Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) cabang Victoria kembali menggelar acara Rapat Tahunan di Konsulat Jenderal Indonesia pada Rabu 30 Oktober lalu. Secara umum, AIYA Victoria telah berhasil menggelar 72 event yang terdiri dari 50 minggu Language Exchange Sessions (LXs), 10 kali sesi berbahasa, 3 festival Budaya dan Bahasa Indonesia, 2 kunjungan ke sekolah, 2 workshop bersama KJRI dan Sanggar Lestari, Badminton Day, Film Screening, 2 acara tahunan Basa-Basi dan acara gathering.

Tidak hanya itu, AIYA Vic tahun 2018-2019 juga berhasil menggelar 17 acara dan bekerjasama dengan komunitas lain. Maka tak heran jika jumlah member AIYA naik dengan begitu signifikan dari tahun sebelumnya 63 anggota menjadi 116 anggota.

Peserta Annual General Meeting AIYA

Setelah laporan pertanggungjawaban dari masing-masing departemen dilakukan oleh Komite AIYA Victoria 2018-2019, di saat yang bersamaan pula, anggota AIYA yang datang dan memiliki hak suara memilih Presiden, Wakil Presiden Internal dan Wakil Presiden Eksternal yang baru.

Ada dua kandidat yang maju sebagai calon Presiden yaitu Eva van Dijk dan Bayu Pratama. Setelah pendeklarasian visi misi oleh kedua kandidat dan proses pemilihan yang cukup ketat, terpilihlah Bayu Pratama sebagai Presiden AIYA Victoria 2019-2020. Selanjutnya adalah VP Eksternal dengan dua kandidat yaitu Darcy Murphy dan Eva van Dijk. Tidak berhasilnya Eva pada posisi kandidat lalu membuatnya terpilih menjadi VP Eksternal. Selanjutnya untuk VP Internal, dua kandidat adalah Zoe Croucher dan Samira Lindsey. Zoe yang adalah Bendahara AIYA VIC 2018-2019 akhirnya terpilih untuk menjadi VP Internal 2019-2020.

Bayu Pratama
Presiden AIYA VIC 2019-2020

Bayu yang berasal dari Cirebon adalah seorang yang sangat dikenal di kalangan anak muda karena aktivitasnya yang segudang. Selain mengurus AIYA, Bayu juga terjun langsung di beberapa organisasi seperti Krakatoas Football Club, Centre for Multicultural Youth, Young Leaders of the West, Melbourne City Mission, Victorian Responsible Gambling Foundation.

Melihat perjalanannya di organisasi tersebut, tak heran Bayu menekankan pada kawula muda yang merupakan generasi penerus bangsa. Bayu memang sangat tertarik untuk mengedepankan hubungan bilateral Australia dan Indonesia.

Karena kecintaannya terhadap ikan teri, petai dan jengkol ini, ia juga ingin menaruh perhatian pada kuliner Indonesia untuk kemudian mempromosikan kepada teman-teman berbangsa lain. Tak sampai disitu, kecintaannya terhadap olahraga juga membuatnya ingin memperluas diplomasi di bidang olahraga yang menurutnya mempunyai peran penting apalagi untuk generasi modern. AIYA akan berkolaborasi di bidang olahraga dengan organisasi lain agar muda-mudi Indonesia & Australia di Victoria ini lebih mengenal olaharaga yang berada di Negeri Kangguru maupun permainan tradisional di Indonesia. Dengan ini, tidak hanya AIYA memperluas di bidang olahraga, melainkan mempermudah akses untuk mempererat hubungan kedua negara.

Zoe Croucher
Wakil Presiden Internal

Sering dipanggil Zo, warga Australia asal Sydney ini sedang menekuni pendidikan jurusan Politics, Philosophy dan Economics dengan major Economics. Sebelum menjadi VP Internal, wanita yang suka martabak manis ini menjabat sebagai bendahara dan wakil presiden AIYA di Yogyakarta selama setengah periode pada tahun 2018 sebelum akhirnya kembali ke Melbourne dan tergabung dalam kepengurusan AIYA VIC 2018-2019. Pada Maret tahun lalu, Zo juga berhasil menjadi National Partnership Officer dengan AIYA National.

Tugasnya sebagai VP Internal tidaklah mudah. Zo harus memastikan bahwa bendahara, sekretaris dan devisi komunikasi mampu bekerja dan berkolaborasi dengan baik. Selain juga memastikan kelangsungan acara-acara, memperbanyak jumlah anggota dan bertemu dengan stakeholders untuk membentuk kerjasama dengan AIYA Victoria.

Menurutnya, yang masih kurang saat ini adalah aksesibilitas bagi mahasiswa selain RMIT dan Monash untuk datang ke acara-acara yang diselenggarakan AIYA sehingga Zo ingin sekali membuka jaringan yang lebih luas.

Eva van Dijk
Wakil Presiden Eksternal

Epa – begitu panggilan akrabnya –merupakan salah satu neng geulis yang menghabiskan waktunya di pusat riset sosial di Bandung tahun 2018 bernama AKATIGA. Eva menulis working paper akademik yang mendokumentasikan proses advokasi kebijakan. Eva juga pernah menjadi relawan di organisasi PKBI di Yogyakarta. “Waktu saya di sana saya berkunjung ke beberapa sekolah daerah Gunung Kidul dan Bantul untuk menyampaikan workshop tentang ‘consent’ (persetujuan) dengan beberapa pekerja lain”.

Di Melbourne, Eva bekerja sebagai tutor untuk murid VCE. Tugas Eva sendiri sebagai VP Eksternal adalah untuk memperbesar jaringan AIYA Victoria yaitu dengan menghadiri banyak acara-acara dan mempromosikan AIYA sehingga memiliki peningkatan dari segala sisi. VP eksternal juga harus siap menjunjung tinggi nilai AIYA yaitu Connect, Inform dan Inspire anak muda sebagai komunitas Australia-Indonesia. Seiring dengan target Bayu, Eva pula ingin membuat acara yang seru dan baru serta bercita-cita ingin membuat partnership yang lebih menguntungkan bagi member AIYA.

Devina