HARI PENDIDIKAN NASIONAL: Situasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Victoria

Dari tahun ke tahun, Bahasa Indonesia secara konsisten termasuk sebagai bahasa yang paling banyak dipelajari di sekolah Australia. Pada tahun 2018, jumlah siswa yang mempelajari Bahasa Indonesia lebih dari 60,000 orang. Meskipun masih tergolong besar, jumlah ini ternyata jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan pada tahun 70an.

La Trobe University baru-baru ini mengumumkan rencana penututupan jurusan Bahasa Indonesia di akhir tahun 2021. Sebelumnya, Western Sydney University dan Murdoch University, WA juga mengumumkan keputusan yang sama. Hal ini tentu disayangkan, terlebih karena kemampuan orang Australia untuk berbahasa Indonesia dapat mempererat hubungan antar negara.

Edan (kedua dari kiri) dan teman-temannya ketika mengikuti program ACICIS di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Foto milik Edan.

Menyambut Hari Pendidikan Nasional, BUSET berkesempatan untuk berbincang dengan dua guru Bahasa Indonesia di Victoria tentang hal ini. Seperti apa situasi pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini? Apa faktor-faktor yang menyebabkan penurunan minat siswa? Apa tantangannya dalam mengajar? Dan adakah yang bisa kita lakukan untuk menanggapi situasi ini?

Terpengaruh Kondisi Politik dan Ekonomi

“Waktu saya pertama kali datang, peminat Bahasa Indonesia itu banyak sekali. Terutama di tahun 1998, banyak anak Indonesia yang pindah ke sini, sehingga peminatnya bertambah, sampai dibedakan kelasnya. Ada pendidikan bahasa Indonesia untuk anak Indonesia dan ada yang sebagai second language,” kata Bea Awiati, guru Bahasa Indonesia di Kilmore International School.

Berpengalaman mengajar selama hampir 30 tahun, Bea mengatakan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa di Australia.

“Banyak tidaknya peminat tergantung pada suasana dan keadaan politik dan ekonomi Indonesia, terutama yang ada di berita. Kalau beritanya sedang bagus, peminatnya naik, kalau sedang kurang bagus, maka menurun.”

Bea juga menyebutkan bahwa latar belakang siswa sebagai keturunan bangsa Eropa, intensitas pemutaran film Indonesia di televisi, dan ramainya festival budaya Indonesia di Australia merupakan bagian dari penyebabnya. Bahasa Prancis dan Itali tetap menjadi bahasa yang paling digemari oleh siswa sekolah.

“Sekarang ini, anak-anak generasi muda fokusnya berbeda. Mindset mereka adalah asal bisa berbahasa inggris, kemanapun bisa berkomunikasi. Tidak perlu belajar bahasa lain,” katanya. Bea juga menjelaskan adanya penurunan minat siswa Australia dalam mempelajari bahasa asing secara umum.

Jumlah siswa yang mengikuti ujian VCE di kelas 12 memang jauh lebih sedikit dibanding 10 sampai 15 tahun yang lalu. Dulu, jumlahnya hampir 800 orang, sekarang kira-kira 600 orang. Tapi penurunan ini bukan sesuatu yang drastis, melainkan dalam jangka panjang. Bea mengatakan bahwa yang terpenting adalah jumlah kelas junior yang ditawarkan masih banyak, sehingga siswa sekolah masih berkesempatan untuk belajar Bahasa Indonesia.

“Saya selalu ingatkan pada anak-anak, seperti kata Nelson Mandela, ‘Kalau kamu berbicara dengan orang sesuai bahasa mereka, kamu berbicara ke hati mereka’. Kalau kamu berbahasa inggris, tidak spesial untuk mereka,” ujar Bea.

Memilih Berbahasa Indonesia

Penututupan jurusan Bahasa Indonesia di beberapa kampus Australia tidak menyurutkan semangat Edan Runge untuk mengajar Bahasa Indonesia.

