Mulai merasa stres dengan examination yang ada di depan mata? Mungkin ada dari kalian yang masih kebingungan tentang apa yang harus di-expect dari sebuah ujian? Untuk menjawab kebingungan kalian, BUSET sempat berbincang dengan dua orang lecturer, yaitu Dr. Sherah Kurnia, Dosen Computing and Information Systems di University of Melbourne, serta Dr. Ir. Yuskar Lase, Dosen Teknik Sipil di Universitas Indonesia mengenai seluk-beluk ujian. Simak apa kata mereka tentang exam! 


Exam
dan Assignment

Ujian maupun tugas tidaklah dibuat semata-mata untuk menyusahkan murid. Sebaliknya, kedua hal tersebut menjadi penting demi mencapai target dari setiap subject yang telah dirancang oleh universitas. “Selain itu, tentunya lecturer juga mengharapkan adanya pengembangan general knowledge yang mampu diterapkan pada bidang-bidang lainnya,” ujar Sherah. Pengembangan kedua skill tersebut didapatkan melalui ujian dan tugas.

Hal di atas diamini Yuskar yang menjelaskan bahwa tugas diberikan sebagai alat latih kemampuan siswa untuk mencapai level yang ditentukan, sedangkan ujian dipakai sebagai alat evaluasi dan pengukur kemampuan mahasiswa.

Melalui tolak ukur tersebut, sebagai seorang dosen, Yuskar pun berharap agar dapat melihat kemajuan para mahasiswanya. “Setelah mengajarkan matakuliah/subject selama 1 semester, setiap dosen/lecturer mengharapkan seluruh mahasiswanya/muridnya mendapatkan “hard skill” dan “soft skill” sesuai dengan level kemampuan yang telah dirancang sebelum kuliah.”

Tips Menjawab Exam

“Apa sih ekspektasi seorang dosen dari sebuah jawaban ujian?”

Kedua dosen lantas menyampaikan dua hal penting yang dicari dalam sebuah jawaban yang baik: komprehensif serta berstruktur baik.

1.      Jawaban yang Tepat Sasaran

“Jawaban yang baik dapat menunjukkan level kemampuan mahasiswa secara menyeluruh,“ papar Yuskar. Dengan kata lain, sebuah jawaban harus sesuai dengan tujuan dari ujian itu sendiri, yaitu menunjukkan kemampuan kita sebagai siswa. “Jawaban harus mampu mengungkapkan ide-ide serta penguasaan murid terhadap topik tersebut,” lanjutnya lagi. Jadi, mulailah kembangkan pemahamanmu dengan mengaplikasikan teori secara tepat dan spesifik pada setiap pertanyaan.

2.      Planning yang Baik

Salah satu masalah yang ditemukan Sherah adalah kurangnya penguasaan murid dalam teknik planning untuk menjawab ujian. “Akibat hal ini, tak jarang kita temui murid yang pandai namun tetap mendapat nilai yang kurang baik,” ujarnya. Menurut Sherah, planning yang baik membutuhkan penataan struktur dan waktu secara seksama.

Struktur. Perlu diingat bahwa pemeriksa exam harus memeriksa ratusan lembar jawaban sekaligus dalam waktu yang terbatas. Sebuah jawaban harus memiliki struktur yang jelas agar keseluruhan ide dapat ditangkap oleh pemeriksa. “Cara terbaik adalah dengan menggunakan bullet points. Jika sudah terlanjur, garis-bawahilah keywords untuk menonjolkan ide utama yang ingin disampaikan,” jelas Sherah. Hindarilah penjelasan tak berfokus karena hal-hal yang tidak relevan tidak akan dihiraukan oleh pemeriksa!

Waktu. Murid harus mampu membagi waktu yang cukup bagi setiap pertanyaan, serta memberi proporsi waktu yang lebih banyak untuk pertanyaan bernilai tinggi. Sherah turut menyarankan adanya penggunaan waktu efektif untuk merencanakan dan mengecek ulang jawaban. “Plan jawaban saat reading time serta sisakan 15-20 menit terakhir untuk memeriksa kembali seluruh jawaban. Dengan perencanaan seperti ini, tidak akan ada kepanikan karena kehabisan waktu atau perkiraan waktu yang meleset,” katanya.


Persiapan Exam

Kedua dosen sontak menjawab persiapan ujian terbaik adalah dengan pembelajaran konsisten selama satu semester. Sebagai murid, kita harus mempersiapkan waktu yang cukup untuk menguasai seluruh materi dari lecture, tutorial maupun reading sehingga tidak menjadi beban di akhir semester. Menurut Sherah, “persiapan exam hanyalah sebatas revision saja, bukan mencari maupun mempelajari hal-hal baru lagi.”

Walaupun past exam dianggap dapat membantu persiapan ujian, Yuskar berpendapat bahwa hal tersebut tidaklah esensial. “Past exam hanyalah alat taktis dalam persiapan ujian, namun tidak dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan,” tambah beliau. Yang pasti, sistem kebut semalam (SKS) bukanlah pilihan yang baik. “Ujian merupakan noktah dari sebuah garis proses. Tidak ada proses yang ‘instant’,” tegasnya.
 

Jangan Hanya Asal Lulus!

Hal terpenting untuk diingat adalah, janganlah belajar demi ‘asal lulus’. Kedua narasumber mengaku sedih atas kondisi tragis ini. “Seakan-akan pendidikan hanya dipandang sebagai komoditas berdasarkan pendekatan cost-benefit saja,” ujar Yuskar, “Padahal dalam perjalanan sejarah manusia, selain agama, hanya pendidikanlah yang dapat memajukan peradaban, budaya dan teknologi. Melalui pendidikan, karakter seorang individu dan sebuah bangsa dapat dibangun menuju nilai-nilai yang semakin memanusiakan manusia.”

Senada dengan Yuskar, Sherah berpendapat jika proses kuliah dapat mengembangkan watak siswa yang tangguh dan bertanggungjawab, yang tentunya mampu berdampak signifikan dalam kemajuan komunitas. “Sebaliknya, kualitas generasi berikutnya akan menurun drastis kalau banyak murid yang hanya bermentalitas ‘asal lulus’ saja,” himbau Sherah.

Sherah melanjutkan, “tidak mudah untuk bisa menata waktu dengan baik agar cukup waktu untuk belajar karena begitu banyaknya godaan untuk bersenang-senang pada masa ini. Namun, melalui perjalanan kuliah yang cukup menantang ini, murid-murid diberi kesempatan yang sangat baik untuk dapat membekali masa depan.”

Jadi, mulailah persiapan ujianmu dengan sebaik dan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil maksimal!

 


flase