Monash Herb Feith Indonesia Engagement Centre bekerjasama dengan Monash Library kembali mengadakan Monash Indonesian Seminar Series di Louise Matheson Library, Monash University Clayton Campus awal Agustus silam.

Monash Indonesian Seminar Series ini merupakan seminar bulanan yang bertujuan untuk membangun, merawat dan membangun komunitas ahli Indonesia, dari Indonesia dan siapa saja yang peduli dengan Indonesia. Para ahli Indonesia pun turut hadir dalam acara ini dan mempresentasikan riset mereka. 

Kali ini Profesor Ariel Heryanto, Direktur Monash Herb Feith Indonesia Engagement Centre, selaku pembimbing acara memperkenalkan kepada para hadirin Dr. Dirk Tomsa, seorang senior lecturer dalam departemen Politik, Media dan Filosofi di La Trobe University. Beliau hadir mempresentasikan risetnya tentang industri pemilu dimana peran lembaga survei menjadi sangat penting, terutama dalam Pemilu 2019.

Menurut Dirk, industri survei politik telah bertumbuh sejak tren yang diawali di 2002 oleh Saiful Mujani, terutama perannya dalam memprediksi dengan benar bahwa Susilo Bambang Yudhoyono akan memenangkan Pemilu 2004 yang merupakan pertama kalinya rakyat dapat memilih kandidat Presiden dan wakilnya. Bahkan sering tampilnya para pendiri lembaga survei membuat mereka hampir seperti  seorang selebritas. “Many of them have formal positions at universities as academics but very few of them make their living out of that part of the job. It’s more because they’re public figures and working, they’re pretty much in demand through the work that they do as pollsters,” tutur Dirk.

Industri tersebut menurutnya memiliki dampak positif dan negatif terhadap politik Indonesia. Lembaga survei dapat membantu politisi non elit untuk meningkatkan pamornya. Contohnya Jokowi yang terbantu saat ingin menjadi Gubernur Jakarta berkat lembaga survei yang menempatkannya sebagai kandidat yang menjanjikan. Berkat proses quick count manipulasi elektoral menurut Dr Dirk dapat dikurangi, dan data yang dipegang dan dirilis oleh para lembaga survei juga menurutnya dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat para pejabat. Hal tersebut terlihat di beberapa sektor contohnya dalam isu ekonomi dan lingkungan.

Namun dengan semakin besarnya popularitas penggunaan lembaga survei, Dr Dirk menyatakan bahwa biaya untuk berkampanye pun juga meningkat. “If you want to run for an election you have to pay the party to nominate you. Before securing that you need to go to the pollsters to get some of their data to convince the party board that you are a good candidate. And then the party will release you a loan for your campaign,” dan ini pun belum termasuk penggunaan lembaga survei ketika berkampanye tutur Dirk.

Dr Dirk mengungkapkan bahwa industri survei politik memiliki peran besar dalam politik Indonesia

There’s the problem that not all pollsters are credible, in 2014 there were 4 pollsters who collaborated with television stations in publishing results that were obviously fabricated,” tambah Dirk. Menurutnya permasalahan tersebut perlahan mulai membaik dimana hasil quick count dari berbagai lembaga survei di Pemilu 2019 menunjukkan perbedaan marjin yang tidak jauh berbeda dibanding terpolarisasinya angka quick count yang terlihat di Pemilu 2014. “The fact that it’s been so consistent gave observers of Indonesian politics very clear hint or signals that Jokowi’s going to win this election,” ujarnya tentang hasil quick count 2019.

Hasil quick count 2019 dibanding dengan hasil hitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga menunjukkan marjin yang tak jauh berbeda, dan mengokohkan kredibilitas lembaga survei yang sudah berdiri lama. “What we have seen now is the established group of about 10 pollsters who since 2004 have done reliable quick counts, reliable pre-election surveys with very little deviations from the predicted results, whose works can be trusted at least academically,” ucapnya. Beberapa dari lembaga yang dimaksud termasuk Cyrus Network, Charta Politika, Saiful Mujani Research Center, Indo Barometer, Poltracking Indonesia, Indikator yang merupakan bagian dari Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Median, kedaiKOPI dan LSI Denny JA yang merupakan bagian dari Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI), dan Litbang Kompas yang tak terafiliasi dengan kedua asosiasi tersebut.

Namun menurut Dirk, kebanyakan lembaga survei terkesan berpihak kepada Jokowi dalam Pemilu 2019. “If you are a Prabowo supporter, and Prabowo keeps telling you all the time that this fake polls are just designed to make me loose, if you then read Yunarto’s saying on twitter that vote for Jokowi, prabowo’s bad, it’s quite easy to see how you can spin up this narrative that the polls are actually against me because of their political preference,” paparnya tentang bagaimana opini politik para pemimpin lembaga bisa dieksploitasi untuk membuat narasi dimana lembaga survei terkesan bekerjasama melawan Prabowo. Maka netralitas menjadi sebuah isu yang menurutnya harus ditanggapi oleh industri survei politik.

Bagi Dirk, dua pilpres terakhir terlihat dari sudut pandang lembaga survei lebih dari pertarungan antar dua kandidat tapi sebagai pertaruhan masa depan politik Indonesia. Dan ia berharap dalam konstelasi politik berikutnya di tahun 2024 tingkat emosi tidak setinggi dibanding beberapa pilpres lalu, jadi para pemimpin lembaga harus mampu menahan diri dalam mengekspresikan pemihakan mereka.

Untuk mengekang dampak negatif yang dapat dihasilkan, ia menyarankan untuk ditingkatkannya transparansi, terutama dalam soal pendanaan agar masyarakat tahu kepentingan siapa yang dimaksud ketika sebuah data dirilis.

Ditingkatkannya transparansi dalam bagaimana KPU mengakreditasi para lembaga yang ingin mempublikasikan survei mereka menurutnya bisa membantu publik melihat lembaga mana yang sulit dipercaya. Tak hanya itu, jurnalis pun harus lebih kritis. “Journalists who report on polls needs to see better through the selective use of data. Needs to sometimes put critical comments of polling data,” sarannya.


Apa Kata Mereka

Harry Febrian, PHD Communication & Media di RMIT

Sebelumnya tidak terlalu familiar dengan polling industry, dengan survei. Cuma tahunya kalau muncul di TV, koran, tapi ternyata itu industri yang besar sekali. Dan dampaknya juga besar. Bukan sekedar angka, tapi ada positif dan negatifnya yang bisa berdampak langsung dengan kehidupan politik. Jadi lebih mengerti tentang dampaknya.  Seminarnya menyenangkan. Harapannya, mungkin promosinya, agar bisa lebih banyak orang lagi karena topiknya in general menarik-menarik.

Prof. Andrew MacIntyre, Senior Pro Vice-Chancellor (Southeast Asia Partnerships)

The rapid development and professionalization of the Indonesian polling industry, I think that is both interesting and encouraging. Haven’t realized how quickly it has been maturing. I think we have a great formula here, it brings together members of the academic community and wider community interested in Indonesia. I like the informal nature, I like that we have a little bit of Indonesian food that makes people relax and talk, I think this is a great model.

Denis