The Queens in Politics Against Covid-19

0
226

Bulan Juni identik dengan Queens Day di Australia, oleh karena itu tulisan dalam edisi saat ini didedikasikan bagi para ratu dunia politik dan segala kinerja mereka dalam melawan Covid-19. Sampai tulisan ini dibuat, Covid-19 telah menginfeksi 5,4 juta jiwa di seluruh dunia dengan angka kematian 340 ribu jiwa. Keganasan pandemi ini membuat seluruh pemimpin dunia dituntut untuk berpikir keras, bertindak cepat dan tepat. Di antara para pemimpin tersebut terdapat sederetan nama pemimpin perempuan.

Sejauh ini berbagai sumber telah menyatakan bahwa negara dengan pemimpin perempuan telah melakukan pekerjaan luar biasa terhadap Covid-19, berikut adalah fakta-faktanya.


KERJA TEAM

Gladys Berejiklian, Annastacia Palaszczuk

Diketahui dari www.liputan6.com bahwa Covid 19 di Australia lebih dahulu menjinak di negara bagian New South Wales, Victoria dan Queensland. Dua Premier (Pemimpin Negara Bagian/PM) dari ketiga wilayah tersebut adalah perempuan. Tentu Setiap negara bagian dan teritori memiliki kebijakan yang berbeda tentang penanganan Covid-19 namun dalam hal ini Premier Gladys Berejiklian di New South Wales dan Annastacia Palaszczuk di Queensland, dengan segera melaksanakan protokol karantina wilayah dan penutupan perbatasan yang telah disepakati oleh pemerintah Federal Australia.

Saat Premier yang lain masih mempertimbangkan banyak hal, kedua Premier perempuan ini justru segera mengeksekusi protokol tersebut dengan pertimbangan kepercayaan pada kekuatan Team WorkKarena mereka percaya bahwa peraturan yang dihasilkan oleh federasi adalah pertimbangan dari semua mentri dan Premier yang menghadiri rapat nasional tersebut sehingga tidak perlu dipertimbangkan kembali tetapi justru harus segera dilaksanakan.

TURUN ISTANA

Negara-negara di Skandinavia seperti Swedia, Denmark, dan Norwegia juga tengah menghadapi wabah virus Corona. Di tengah perhelatan Skandinavia melawan Covid-19, nampak aksi Putri Sofia, istri Pangeran Carl Phillip dari kerajaan Swedia yang menjadi relawan medis. Putri Sofia tidak memiliki latar belakang pendidikan medis lalu menjalani program pelatihan darurat. Hal ini dilakukannya atas kesadaran terhadap tingginya tekanan beban kerja tenaga medis. Adapun hal-hal yang dilakukan Putri Sofia di Rumah Sakit Sophiahemmet, Stockholm, Swedia adalah menjadi tenaga dapur, cleaning service instrumen medis hingga ruangan-ruangan rumah sakit.

Tindakan Putri Sofia ini kemudian mendorong lebih banyak anak muda untuk menjadi relawan medis di berbagai rumah sakit untuk meringankan beban kerja tenaga medis. Diketahui dari berbagai sumber bahwa Swedia tidak melakukan karantina wilayah maupun pembatasan sosial berskala besar tetapi angka infeksi Covid-19 tetap terkendali karena kesadaran diri yang tinggi dari masyarakatnya. Kesadaran tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kerajaan telah melindungi masyarakatnya kerena itu masyarakat pun harus bertindak mandiri untuk melindungi kerajaan termasuk Putri Sofia yang saat ini masih setia menjadi relawan Covid-19.


CEPAT TANGGAP

Hanya berjarak 130 kilometer dari daratan Tiongkok, Taiwan secara mengejutkan melaporkan jauh lebih sedikit kasus ketimbang negara tetangga lainnya. Presiden negara tersebut adalah Tsai Ing-wen. Beliau telah memiliki respons sangat cepat yang patut dipuji terhadap pandemi ini. 

