Hai Indonesia, Salam Kangen dari Pelajar di Australia

Sudah genap 20 bulan lamanya sejak Australia terakhir menerima kedatangan pelajar internasional. Menutup border semenjak bulan Maret tahun lalu, masih jelas diingatan kita betapa canggungnya suasana dunia saat itu.

Bagi pelajar yang belum sempat berangkat, rencana untuk merasakan dan menikmati suasana negara kanguru ini terpaksa harus ditunda. Pelajar yang berhasil tiba sebelum border ditutup pun merasa khawatir akan keadaan di Indonesia dan kenyataan bahwa untuk beberapa waktu ke depan, kita seperti terkunci di Australia.

Adanya lockdown tidak menghentikan jalannya waktu, sehingga begitu banyak milestone (tonggak pencapaian) yang akhirnya digapai tanpa kehadiran keluarga. Rasa rindu pun kerap terasa, karena ternyata betul, sejauh apapun kita melangkah, Indonesia tetaplah rumah tempat kita dibesarkan.

Di artikel kali ini, bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, BUSET mengajak lima pemuda di Australia untuk berbagi cerita semasa lockdown dan mengungkapkan rasa kangennya terhadap tanah air yang satu, Indonesia.

Apa sih, satu hal yang paling kamu kangenin dari Indonesia?

Fatia Magistra dari Jogja (Mahasiswa Jurusan Master of Culture and Creative Industries, sebelumnya International Tour Guide for Contemporary Art Space di Jogja)

Yang paling aku kangenin dari Indonesia adalah pasar tradisional. Karena seumur hidup, aku tinggal di Jogja, dan yang aku kangenin dari pasar tradisional itu karena aku sering pergi kesana, orang-orangnya kenal aku, dan kita sering ngobrol. Yang paling aku suka adalah kadang-kadang aku pingin beli cabai tertentu, terus aku tanya, ‘Ada engga disini?’. Kalau ternyata engga ada, mereka pasti kasih tau aku, ‘Coba cari di tempat ibu ini atau bapak itu’, jadi sense of community-nya dan saling membantunya itu menyentuh banget.

Emanuel Admiral dari Tanjung Pinang (Mahasiswa Perhotelan, Fotografer)

Aku berasal dari Bintan, dan disana kotanya belum terlalu maju. Jadi itu yang paling aku kangenin, orang-orang dan kehidupan disana. Ketika bangun pagi gak perlu buru-buru ngejar tram, gak perlu harus ini itu. Bangun pagi-pagi langsung ke kedai kopi, cerita-cerita, makan makanan tradisional, anak-anak muda ngobrol sama orang tua di meja kayu yang udah tua-tua. Itu sih yang paling dikangenin.

Jadi kalau ada dermaga, jam 7 pagi itu nelayan baru standard kapalnya, karena mereka baru pulang dari laut abis menangkap ikan. Terus biasanya ada kedai kopi yang bawahnya langsung laut, terbuat dari papan-papan kayu, old fashion, old style. Kita ngobrol sambil makan nasi lemak dan mie goreng.

Ceritain dong, hari sempurna kamu kalau lagi di Indonesia itu seperti apa?

Clara Venisha dari Bandung (Presiden PPIA University of Melbourne 2021-2022)

Hari sempurna buat aku itu dimulai dengan bangun tidur, terus makan bubur ayam. Siangnya pergi ngopi atau brunch sama teman-teman, terus karena mood-nya lagi vacation, kita bakal pergi cari jajanan di pinggir jalan, kayak batagor dan seblak. Terus sore-sore aku pulang, karena aku anak rumahan, terus malamnya pergi sama keluarga. Sebuah hari sabtu yang indah…

Reinnanda Dale Carnegie Putra Budiman dari Jakarta (Pemusik dan Owner Restoran Indonesia Dale La Pau)

Buat aku sih, hari sempurna di Indonesia itu kalau lagi bisa produktif bermusik seharian. Jadi aku bangun, cuci muka, mandi dulu, terus kalau lagi semangat, langsung buka komputer, dan langsung me-record apa yang bisa di-record. Entah itu pakai piano atau gitar, seharian, tanpa mikirin yang lain-lain. Atau kalau lagi ada projek musik yang serius, bangun, siap-siap berangkat dan kerja di studio seharian.

