Senyum ramah tergambar di wajah Mada, Reuben dan Mikha saat ditemui awak media dalam konser amal Indonation ‘Open Heart, Open Mind’ di Melbourne. Ketiganya berbagi dua kesamaan: nama belakang dan anggota dari The Overtunes, band Indonesia sejak tahun 2013.

Meskipun tidak bulat-bulat berencana berkarier di dunia musik, anggota dari band yang tergabung dalam Sony Music Entertainment Indonesia ini akhirnya terlibat di dalamnya setelah salah satu personilnya, yaitu Mikha, mengikuti ajang pencarian bakat X Factor Indonesia musim pertama.

“Kita tidak terlalu pilih suatu hari mau berkarir di dunia musik karena kebetulan dari usia remaja suka menulis lagu dan main instrumen atau main musik,” kata Reuben, anak kedua dari keluarga Brahmantyo itu.

“Tapi waktu Mikha umur 16 tahun dia ditawarkan kontrak sama Sony Music dan dari situ jadi ‘terjerumus’, mungkin ya, jadi harus main musik profesional di usia itu dan mungkin semakin ke sini bisa lebih menerima. Jadi profesional meski awalnya tidak terlalu dipikirin.”

SATU DARAH, SATU BAND

Hobi bermusik dan menulis lagu menjadi faktor pendukung menurut Mikha, mengapa ketiganya dapat terjun ke dunia musik sebagai sebuah band.

“Mungkin berawal dari hobi kita bertiga kakak beradik kan ya, jadi dari kecil misalnya salah satu dari kita, Reuben belajar main gitar, jadi otomatis aku minta diajarin sama dia,” ungkap personil The Overtunes yang berusia 22 tahun itu.

Awal-awalnya The Overtunes adalah mungkin pas kita memutuskan untuk buat lagu sendiri. Kayaknya itu hobi kita yang terbawa sampai sekarang. Jadi kita adalah a group of songwriters dibanding penampil banget.”

Mikha menemukan tantangan dalam bermusik bersama saudara kandung namun mengerti hubungan damai di antara ketiganya lebih penting dari karir.

“Kayaknya sih challenge-nya adalah mengutamakan keluarga di atas karir. Kayak melihat, misalnya kita di lingkungan band tapi bisa respect decision Reuben sebagai kakak walaupun itu merugikan band. Tapi ya as a brother good move begitu.”

Reuben pun setuju dengan pernyataan adiknya. Ia mengatakan dengan semakin bertambahnya umur, ketiganya semakin dewasa dan lebih memaklumi perbedaan pendapat satu sama lain.

“Mungkin sadar terlalu konyol untuk berantem dan bermusuhan kakak adik cuma gara-gara musik atau cuma gara-gara selera musik mungkin dulu kita lebih kayak, ‘apaan sih Mada bikin lagunya kayak begini terus nih?’ Sekarang kita mungkin lebih bisa menerima satu sama lain, semoga sih. Kalau dulu berantemnya mungkin lebih konyol lah.”

MUSISI DAN MUSIK

Di tengah mendunianya musik barat di Indonesia, Reuben berharap agar penyanyi dan pemusik Tanah Air tetap menyadari keunikan mereka sebagai orang Indonesia.

“Semoga musisi lokal semakin menyadari keunikan yang mereka punya karena mereka orang Indonesia. Jadi untuk bisa menerima saja kita memang tidak punya pandangan dunia barat. Kita memang orang Indonesia. Jadi tidak usah takut untuk mengekspresikan ke Indonesiaan-nya.”

Hal tersebut menurutnya adalah karena sampai batasan tertentu, karya dari musisi, penulis, seniman dan lain-lain asal negara tertentu pasti irelevan untuk beberapa budaya lain.

Keunikan dari pemusik itu sendiri menjadi nilai jual bagi Mikha yang mengatakan bahwa saat ini pemusik rata-rata mengejar keinginan untuk viral dan terkenal di seluruh dunia padahal tidak semestinya.

“Kayaknya kalau dipikir-pikir lagi musisi itu paling berguna kalau dia bisa meng-entertain atau membuat karya dari lingkungan terdekatnya sih. Malah sayang, kita sebagai musisi bikin lagu kita yang adjust ke pikiran orang dan akhirnya semua jadi sama.”

Dalam hal bagi tugas, The Overtunes punya cara tersendiri sebagai kakak beradik yang sudah mengenal satu sama lain selama belasan tahun. 

“Kalau songwriting, Mada suka menulis lirik juga. Kita bertiga cukup tulis lirik, cuma biasanya Mada tidak langsung ada musiknya. Jadi terkadang dia kalau nulis lirik sama kita untuk buat musiknya.”

“Kalau Mikha into producing banget, jadi selain The Overtunes dia juga produce musik artis-artis lain di Indonesia. Mada juga stylist most of the times,” kata Reuben yang menjelaskan dengan penuh antusias.

“Dan kita pun kalau nyanyi lucunya kebagi range-nya, kayak cukup natural. Saya suaranya cukup berat, Mikha di tengah-tengah dan Mada agak lebih tinggi. Kalau kita bagi accordingly saja suaranya agak gimana, karakternya gimana, siapa yang nyanyiin.” 

Konser di Melbourne yang baru ia jalani 30 menit sebelum sesi wawancara dengan awak media itu menariknya merupakan pengalaman manggung dan berpergian sebelumnya yang paling berkesan untuk Reuben. 

“Kali ini trip nya berkesan banget karena biasanya kita walau keluar kota di Indonesia pun suka tidak sempat travel jalan-jalan kali ini sempet keliling kota, malah jadi bisa ngerasain suasana kota sebelum naik panggung. Lebih berkesan sih. 

“Biasanya lebih ke pergi pagi pulang pagi. Rasanya lebih gitu, sekarang lebih enak.”

Bagi Mikha, bahkan pengalaman tampil di Melbourne tersebut mungkin saja dapat mengalahkan perasaan mendapatkan penghargaan.

“Momen-momen panggungnya kalau pas dapat panggung santai kayak itu jarang biasanya, kemarin-kemarin lebih banyak pensi, kalau ini terasa asik ya main musik di depan audiens itu, jadinya itu sih termasuk highpoint. Kalau menang awards ga se-satisfying itu sih.”

Nasa