Awalnya bekerja sebagai tutor untuk anak SMA, Edan mantap ingin mengikuti jejak ibunya menjadi guru Bahasa Indonesia. Saat ini, Edan mengajar di Marcellin College sebagai asisten guru dan sebagai guru tingkat dasar untuk Australian Indonesian Association of Victoria (AIAV).

Edan sebetulnya mempelajari banyak bahasa semasa kuliah, tetapi Bahasa Indonesia menjadi bahasa pilihannya.

“Indonesia adalah negara tetangga,” kata alumni program ACICIS (Australian Consortium for ‘In-Country’ Australian Studies) di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah ini.

“Saya merasa penting sekali bagi orang Australia untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Budaya dan kesenian Indonesia juga menarik. Bagi saya, budaya Indonesia bahkan jauh lebih menarik daripada budaya Eropa.”

Edan sendiri sudah beberapa kali datang ke Indonesia untuk berlibur dan belajar. Pada awal tahun 2021 ini, Edan mengikuti program magang secara online di The Jakarta Post.

“Ibu saya bukan seorang keturunan Indonesia, tetapi sudah mengajar Bahasa Indonesia selama 40 tahun,” katanya dalam Bahasa Indonesia yang lancar. “Saya sendiri belajar Bahasa Indonesia sejak di bangku SMP, kira-kira 10 tahun yang lalu.”

Menurut Edan, kemampuan berbahasa Indonesia dapat membuka peluang kerja untuk masyarakat Australia. Kebanyakan muridnya di AIAV adalah orang dewasa yang termotivasi untuk dapat berbicara dengan orang lokal ketika berlibur ke Indonesia, dan juga yang ingin mencari pekerjaan baru.

“COVID dan pembelajaran secara daring memang membuka kesempatan untuk orang dewasa. Meskipun berbeda motivasi dengan anak-anak sekolah, mereka sangat antusias dalam belajar,” katanya.

Perbedaan Mengajar Orang Dewasa dan Anak Sekolah

“Tantangan terbesar dalam mengajar anak sekolah adalah untuk menjaga konsentrasi mereka,” ungkap Edan sambil tertawa. Ia sendiri paling suka mengajar anak SMA karena kemampuannya untuk mencari tahu secara mandiri.

“Untuk anak SMP, guru-guru butuh berusaha lebih dalam menangkap rasa keingintahuan dan menjaga minat mereka. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan permainan. Karena itulah, kami betul-betul harus memberikan mereka bimbingan dan perhatian lebih.”

Sementara itu, Edan merasa orang dewasa lebih termotivasi untuk menjelajahi sendiri budaya dan pengetahuan akan Indonesia.

“Mempelajari bahasa pada umumnya tidak bisa dilakukan hanya di dalam kelas. Kita harus nonton film, mendengarkan lagu, sebanyak mungkin mengekspos diri terhadap Bahasa Indonesia. Orang dewasa memiliki motivasi yang lebih besar dalam melakukan hal-hal ini.”

Edan sendiri merasa bahwa Bahasa Indonesia sebetulnya tidak sulit untuk dipelajari, apalagi bila dibandingkan dengan Bahasa Eropa seperti Prancis dan Jerman yang menggunakan konjungsi khusus.

Untuk alasan inilah, Edan merasa bersyukur bahwa komunitas pendidikan Bahasa Indonesia di Australia menjaga hubungan baik dengan sekolah di Yogyakarta secara daring.

“Biasanya sebelum COVID, guru-guru kami mengadakan tur pendidikan ke Yogyakarta. Saat ini kami berkomunikasi secara online. Mudah-mudahan lewat Zoom dan Skye, siswa-siswa kami bisa belajar dan berlatih Bahasa Indonesia dengan lebih baik,” katanya.

