Sejak 27 tahun yang lalu, Flora Izza sudah bekerja di Garuda Indonesia. Namun, penempatannya selalu di Pulau Jawa. November 2019 menjadi awal baru bagi perempuan kelahiran Surabaya ini usai ditugaskan sebagai General Manager Garuda Indonesia di Melbourne, Australia.

Meski penempatan ini menjadi yang pertama di luar Indonesia, Melbourne bukanlah kota yang asing bagi perempuan yang hobi melakukan kegiatan bersifat relaksasi seperti membaca atau jalan-jalan ini.

Ternyata, Flora pernah menetap selama satu tahun di Melbourne, tepatnya di Heathmont pada tahun 1988. Pada waktu itu, ia tergabung dalam AFS Intercultural Program yang adalah program tukar pelajar, sewaktu di bangku SMA.

Di tahun 2019, saat kembali menginjak tanah Melbourne, ia mengatakan masih ingat letak kebanyakan tempat di kota itu. Walau, tetap saja ada yang perubahan yang ia temukan.

“Yang berbeda untuk saya adalah sekarang lebih mudah mencari makanan Indonesia di sini dibandingkan 32 tahun yang lalu,” kata Flora yang menempuh pendidikan S2 bidang Sumber Daya Manusia di Universitas Sebelas Maret kala penempatannya di Garuda Indonesia cabang Solo ini.

“Tapi sebenarnya kalau dari sisi kota tidak banyak berubah. Tidak seperti Jakarta misalnya, yang mungkin bila hari ini datang ke sana. Di sini tidak terlalu, saya masih ingat tempat-tempatnya. Memori saya masih bisa tersegarkan ketika kembali ke sini.”

Flora Izza, General Manager Garuda Indonesia Melbourne.

Meski masih merasa familiar dengan kota Melbourne, Flora kini kembali membawa tujuan yang berbeda dari kedatangannya 32 tahun lalu.

Melalui posisinya sebagai General Manager Garuda Indonesia di Melbourne, ia bertanggungjawab memperkenalkan warga Australia kepada destinasi lain di Indonesia selain Bali dan Jakarta.

“Tentunya image Bali itu sudah terlalu kuat di sini. Terlalu kuat,” kata Flora kepada BUSET, mengingat bahwa Garuda Indonesia sudah 50 tahun lamanya membuka penerbangan dari Australia ke Denpasar.

“Kita di sini pastinya ingin berusaha mendorong penjualan dan memikirkan bagaimana bisa meningkatkan traffic beyond Bali. Kita memang agak susah untuk menjual di luar Bali, jadi memang campaign kita harus yang agresif sekali supaya orang bisa memilih selain Bali.”

Menurut Flora, usaha ini dilakukan dengan menjual konektivitas dari Garuda sendiri, melalui penerbangan domestik maupun internasional. Contohnya melalui penerbangan sambungan untuk tujuan Jepang, Korea dan Amsterdam di Eropa.

“Kalau dari saya, Garuda Indonesia di Melbourne sendiri [targetnya] menjual destinasi domestik Indonesia tentunya, dan juga internasional yang beyond Denpasar,” ungkap Flora.

“Jadi warga Australia ataupun komunitas Indonesia di Australia bisa memilih Garuda Indonesia untuk terbang ke Jepang, Korea maupun Amsterdam menggunakan Garuda yang tidak hanya ke Bali.”

Harapkan bantuan mulut warga Indonesia

Untuk memperkenalkan destinasi lain di Indonesia kepada masyarakat Australia yang sudah familiar dengan Bali, Flora bersama timnya harus menggiatkan kampanye yang intens.

“Kita harus lebih intens untuk menyampaikan kepada masyarakat Australia bahwa sebenarnya Indonesia itu tidak hanya Bali. Indonesia memiliki banyak destinasi lain yang bagus.”

Flora mengatakan bahwa masyarakat Indonesia yang ada di Australia sebenarnya pun bisa membantu mewujudkan visi maskapai tersebut untuk memperluas pengetahuan warga Australia soal destinasi wisata di Indonesia.

“Tapi mungkin sebenarnya [kampanye] bisa melalui teman-teman diaspora, teman-teman mahasiswa yang ada di sini, bisa meneruskan informasi secara informal. [Misalnya dengan bertanya] “Kamu sudah pernah ke Labuan Bajo atau Pulau Komodo belum?”

“Mungkin kita-kita sendiri bisa memperkenalkan secara informal. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?”

Menurut Flora, hingga saat ini, wisata alam masih menjadi tujuan mainstream bagi turis Australia di Indonesia. Bali yang hingga kini masih menjadi ikon tempat wisata terbesar bagi mereka namun tetap harus dipertahankan.

“Tujuan kita [mempromosikan] beyond, Bali, much more than Bali, tapi memang Bali harus kita pertahankan karena merupakan ikon kita. Tapi ada destinasi lain yang perlu kita kembangkan,” kata Flora yang sadar akan kontribusi Bali bagi dunia pariwisata Indonesia melalui Garuda Indonesia selama setengah abad.

“Bali menjadi utama dan memang tetap harus kita pertahankan. Karena kita kan kalau di sini juga bersaing dengan destinasi negara lain, seperti Fiji, Thailand, Malaysia.”

Menurutnya, upaya informal yang bisa dilakukan diaspora Indonesia di Australia ini adalah untuk kebaikan mereka sendiri dalam mendukung upaya pemerintah mengembangkan pariwisata Indonesia.

Nasa