Baru-baru ini sembilan mahasiswa dari beberapa universitas di Melbourne mendapatkan kesempatan istimewa mendengarkan tips dari Patrick Christian, seorang warga negara Indonesia yang sudah menetap di Australia sejak 2010 dan berbekal pengalaman kerja dalam bidang auditing.

Beliau merupakan Chief Compliance Officer untuk Daimler Truck and Bus Australia and Pacific, sebuah perusahaan otomotif dengan berbagai portfolio, termasuk mobil penumpang & van (Mercedes Benz), bus dan truk (Mercedes, Freightliner, Fuso) dan juga financial service (berupa loan dan financial loan & leasing untuk pembelian mobil/van/truk). Dalam posisi tersebut, Patrick memiliki tugas untuk mengaudit langkah yang diambil dalam perusahaan tersebut  termasuk seperti menegakkan anti korupsi & anti penyuapan, due diligence, mengurus sanction lists dan data protection.

Sebelum bekerja di industri otomotif, Patrick sudah berbekal pengalaman ketika bekerja sebagai seorang auditor di beberapa perusahaan termasuk 2 dari top 4 perusahaan akuntan, Deloitte di Amerika Serikat setelah lulus dari kuliahnya di Indiana University Bloomington. Ia lalu bekerja di Ernst & Young di Perth serta Sampoerna di Indonesia.

Selama bekerja di Deloitte, awalnya Patrick menduduki posisi sebagai seorang public auditor. Di sana ia menemukan sebuah program bernama Financial Advisory dimana ia berpapasan dengan konsep peraturan Foreign Corrupt Practices Act, yakni aktivitas korupsi yang dilakukan dalam perdagangan, seperti penyuapan. Dari sana ia mendapatkan ketertarikan dan mendalami tentang hal tersebut.

Patrick Christian

Alumni Kolese Kanisius tersebut juga mengungkapkan motivasinya untuk memberikan pandangan dan tips dalam mencari kerja. “What motivated me? Kalau di sini I saw a lot of Indonesian students, kita banyak resources. Cuman sayang kurang digalakkan. Dulu kita kendalanya cari kerja bingung mau nanya siapa. I learned it the hard way. Kalau bisa ada share untuk bantu-bantu orang, biar tidak terlalu bingung sekali,” tutur alumni Indiana University Bloomington jurusan Finance, Accounting & International Studies itu.

Menjaga Pikiran dan Karakter

Patrick menekankan bahwa dalam mencari sebuah pekerjaan, seorang mahasiswa harus berusaha mendaftar sebanyak-banyaknya. Karena dengan demikian, itu bisa meningkatkan kesempatan seorang aplikan untuk dipanggil interview. Dan seorang aplikan juga harus memiliki pikiran yang terbuka. “Kalau kamu mau kerja apa, don’t limit yourself. Harus open minded ya kalau namanya kerja. One thing leads to another. Kalau kamu belum pernah coba tapi sudah judge that’s not for me, I don’t like it hanya karena udah dengar cerita dari orang ngomong, yang limit kamu ya kamu sendiri,” paparnya.

Pria kelahiran Jakarta tersebut pula membagikan pandangan bahwa salah satu hal penting yang sangat dicari dari perusahaan di Australia adalah perilaku dari seorang aplikan. “Show up on time gak, showing courtesy, respecting other people, antusias dalam proyek gak, teamwork,” tegasnya. Hal ini dapat terbentuk melalui pengalaman kerja. Dan tidak tidak mesti selalu di industri yang relatif dengan apa yang dicari. Bahkan dari sekedar part time. Pentingnya work experience dan attitude ini bisa mendeterminasikan apakah seorang kandidat bisa mendapatkan referensi yang baik dari atasan tempat kerja lama.

Hal ini juga akan memberikan perusahaan perspektif tentang seorang kandidat di mata atasan di tempat kerja sebelumnya. Untuk mendapatkan referensi ini, Patrick menyarankan agar bertahan lebih lama dalam pekerjaan yang mereka tekuni selama pencarian. “Make sure you keep it for a long time, jangan cuman dua tiga bulan berhenti. How do I know kalau kamu diberhentikan atau berhenti sendiri,” ucap pria yang pernah bekerja di General Motors selama 5 tahun. Ketika ditanya apakah referensi kerja dari Indonesia dapat diterima seorang calon employer di Australia, ia menuturkan idealnya referensi kerja dari Australia lebih baik namun jika memang tidak ada, referensi kerja dari Indonesia masih bisa dipertimbangkan.

Selama proses mengaplikasi, sebaiknya seorang mahasiswa juga melatih keterampilannya dalam sebuah waawancara kerja. “Kalau kamu ada teman yang mau interview, pair up. Gantian minta tolong tanya. List up questions. Makin kamu practice, makin biasa,” pria yang sekarang berstatus Permanent Resident tersebut menyarankan. Jikapun menghadapi penolakan, sebaiknya harus cepat move on dan cari yang berikutnya. “Satu application job bisa berapa, 5-10 menit. Kalau ditolak paling dapat email rejection letter. Nothing to lose. Yang ada ya sacrifice waktu. Kalau kamu serius masa depan, harus invest di waktu sekarang,” tambahnya.  Patrick pun kembali menekankan tentang pentingnya latihan. “Kalau kamu sudah dipanggil interview, that means you pass the first thing. Kalau interview faktornya bukan CV kamu, tapi how well you do the interview, kalau itu you have to keep practicing.”