Kendala dalam Mengajar

Bagi Bea, akses untuk mencari tahu tentang Indonesia saat ini jauh lebih mudah dibanding sebelum era internet.

“Anak-anak yang lebih antusias biasanya senang belajar sendiri. Mereka buka YouTube, nonton film, dan sebagainya. Tapi saya selalu mengarahkan mereka untuk mengubah kecepatan pemutaran jadi 0.5x,” kata Bea.

Menurutnya, orang Indonesia terbiasa berbicara terlalu cepat, menggunakan bahasa slang atau menyampur kalimat dengan Bahasa Inggris. Karena alasan inilah, semakin sulit bagi guru-guru Bahasa Indonesia di Australia untuk mencari bahan pembelajaran.

“Buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikeluarkan pemerintah untuk penutur asing pun kurang pas, karena mereka sepertinya dibuat untuk orang asing yang belajar di Indonesia,” jelas Bea. “Kata-katanya masih terlalu sulit, karena anak-anak disini kan tidak tinggal ditengah masyarakat yang berbahasa Indonesia.”

Akhirnya Bea seringkali menyadur dan menyederhanakan sendiri bahan yang ia gunakan untuk mengajar di kelas. Tema-tema seperti lingkungan dan tokoh masyarakat merupakan yang paling digemari oleh siswa Australia. Baru-baru ini Bea mengajar tentang orangutan dan Ibu Kartini.

Selain itu, Bea juga mendorong siswa-siswinya untuk menghadiri festival dan acara kebudayaan Indonesia di Australia, seperti latihan gamelan yang sering diadakan oleh Kedutaan Republik Indonesia.

“Saya suka datang ke festival dan bertemu dengan anak-anak disana. Mereka sebetulnya juga penasaran dan ingin tahu budaya Indonesia, maka sangat penting bagi komunitas Indonesia disini untuk mengadakan festival budaya dan kesenian, supaya menjaga terus minat anak-anak terhadap Bahasa Indonesia,” kata Bea.

“Belajar bahasa itu tidak mudah, harus dari hati. Kita sebagai guru hanya bisa mendukung lewat materi pembelajaran, tapi diluar itu orang tua dan lingkungan harus mendukung juga.”

Bea sendiri mengungkapkan rasa bangganya bila melihat anak didiknya meneruskan belajar Bahasa Indonesia hingga ke jenjang perkuliahan.

“Saya sangat senang apabila melihat hasil pengajaran saya bukan hanya untuk nilai, tapi juga untuk masa depan mereka. Bukan hanya untuk lulus sekolah, tapi hingga bisa dinikmati hasilnya,” ungkapnya.

Velahttp://www.buset-online.com
A writer, a media and communication student, a passionate food-taster and a culture-admirer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Merayakan Akhir Pekan Sambil Menabuh Gamelan

Sekitar 20 orang memilih menghabiskan akhir pekan mereka di 443-447 St. Georges Rd, Thornbury, yang jadi markas kelompok Gamelan DanAnda. Rupanya di petang 24...

DIPLOMAT & PENYAIR

Dua kata yang serasi dan saling mengisi dalam arti dua kata tersebut punya arti halus, dan orang biasanya hati-hati berucap atau berkata dan berkomunikasi. Ini kesan...

POWER COBAZ

Selalu ramah dan senang berbagi ilmu, itulah kesan yang melekat dari seorang yang akrab disapa Cobaz. Perjalanan sukses dan pemikiran kreatif pria yang pernah...

Volunteers Wanted – Asia Pop Fest x Lord Mayor’s Student Welcome 2017

The Lord Mayor’s Student Welcome is a special event that recognises and celebrates students’ contributions to the cultural life and diversity of the City...

WISATA SALJU DI MT. BULLER DENGAN KELUARGA

Musim dingin sudah tiba. Seperti yang kita ketahui, ini lah saat yang paling tepat untuk menikmati salju di daerah pegunungan yang dikenal dengan Victorian...