SETARA “Pendidikan dan Peluang Kerja Inklusif”

Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh awal Desember lalu, PPIA Australia mengadakan webinar SETARA “Pendidikan dan Peluang Kerja Inklusif” yang menghadirkan Yulita Priyoningsih, perwakilan dari Direktorat Pembelajaran dan kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), Reza Kurniawan, seorang fashion microblog sekaligus mahasiswa S2 di Flinders University, Australia, dan Habibie Afsyah, selaku CEO DigitalPreneur.id. 

Upaya pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang inklusif untuk penyandang disabilitas 

Di bawah PERMENRISTEK DIKTI Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi, pemerintah telah mengupayakan berbagai hal untuk menjamin pendidikan yang inklusif untuk penyandang disabilitas, antara lain:

Panduan pembelajaran 

Hingga saat ini terdapat panduan layanan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi, panduan pembelajaran daring bagi mahasiswa dengan disabilitas netra dan fisik, serta panduan layanan kelas daring untuk mahasiswa tuli di perguruan tinggi. 

Program dan kebijakan DIKTI 

  • Kebijakan unit layanan disabilitas 

Sebagai acuan Lembaga Pendidikan dalam menyelenggarakan unit layanan disabilitas.

  • Bimbingan teknis dan sosialisasi Pendidikan dan Layanan Khusus (PK-LK) 

Sosialisasi kepada dosen dalam menyelenggarakan pembelajaran yang ramah disabilitas dan sosialisasi layanan dan fasilitas yang harus disediakan oleh perguruan tinggi dalam memfasilitasi mahasiswa berkebutuhan khusus.

  • Bantuan dana inovasi pembelajaran dan teknologi bantu (teknologi asistif) untuk mahasiswa berkebutuhan khusus di perguruan tinggi 
  • Beasiswa bagi mahasiswa disabilitas 

Beasiswa ini merupakan beasiswa bidikmisi yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat berkebutuhan khusus di pendidikan tinggi, karena sampai sekarang masih sedikit sekali jumlah mereka yang menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. 

“Perjalanan pendidikan saya tidak mudah, tapi semua itu mungkin jika kita tidak menyerah,” ungkap Reza Kurniawan. 

Sebagai seorang pengidap cerebral palsy dan dyslexia, perjalanan pendidikan Reza Kurniawan sampai bisa menempuh S2 di Flinders University, Australia tentu tidaklah mudah. Banyak sekali hambatan yang ia lalui di sepanjang jalannya, namun kegigihan dan ketangguhan yang dimilikinya telah membuktikan bahwa ia bisa. 

“Saya berpikir bagaimana saya bisa punya kualitas hidup yang lebih baik.” Perkataan inilah yang mengawali niat Reza untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Semasa menempuh pendidikan dari SD sampai akhirnya diterima di Bachelor of Communication, University of Canberra, banyak kerikil yang telah Reza lalui. Di SD ia sempat di bully, di SMP ia pernah tidak lulus sampai harus mengejar ujian paket B, dan saat mencoba mendaftarkan diri ke salah satu universitas impiannya di Taiwan, universitas tersebut menolaknya karena alasan tidak bisa menerima kondisi disabilitas yang ia miliki.

Disabilitasnya tidak memupuskan kecintaannya pada dunia fashion 

Sejak kecil, Reza Kurniawan bercita-cita untuk menjadi fashion designer, namun kelemahan motorik yang dimilikinya membuatnya tidak bisa merealisasikan cita-cita tersebut. Alih-alih, sekarang ia menjadi seorang fashion blogger yang sehari-hari memberikan inspirasi busana di akun instagramnya dan membuka jasa styling

“Walaupun kamu nggak kuat, tapi kamu nggak boleh berhenti belajar.” Wejangan dari orangtuanya inilah yang mengawali karir seorang Habibie Afsyah 

Berbeda ceritanya dengan Habibie Afsyah, seorang penderita muscular dystrophy progressive ini tidak dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi karena keterbatasan otot yang dimilikinya. 

Namun, keterbatasan ini tidak menghalangi Habibie dari berkarya. Hobinya bermain video game, gadget, dan komputer membawanya untuk mendalami dunia Internet Marketing. Belajar dari trial dan error, kini bungsu dari delapan bersaudara ini sudah mempunyai agency yang menyediakan web marketing dan programming, telah mendirikan Habibie Afsyah Foundation, dan menulis buku berjudul Kelemahanku adalah Kekuatanku untuk Sukses

Webinar ini ditutup dengan penampilan kesenian pantomim oleh Firgiawan Riefky yang dapat ditonton di kanal YouTube PPIA Australia melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=gCYsuLn5Bs8&t=12s. Egy adalah juara 1 FLS2N pantomim 2019 dan seorang tuna rungu.

“Kalau ada kesempatan untuk kalian, gunakan itu baik-baik. Kalau ternyata itu gagal, at least you try. Once kalian bilang tidak, tidak ada kesempatan untuk kalian lagi.” – Reza Kurniawan 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

LAUTAN MERAH PUTIH DI MELBOURNE

Sekali lagi, Indonesia telah memerdekan negaranya selama 72 tahun. Negara Kesaturan Republik Indonesia menggelar upacara kemerdekaan dan dengan bangga mengibarkan bendera merah putih. Tentu...

BUSANA BERKANTONG MENGANTONGI SUKSES

Pocket Change pop up shop Akhir Mei silam empat sekawan Fiyona Alidjurnawan, Rosie Downie, Eleanor Toulmin dan Sarah Agboola menjalankan pop-up shop bertajuk Pocket Change...

Mulyani, Said Abdullah, dan Luqmanul Chakim: Angin Segar dari Penerus Seni Musik Bundengan

Kehadiran alat musik bundengan ke Australia, tepatnya Sydney dan Melbourne, tak hanya menjadi momen langka perjumpaan publik dengan alat musik yang nyaris punah ini....

PROMOSI BAHASA BERHADIAH TIKET KE BALI DIMENANGKAN PELAJAR MELBOURNE HIGH

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne menjadi tempat diselenggarakannya ‘Sayembara Menulis Buku Harian’ yang diusung Radio Kita 3ZZZ (92.3 FM). Acara tahunan tersebut...

BATIK LAB GARAPAN SEORANG BULE

Ialah Michelle McDonell yang sempat mengambil program Dharmasiswa Scholarship untuk mengajar Bahasa Inggris sekaligus mendalami kesenian batik di Indonesia. Dirinya sempat belajar di Yogyakarta...