SENIMAN RANI PRAMESTI BERBAGI CERITA DARI JAMAN NENEK

Di hari pembuka bulan Juni, Rani Pramesti bersama dengan rekan-rekannya Shivanjani Lal, Ria Soemardjo dan Kei Murakami memperkenalkan pertunjukan instalasi yang sedang dalam proses kreasi di Southbank Theatre. Instalasi ini akan diikutsertakan pada NEXT WAVE Festival tahun depan. Dengan judul sementara Yes Way, We Made Australia Home, pertunjukan ini merupakan bagian dari program Neon Readings yang diselenggarakan MTC CONNECT, yaitu projek kerjasama dari Multicultural Arts Victoria dan Melbourne Theatre Company.

NEXT WAVE sendiri merupakan festival karya seni kontemporer yang berlangsung setiap 2 tahun. “Jadi bukan teater tradisional, melainkan seperti pertunjukan instalasi atau tarian tapi digabungkan dengan media, new media. Jadi malam ini acaranya semacam sharing, namanya showing atau creative development showing,” papar Rani.

Tema yang diangkat ditelusuri dari kisah keluarga masing-masing artis; Rani asal Indonesia, sedangkan Ria dilahirkan dari seorang ibu warga Australia dan ayah Orang Jawa. Kei lahir di Jepang namun besar di Jerman dan Australia, dan Shivanjani yang berlatarbelakang India tapi berasal dari Fiji. “Instalasi ini terutama tentang kisah hidup nenek kami. Jadi dapat menjadi jalan untuk masuk ke periode sejarah yang lain, sejarah sebelumnya,” jelas Rani lagi.

Seusai memberi kata sambutan, Rani yang tahun lalu telah sukses mengadakan karya seni instalasi bertajuk Chinese Whispers membacakan biografi neneknya yang lalu bertemu dan menikah dengan kakeknya pada 1955. Kala itu sang nenek sempat pindah agama dari Katolik ke Islam. Kisah singkat Rani dilanjutkan dengan permainan musik tradisional Jawa oleh Ria serta peragaan cara menggunakan pakaian tradisional India, Saree oleh Shivanjani.

Dapat dilihat bahwa cukup banyak pengunjung yang memadati teater pada malam itu, kendatipun Rani mengaku pada tahap yang masih awal ini ia tidak terlalu memikirkan jumlah penontonnya. “Kalau nanti premiere tahun depan itu baru saya akan peduli berapa banyak yang nonton. Tapi karena malam ini kan semacam sharing dan agak informal, saya bercerita saja ide-ide kami pada tahap awal ini seperti apa, berubah berapa kali, dan mengapa perubahan itu terjadi.”

“Jadi mungkin mereka akan tertarik untuk mendukung kami untuk premiere pada tahun depan, dan semoga kelihatan dengan jelas bahwa setiap proses kreasi itu mencakupi segala macam perubahan, dari tahap awal sampai akhir,” kata Rani mengakhiri wawancaranya dengan BUSET.

 

sasha

Discover

Sponsor

Latest

Delapan Siswa Geelong Mengikuti Upacara Bendera di Canberra

Selalu ada pemandangan menarik saat berlangsungnya perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Kedutaan besar RI di Canberra. Salah satunya adalah kedatangan delapan siswa dari Saint...

Wonderful Indonesia dalam Resepsi Diplomatik di KJRI Perth

Dalam rangkaian peringatan HUT RI ke-73, KJRI Perth menyelenggarakan kegiatan Resepsi Diplomatik. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Perth Town Hall di pusat kota Perth...

PELAJAR DI AUSTRALIA JAMAH PAPUA

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia mengadakan program sosial bertajuk “Improving Papua and East Nusa Tenggara’s Education” (IMPACT) untuk membantu anak-anak di kawasan Indonesia Timur. Program...

50 tahun Mengukir Prestasi | Professor Margaret Kartomi

Malam itu di salah satu bangunan terbaru yang dibangun di Monash University, yaitu Jazz Club di Ian Potter Center for Performing Arts, dipenuhi dengan...

Ronny Sompie

Baru-baru ini masyarakat Indonesia dari berbagai komunitas di Melbourne berkumpul di South Melbourne Community Centre untuk menghadiri acara malam bakudapa yang diadakan oleh Kawanua Melbourne,...