sangat ingin menjadi seorang pengajar. Ia pun menceritakan pengalaman pertamanya mengajar, yakni ketika duduk di bangku SMP, ada program dari sekolah yang membuat Toper secara sukarela menjadi pengajar Bahasa Inggris untuk tingkat SD di panti asuhan. Setelah mengajar, anak-anak tersebut mengucapkan terima kasih kepada dirinya “ini benar-benar fulfilled banget nih buat aku,” paparnya.

“Saya mencoba menggali lebih dalam lagi, ternyata yang menjadi hal terpenting adalah bukan mengajarnya namun menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada anak-anak tersebut bahwa masih adanya harapan dan banyak hal yang bisa dikerjakan oleh anak-anak tersebut di masa depan, Hope masih ada,” kata Toper.

Pertanyaan Kedua:

“Jika itu pilihanmu, apa buktinya jika kamu benar-benar ingin mengerjakannya?”

Saat ingin mendaftar ke universitas, dirinya diharuskan mendaftarkan 10 jurusan yang diinginkan. Toper menempatkan Early Childhood Education di nomor terakhir atas anjuran dan nasihat keluarga, padahal dalam hati kecilnya ia ingin mendalami jurusan tersebut.

Seperti kebanyakan dari kita, di posisi teratas, Toper menuliskan jurusan-jurusan yang lebih umum dan mudah mendapatkan pekerjaan.

Melalui dua pertanyaan di atas Toper merasa dibukakan pemikirannya. Dan ia pun bertekad untuk dapat membantu orang lain untuk mendapatkan pencerahan yang sama, terutama dalam menetapkan tujuan dan menggapainya.

Pelatihan Hidup

Sambil menyelam minum air. Sambil mempelajari life coaching, Christopher mempraktekkannya pada teman sepermainannya. “Terkadang saya suka memberikan satu sesi coaching gratis asalkan di-barter agar bisa bertemu dengan orang lain yang bisa memperluas network.” Untuk memperluas jejaring pertemanan, Toper hampir setiap hari mengikuti acara networking agar bisa mempromosikan jasa sebagai life coach. Usahanya ini akhirnya membuahkan hasil, klien pertama yang membayar adalah seorang atlit golf Australia yang ingin menjadi pemain golf profesional.

Tak kehabisan akal, Toper juga memberanikan diri melangsungkan training pertamanya di sebuah kafé dengan mengundang 20 orang teman-temannya. Sesi 2 jam ini mendapatkan feedback yang baik dan mereka yang hadir mendapatkan informasi yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, hal ini sangat memotivasi Toper untuk lebih maju.

Selang dua bulan kemudian, dua kliennya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak mereka. Bersyukur hal tersebut tidak membuat Toper goyah, melainkan semakin bersemangat untuk lebih memperbaiki dirinya. “Di sini memang entrepreneur journey mulai terasa, uang tabungan dari pekerjaan sebelumnya sampai habis,” akunya.

Hingga suatu saat bapak satu anak ini diperkenalkan dengan perusahaan Unilever Indonesia oleh teman lamanya, Satriya Anggoro. Lambat laun kiprah Toper di Ibu Kota semakin bertumbuh, dan ia pun mengembangkan sayap ke bidang konsultansi hingga saat ini.

Menilik balik pada pengalaman hidupnya, Christopher berpesan untuk teman-teman mahasiswa di Australia untuk selalu mengusahakan yang terbaik dan pantang berhenti mengejar mimpi. “Everyone is looking for a passion, the challenge is you never find it. Apa yang kita pelajari dan jurusan yang kita pilih di universitas bukan berarti itu adalah passion kita. Don’t get stuck to find a passion, apapun yang kita kerjakan kita harus tetap menantang diri kita sendiri tentang pekerjan atau usaha kita saat ini, sampai nantinya kita menemukan jawaban dimana sudah saatnya move on, di situlah passion kita,” tuturnya bijak.

Untuk mereka yang masih duduk di bangku kuliah, jangan hanya mempelajari ilmu akademis saja, akan tetapi belajar juga kedisplinnya, ketekunan dan perluas jejaring pertemanan. Passion comes after action so take a lot of action, I’m sure you will find what you really believe you are born for.

Berbagi Dengan Sesama

Salah satu hobi dari seorang Christopher Tobing adalah olaraga lari. Melalui berlari, ia terinspirasi untuk mendirikan sebuah aktivitas sosial yang ia beri nama NusantaRun.

NusantaRun adalah ajang penggalangan dana dimana masyarakat bisa berdonasi atau mensponsori para pelari untuk setiap jarak yang mereka tempuh. Siapapun boleh berpartisipasi sebagai donor atau pelari. Berlari di NusantaRun menjadi menarik karena bisa sekaligus mengunjungi berbagai tempat ikonik di Tanah Air, tentunya sambil mempromosikan hidup sehat.

Dana yang terkumpul kemudian diserahkan ke organisasi sosial yang membutuhkan.

Pada penghujung 2019 kemarin, NusantaRun mengadakan acaranya yang ke-7, yakni berlari selama 3 hari dari tanggal 6 – 8 Desember sejauh 133 km dari Gunung Kidul ke Ponorogo.

rr

Discover

Sponsor

Latest

Mempererat Bilateral Indonesia dan Northern Territory

Indonesia Diaspora Network (IDN) Australia kembali menyelenggarakan rangkaian webinar mereka. Kali ini, diskusi panel dilaksanakan oleh IDN Northern Teritorry (NT) dengan judul Building...

The Best Giving

Mari rayakan natal bersama BKS Victoria dan KJRI Melbourne pada: 7 Desember 2019, 5pmdi...

WASPADA DIRI DEMI TERHINDAR DARI HEPATITIS

28 Juli: Hari Hepatitis Dunia Seperti yang telah kita ketahui, Hepatitis merupakan penyakit infeksi pada hati yang diakibatkan oleh virus dan dapat menular. Saat ini...

NATAL BKS KJRI SEKALIGUS MELANTIK KEPENGURUSAN BARU

http://www.youtube.com/watch?v=pIKI6ywArjc Badan Kerjasama Gereja Indonesia (BKS) di Victoria bekerjasama dengan Konsulat Jenderal RI untuk wilayah Victoria dan Tasmania menggelar perayaan Natal yang bertempat di Crossway...

KETUA PPIA MONASH 2015/16 Aulya Salsabila

Tempat, tanggal lahir Jakarta, 28 Mei 1993 Kuliah Master of Corporate Environmental Management and Sustainability, Semester 2 Umur 22 tahun Hobi Bersepeda dan gaming (CS:GO) Genre musik favorit Indie-alternative-electronic-jazzy-pop-rock-folk-blues-kind-of-music. Oh, jangan lupa lagu-lagu...