Saat berita tentang virus corona mulai muncul di Wuhan-Tiongkok pada Desember 2019, para petinggi di Pusat Komando Kesehatan Nasional (NHCC) Taiwan langsung bergerak cepat di bawah instruksi Presiden Tsai Ing-Wen. Saat negara lain masih bersantai-santai meremehkan Virus Corona, di Taiwan justru semua perusahaan dan pabrik farmasi diperintahkan untuk meningkatkan produksi perlengkapan medis anti virus, masker, sanitizer, disinfektan, dan vitamin pemicu antibody.

Selain itu, penerbangan keluar-masuk Taiwan terkhususnya penumpang asal Tiongkok segera dibatasi sejak bulan Januari. Presiden juga memerintahkan kerjasama kementrian kesehatan dan pendidikan untuk mengedukasi masyarakat disemua tingkatan usia terkait virus Corona hingga pencegahannya.

INISIATIF INDEPENDEN

Ketika banyak negara masih kebingungan menantikan instruksi WHO terkait tindakan pencegahan yang aman untuk melawan Covid-19, Selandia Baru justru telah lebih dahulu berinisiatif melakukan pembatasan sosial sejak awal Februari 2020.

Perdana Mentri (PM) Jacinda Ardern berani mengambil keputusan deklarasi darurat nasional Covid-19 tersebut bahkan di tengah kalang-kabutnya negara yang kala itu baru saja dilanda bencana gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitud yang menewaskan sekitar 200 orang.

Juga segera mengeluarkan instruksi pembatasan terbang kepada semua maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang memasuki Selandia Baru. PM Ardern mewajibkan isolasi mandiri kepada warga maupun pendatang yang tiba di Selandia Baru ketika negara itu baru mencatat 6 kasus positif Covid-19. Setelahnya, ia memblokade akses pendatang luar negeri ke Selandia Baru. Selandia Baru, dengan populasi sekitar 5 juta orang, diketahui memiliki lebih sedikit infeksi virus corona dibandingkan dengan negara lain.

MERATAKAN KURVA

kiri ke kanan: Angela Merkel, Sanna Marin, Katrín Jakobsdóttir, Erna Solberg

Diketahui sebelumnya bahwa Tiongkok dan Korea Selatan merupakan dua negara yang berhasil melakukan program ‘Meratakan Kurva’ grafik penyebaran wabah Covid-19 dalam skala nasional. Namun baru-baru ini, dipaparkan oleh www.matamatapolitik.com bahwa negara-negera dengan pemimpin perempuan berikut ini juga berhasil memenuhi target ‘Flattening the Curve’.

Negara-negara tersebut adalah Jerman yang dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel, Finlandia dipimpin oleh PM Sanna Marin, Islandia dibawah pimpinan PM Katrín Jakobsdóttir dan Norwegia dalam pimpinan Erna Solberg.

Jerman tidak pernah menutup-nutupi informasi seperti yang mungkin lakukan negara lain. Merkel segera melakukan uji tes swab secara masif sejak awal kepada semua warganya yang berada di zona merah. Upaya ini berhasil menekan angka kematian akibat Covid-19 dan membuat angka terinfeksi dan angka kematian di Jerman jauh lebih rendah dari negara Eropa lainnya seperti Perancis, Italia dan Spanyol.  

Sementara itu, dari TIME diketahui bahwa Finlandia, Islandia dan Norwegia memakai pendekatan teknologi-komunikasi dalam menanggulangi Covid-19. 

  • Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin secara sederhana memanfaatkan teknologi dengan merangkul influencer milenial untuk mengedukasi mengenai penyebaran Covid-19 dengan pertimbangan bahwa tidak semua warga menonton televisi karena lebih suka berselancar di media massa. Marin juga menerapkan karantina wilayah dengan ketat sejak akhir Maret lalu. Bahkan, ia juga tak segan meminta Korea Selatan untuk membantu menegakkan tes corona bagi warga mereka dengan memperbanyak rapid tes.  
  • Islandia: Sadar bahwa jumlah penduduknya hanya 364.134 jiwa, PM Katrín Jakobsdóttir segera memberikan layanan tes corona gratis kepada seluruh warga dan memperkuat sistem pelacakan JPS menyeluruh terhadap seluruh warganya. Data yang dihimpun dari hasil tes itu digunakan untuk mengetahui penyebaran dan tingkat fatalitas virus secara faktual. 
  • Norwegia yang pada tanggal 17 Maret 2020 sempat menjadi episentrum, tidak lagi main-main dalam melawan Covid-19. Karantina wilayah dapat dilakukan dengan ketat tanpa perlawanan masyarakat karena pemerintah Norwegia menyepakati “krisepakke” (bantuan dana paket krisis) besar-besaran bagi masyarakat yang membutuhkan. Dana tersebut diambil dari tabungan negara yaitu “Oljefunn” (Dana Minyak / Dana Pensiun Nasional). Sejak 1980-an Norwegia mendirikan lembaga keuangan ini yaitu penyimpanan keuntungan ekspor minyak. Penggunaannya sangat amat ketat, setiap tahun hanya dapat dipakai maksimal 3% dari nilai keseluruhannya, tetapi kini digunakan oleh PM Erna Solberg untuk menunjang kehidupan rakyatnya selama wabah Covid-19.

BERSUARA LEWAT POWER

kiri-kanan: Khofifah Indar Parawansa, Sri Mulyani, Retno Marsudi, Tri Rismaharini , Najwa Shihab

Di Indonesia, baru-baru ini www.alinea.id merilis figur perempuan tervokal atau top influencer yang banyak dikutip pernyataannya oleh media online sepanjang masa pandemi.

  • Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menjadi figur perempuan tervokal pertama di media online. Mantan Menteri Sosial ini, konsisten menyerukan pentingnya social distancing kepada masyarakat termasuk mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif, khususnya bagi korban pasien coronavirus, dan para tenaga medis. Selain itu, Khofifah juga berjuang terus agar kesediaan alat kesehatan dan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis di wilayah Jawa Timur bisa tercukupi. 
  • Posisi kedua ialah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menghiasi 4.279 berita di media online terkait kebijakan ekonomi dan keuangan untuk menghadapi dampak ekonomi akibat penyebaran Covid-19. Salah satu kebijakannya yang menuai banyak perhatian yakni mencairkan Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan Rp 16,4 triliun hingga perluasan insentif pajak di 11 Sektor sekaligus.
  • Figur ketiga ditempati oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ia tampil di 1.774 berita terkait isu coronavirus. Retno aktif menjaga kemitraan RI dengan negara-negara lain guna menjamin keamanan lalu lintas manusia antarnegara serta rantai pasokan alat kesehatan dalam menghadapi wabah Covid-19. Selain itu, Retno bersama kementerian yang dipimpinnya terus memantau Kesehatan WNI yang berada di luar negeri.
  • Posisi keempat ditempati Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma, sapaan akrabnya, diberitakan sebanyak 1.678 di media online terkait isu coronavirus. Risma mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di Surabaya, seperti Protokol Pengendalian Mobilitas Penduduk dan lain sebagainya.
  • Berikutnya ada Najwa Shihab yang memang bukanlah insan politik tetapi siapapun juga tahu bahwa Najwa sering sekali ‘mengganggu’ berbagai kebijakan politik yang digalangkan pemerintah. Jika kebijakan tersebut pro-rakyat maka Najwa akan pro pada kebijakan itu, dan sebaliknya. Pengaruhnya di dunia pertelevisian digunakannya untuk mendukung sekaligus mengkritisi berbagai kebijakan dan protokol kesehatan nasional dalam melawan Covid-19.

Demikianlah pemaparan fakta para ratu politik dari berbagai belahan dunia, semoga dapat mengispirasi atau bahkan mengadopsi tindakan mereka untuk melawan Covid-19.

Happy Queens day!


Leny

[1] Dari Berbagai Sumber