Manfaatkan Platform

Penyandang titel MBA di UNSW tersebut juga menemukan adanya perbedaan budaya ketika bekerja di Australia. “Kadang beda sama orang Indonesia, orang di sini berani nanya. Kalau kamu tidak tahu, kamu nanya,” ujarnya. Menurutnya, bertanya adalah salah satu bentuk komunikasi dengan seorang atasan dan hal tersebut penting dan dihargai dalam lingkungan kerja di Australia. Hal ini dapat mencegah masalah dimana karena seorang karyawan tidak berani bertanya tentang kendala yang dialaminya dalam sebuah proyek kepada seorang atasan, dapat membahayakan proyek tersebut.

Berbagi pengalaman dan motivasi

Berdasarkan pengalamannya sebagai pembicara, salah satunya untuk CPA Australia, Patrick menyayangkan kurang aktifnya mahasiswa Indonesia dalam mengikuti acara jobs talk dibanding mahasiswa internasional lainnya seperti dari Malaysia, India atau Tiongkok. Maka dari itu, Patrick menyarankan mahasiswa Indonesia di Australia untuk lebih berani menambah jaringan di luar pergaulan sesama orang Indonesia.

Salah satu platform yang harus lebih dimanfaatkan mahasiswa Indonesia adalah career centre di Universitas mereka. Dengan berkonsultasi ke career centre, mahasiswa dapat melakukan perencanaan karir yang lebih mantap contohnya bagaimana membuat resume dan CV yang efektif.  LinkedIn juga menjadi alat yang bisa dimanfaatkan untuk menambah koneksi. Bahkan bisa saja sebelum proses interview, kalian bisa saja mencari tahu background sang interviewer dan menemukan hal yang berhubungan baik mutual friend ataupun background yang mirip. Hal seperti itu bisa menambah impresi yang baik bagi sang kandidat di mata seorang employer.

Sebelum mencemaskan soal adanya atau tidak peluang untuk disponsori oleh sebuah perusahaan di Australia, Patrick menekankan untuk terlebih dahulu fokus dalam mendaftar kerja untuk sebuah perusahaan dan memberikan yang terbaik jika sudah terpilih. Karena ada besar kemungkinan sebuah perusahaan memilih untuk mensponsori seorang karyawan jika mereka sudah tahu karyawan tersebut telah memberikan yang terbaik. “Kalau kamu intern dan kerjanya bagus, secara umum company akan sponsor. The cost of me jika kamu pergi and retrain orang lain belum tentu sebagus kamu,” ujar Patrick tentang pertimbangan yang bisa dilalui sebuah perusahaan dalam mensponsori mahasiswa internasional.

Apa Kata Mereka

Devin Widjaja, mahasiswa RMIT University jurusan Economics and Finance

Dari ini jadi lebih terbuka ya. Karena dapat insights seperti apa dunia kerja di Australia. Lalu juga tips untuk daftar pekerjaan dan mengetahui apa yang dicari oleh recruiter. Mau melihat lebih banyak acara seperti ini yang lebih besar buat mahasiswa Indonesia di Melbourne. Karena sebenarnya di RMIT sendiri ada job shop yang menawarkan hal serupa. Tapi kalau ada contoh orang Indonesia yang sudah sukses dalam karir profesionalnya, jadi merasa lebih optimis kalau aku juga bisa.

Kevin Praditra, mahasiswa Monash University jurusan Finance

Gua tau acara ini lewatnya promosi di Instagram. Kebetulan waktu itu lagi gak sengaja ngeliat storynya Devin (salah satu organizer event ini) dan jujur setelah baca detail eventnya tertarik untuk ikutan, jadi daftar deh. All in all menurut gua info sessionnya asik banget dan juga useful. Asik karena walaupun topik yang dibacain notabene lumayan serius, tapi kita ketemuan di Yoi dimana suasananya santai banget, dan kita juga discuss most of it over food and coffee. Sehingga semakin nyaman aja untuk saling “sabet-sabetan” pendapat dan pertanyaan. Juga useful in a sense that semua yang kita obrolin itu pada dasarnya adalah tips dan informasi yang bakal kepake untuk mahasiswa (terutama mahasiswa Indonesia) yang sebentar lagi akan lulus dan akan mencari kerjaan, ataupun yang masih trying to decide what they want to do for their careers. Gua info session seperti ini sebaiknya diadakan lebih dalam skala yang mungkin lebih besar (i.e. 15-20 participants per session). Karena menurut saya ini salah satu cara untuk mahasiswa untuk semakin tahu seluk beluk dunia kerja, yaitu langsung dari yang berpengalaman. Dan lagi, ajang seperti ini juga bagus untuk menambah network.

Natasha Antoni, mahasiswi jurusan master of Business di Monash University

Tahu acara dari Instagram story teman. The event was casual which was really good because students are able to comfortably ask questions to the guest speaker. There were a lot of valuable insights on the different types of workplaces (MNCs, Local firms, Start-Ups) regarding their environments. Having an Indonesian guest speaker who we can relate to is truly helpful. We can gain knowledge from their experiences and understand what’s expected of us as fresh graduates.

Denis