Dalam rangka memperingati hari kesehatan mental sedunia yang nota bene diperingati setiap tanggal 10 Oktober, BUSET mengingatkan kita semua untuk rehat sejenak, memahami apa yang sedang kita rasa, mengungkapkan apa yang sedang bergumul di dalam hati, dan berusaha menjadi pendengar yang lebih baik lagi. Karena sesungguhnya, setiap rasa punya hak untuk dirasakan.

MERASA KUAT

Cut Sanny Fajarini

Kalau ngomongin titik terendah, aku pernah berada di titik terendah aku, dan baru-baru ini banget gara-gara pandemi. Apalagi kondisinya di Melbourne itu baru aja second wave, dan aku jadi ngerasa keadaan tuh makin nggak menentu, dan ini mempengaruhi decisions aku, mulai dari life decisions sampai hal-hal kecil kayak pulang ke Indonesia atau nggak. Mungkin pas first wave aku nggak sesedih ini karena aku yakin keadaan bakal jauh lebih normal, kita bakal balik ke keadaan normal, kita bakal bisa tetep ketemu sama orang-orang, dan bakal kuliah face-to-face lagi.

Tapi ternyata second wave, dan itu beneran harapan yang tadinya bisa melakukan semuanya normal jadi beneran musnah semua dan harus kembali lockdown dari awal.

Aku sempet ngerasain homesick juga gara-gara aku jauh dari keluarga dan aku ngerasa mungkin keadaan bakal lebih enak kalau misalnya aku satu atap sama keluargaku, aku bisa ngobrol sama mereka secara langsung, atau mungkin sesimpel makan bareng mereka. Tapi gara-gara Corona dan aku jauh, aku jadi gabisa catch up sama mereka secara langsung.

Ditambah lagi, teman-teman aku satu-per-satu juga pulang ke Indonesia, dan aku sedikit merasa sedih karena aku ngerasa ga bisa bikin mereka nyaman di tengah pandemi, di sini. Aku jadi sedikit nyalahin diri aku karena mungkin aku nggak bisa merangkul teman-teman aku dan salahnya aku lagi aku nggak mau ngomongin ini, aku nggak mau ngomongin kalau misalnya aku homesick ke keluargaku, aku juga nggak mau ngomongin kalau aku sedih teman-temanku pulang ke Indonesia. Karena, aku merasa orang-orang tuh sama-sama struggle menjalankan hidup di pandemi ini, jadi aku merasa nggak bisa ngeluh ke mereka karena yang ada aku malah bikin mereka tambah capek dan tambah kepikiran juga karena sejujurnya di tengah pandemi ini banyak yang dipikirin orang-orang kan, dan aku ngerasa aku lemah kalau misalnya aku ngomongin emosi yang aku rasain ke orang orang terdekat aku.  

Aku inginnya mereka tahu kalau aku tuh tenang-tenang aja, aku tuh biasa aja, dan aku tuh ngejalanin ini dengan sangat baik, dan … aku jadi menaruh banyak pressure di diri aku. Di situ aku berasa di titik terendah sampe aku ga bisa tidur, dan somehow aku juga malas ngelakuin apapun semaksimal dulu gitu karena aku benar-benar sesedih itu gara-gara pandemi ini.

Terus, cara aku nge-overcome ini adalah ternyata, aku memberanikan diri buat cerita ke orang-orang, ke keluargaku kalau aku kangen mereka, atau ke teman-teman kalau aku tuh sedih ditinggal mereka. Dari situ ternyata aku jadi menemukan kekuatan, aku jadi menemukan alasan buat bangkit, karena ketika sharing ternyata teman-teman aku juga beneran nge-support aku dan aku jadi tidak merasa lemah sama sekali dengan aku cerita.

Mungkin salahnya kita atau aku adalah aku nge-pressure diri aku, mengganggap kalau aku harus menjalani hidup secara normal di tengah pandemi, padahal sulit, dan nggak ada salahnya juga kalau kita cerita ke satu sama lain dan ke teman-teman kita. 

KARENA KEPEPET

Bryan Anderson

Titik terendah dalam hidup gua, ya. Sebenarnya ketika masih kuliah itu banyak sekali titik-titik terendah. Salah satunya yang menurut gue paling berkesan adalah ketika ada dimana satu bulan gua baru kena tilang, dapet fine gede banget, you know in Melbourne when you break a speed limit you can get like really really big fines.

Gue saat itu kena tilang, gue quite struggling with uni as well, dan saat itu bukan hanya bergumul dengan mental health, gue juga bergumul dengan masalah ekonomi. Jadi mau nggak mau I have to switch my mentality to survival mode, dimana gue harus survive di saat itu. 

So, ketika gue tau gue harus survive di sini and you know I was raised by quite a strict parent, mereka orang Kalimantan jadi orang-orang pulau itu keras ya pendidikannya, jadi I need to make my own moneySo, I bring my CVI have to spread it around ….

Dari 30 CV yang gue bawa, cuma ada satu yang balik dan itu dari toko ikan. So, I worked di toko ikan selama kurang lebih satu bulan, bangun jam 7 pagi kelar jam 8 malam, se-13 jam gue kerja disitu, dan gue masih ada uni saat itu, 13 jam, 3 sampai 4 kali selama seminggu. Itu very very exhausting but I was proud of it I am able to pull it through.

Gue punya uang untuk beli grocery selama sebulan itu, dan ketika gue looking back right nowyeah, like everything is possible when ‘lu kepepet’. Jadi, with corona pandemic situation, I’ll be like, bring it on, let’s go, let’s do it. 

The happiest person in the world, the people with the most smile, the people with funny attitudes, great vibes, is probably the most depressed person that ever lived.

Jadi, look out for people that you feel butuh perhatian, yang butuh sedikit ditanya, kayak, “how are you?” “are you okay?”. 

Pertanyaan kecil seperti itu, it will mean a lot for themSo, for everyone out there that is struggling with mental health, jangan menarik diri lu dari komunitas, jangan terus-terusan memendam diri dan perasaan lo di dalam diri lo sendiri.

Ayo, keluar sana, cari komunitas positif. You know, be vulnerable with people and trust me it will really really help you a lot. 

Jangan pernah menanggap ini sebelah mata, literally, if you need help, if you need someone to talk to, I’m here, like give me a call, I’ll be more than happy to talk to you.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here