Suka Duka Bisnis Dalam Restriksi 4

0
201

Diberlakukannya restriksi tahap 4 dalam upaya pencegahan virus Covid-19 berdampak besar bagi berbagai usaha. Tak lagi hanya sektor hospitality, peraturan baru ini telah membatasi bahkan melumpuhkan proses operasional sebagian besar sektor usaha di Victoria, termasuk manufacturing. Kali ini, BUSET berbincang-bincang dengan beberapa usahawan seputar dampak restriksi tahap 4 terhadap bisnis mereka.

It’s a Blessing in Disguise

Tak disangka oleh importir kaos kaki disposable, Chris Nanere, usahanya justru mengalami peningkatan omset yang cukup drastis hingga 10 kali lipat di tengah pandemi ini.

“Kalau dulu 1 kontainer itu bisa 5 bulan (baru habis terjual), sekarang 1 bulan setengah sudah harus order lagi,” kata bos dari Try-Sox International itu. Chris bahkan mengaku terkadang dia tak dapat memenuhi orderan dikarenakan terus meningkatnya demand untuk kaos kaki disposable.

Menurut pengusaha yang berbasis di Bendigo itu, meningkatnya permintaan kaos kaki disposable terutama dari client seperti rumah sakit, laboratorium dan toko sepatu dipengaruhi oleh semakin dibutuhkannya alat perlindungan diri (APD). Selain memakai masker dan sarung tangan, diperketatnya standar kebersihan pekerja kini mengharuskan mereka agar memakai APD di seluruh tubuh, termasuk kaki.

Pengusaha asal Maluku itu juga merasa beruntung karena sebagian besar operasional bisnisnya dapat dilakukan secara online, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh peraturan restriksi tahap 4 yang melarang sebagian besar kegiatan on-site dan face-to-face. Ia pun optimis bahwa setelah Covid berlalu, bisnisnya akan tetap lancar melihat tren customer yang sejak Mei terus menimbun alat-alat APD, termasuk kaos kaki disposable.

It’s a blessing in disguise for me. Dengan pandemi ini, orang-orang makin sadar akan kebersihan,” ujarnya.

Sangat Challenging

Di lain sisi, Valencia pemilik Woodbury Escape Room terpaksa menutup usahanya untuk sementara. Escape room yang merupakan permainan problem solving dalam ruangan bertema itu pada umumnya dimainkan oleh tim yang terdiri lebih dari 4 orang. Setting permainan juga melibatkan pernak-pernik dan props yang merupakan petunjuk dari puzzles-puzzles yang harus dipecahkan agar pemain dapat keluar dari ruangan-ruangan yang dimainkan.

Challenge kita yang pertama adalah ini very high contact. Jarak 1.5 meter di ruangan yang tidak terlalu besar itu sulit. Propsnya juga semua orang pasti pegang, dan untuk orang-orang untuk mendapat full experience of Escape Room, mereka harus ada di tempat itu,” jelas Valencia yang akrab disapa Valen itu.

Hal ini jugalah yang membuat bisnisnya tak dapat dilakukan secara online dan harus berhenti beroperasional untuk sementara waktu. Selain melakukan maintenance
di tempat permainan dan menjual gift vouchers secara online, tak banyak yang bisa dilakukan olehnya.

Our sales is pretty much zero. Meski ada gift vouchers ini yang masa berlakunya tiga tahun, tapi orang-orang juga mungkin takut ya dan lebih hemat untuk tidak membeli non essential goods,” ujarnya.

Valen juga mengaku bahwa sebagian kliennya adalah perusahaan-perusahaan yang menggunakan escape room sebagai sarana untuk team building activities bagi pegawai mereka. Ibu satu anak itu juga khawatir dengan memburuknya ekonomi ini akan banyak perusahaan akan mengurangi budget untuk aktifitas sosial sehingga mempengaruhi recovery bisnisnya.

Dampaknya Netral

Bagi Marthin Nanere yang seorang penterjemah Bahasa Indonesia untuk Centrelink dan pemerintah Australia, larangan untuk bertemu secara face-to-face tidak menjadi hambatan besar di pekerjaannya. Dengan mengandalkan zoom dan program serupa dari pemerintah, dirinya masih dapat melakukan pekerjaanya tanpa hambatan yang berarti. Meski beberapa klien membutuhkan information confidentiality karena status mereka sebagai kriminal, pemerintah Australia juga sudah memfasilitasi Marthin dengan software komunikasi serupa zoom yang jauh lebih secure.

“Dengan Centrelink memang karena pandemi ini juga banyak yang telepon, tapi saya bisa melakukan terjemahan melalui telepon three-ways. Jadi memang bisnis kecil saya ini tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi ini,” tutur pria yang juga bekerja sebagai professor di La Trobe University itu.

Face-to-face work sudah sama sekali tidak ada. Kecuali kalau saya benar-benar dibutuhkan di tempat, saya dapat datang dengan memakai masker,” tambahnya lagi.

Optimis Dengan Prospek Masa Depan

Sebagai seorang freelance videographer dan photographer, Gabriela Fannia memang tidak terlalu terpengaruh oleh restriksi tahap 4, namun, ia tetap merasakan dampaknya.

“Karena aku skill-based, in a way aku masih bisa continue my business. Tapi yang aku rasain sebagai orang yang jual jasa, challengenya itu aku ga bisa ketemu face to face dengan klien atau colleague kita. Karena videography itu collaborative work banget, collaborative heavy justru,” ujar gadis yang saat ini menempuh pendidikan di Monash University itu.

Meski begitu, Gabriela tetap merasa beruntung karena sebagai seorang yang bekerja di bidang media, pekerjaannya mudah beradaptasi dengan kondisi Covid-19 yang serba online dan digital. Pekerjaan seperti photography yang umumnya dilakukan on-site pun kini dapat dilakukan secara virtual.

I see the positive side of this pandemic, yaitu menambah experience dan opportunity baru. Dan I see a brighter future untuk media, karena orang-orang sadar media products itu penting, seperti advertisement dan content-content social media in general,” jawab Gabriela yang juga bekerja sebagai florist di waktu luangnya.