Emanuel

Karena aku hobi fotografi, hari sempurna aku dimulai dari jam 5 subuh, bangun terus ke pasar tradisional yang lokasinya sekitar 30 menit dari rumah. Terus aku foto-foto kegiatan pasar bareng teman-teman sambil ngobrol dengan orang-orang disana, selama dua jam. Setelah itu kita pergi sarapan bareng. Nanti pas cuacanya udah agak panas, kita pulang ke rumah masing-masing. Sorenya, biasa kita ke pantai, bawa kompor portable sama teko-teko kecil, nongkrong deh di pinggir pantai, bawa gitar atau speaker. Kita bikin teh dan kopi sendiri, sambil menikmati senja. Menurut aku itu perfect sih, sederhana tapi unik dan tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Apa sih nilai kehidupan dari Indonesia yang membuat kamu paling terkesan dan jarang ditemui disini?

Emanuel

Respect-nya. Jadi kalau memanggil orang yang lebih tua itu, gak mungkin langsung panggil namanya. Kalau di sekolah kita panggil Pak, Bu. Mungkin kalau disini orang bingung, ‘Ngapain juga sih harus begitu?’.

Kalau menurutku, bukan tentang perlunya, tapi esensinya yang berbeda ketika pakai “Kak”. Kadang-kadang aneh kalau lihat ada anak 5 tahun langsung memanggil pakai nama. Panggilan “Kak, Pak, Bu”, itu bisa membuat kita lebih akrab, karena jadi berasa kayak ‘kakak’ betulan. Aku suka tata krama kayak gitu dalam memanggil orang lain.

Orang Indonesia juga suka gotong-royong, sedangkan orang disini rata-rata individualistis. Gak usah sama tetangga, bahkan sama housemate aja hidupnya sendiri-sendiri. Jadi kalau menurut aku kurang ada koneksi, apalagi kalau dibandingin sama anak-anak Indonesia di pedesaan.

Dale

Gotong royong, saling membantu antar tetangga. Kan kita mahkluk sosial ya, jadi kalau di Indonesia, sama tetangga kita kalau ketemu suka senyum dan salam, saling bantu kalau ada yang perlu dibantu. Disini aku belum pernah ngeliat orang gotong-royong dengan cara yang kayak di Indonesia. Engga pernah kan kita lihat bapak-bapak disini malam-malam ngeronda atau bersihin kompek? Disini rata-rata orang individualistis, bahkan di perumahan sekalipun, pagi berangkat, malam pulang langsung masuk rumah, tanpa sapa kiri-kanan.

Selain itu, aku juga paling rindu sama ucapan Assalamualaikum dan Suara Adzan.

Apa pelajaran paling berharga yang kamu dapatkan selama dua tahun terakhir belum bisa pulang ke Indonesia?

Mitchelle Budiman (Head of @kain.makna by NGO Solar Chapter)

Jadi mandiri sih. Karena untuk aku secara personal, tadinya keluargaku sering banget main kesini, jadi sering ketemu. Sekarang itu betul-betul harus hidup sendiri, buat pilihan-pilihan besar dan kecil sendiri. Ditambah lagi dengan teman-teman yang pada pulang, jadi belajar buat lebih independen lagi.

Menurutku, ini nilai yang penting buat kita pelajarin. Bukan berarti kita bisa hidup tanpa orang lain, kita tetap manusia sosial, tapi kita jadi lebih bisa berharap sama orang yang lebih dekat aja dan gak terlalu ngoyo buat bersosialisasi. Bersyukur aja sama apa yang kita punya saat ini. Apalagi kalau lihat negara2 lain, banyak yang penanganannya lebih buruk, jadi kita bersyukur berada di Melbourne.

Clara

Kita lebih menghargai semua yang kita punya. Karena tadinya kita menganggap kalau pulang itu gampang, tinggal naik pesawat, langsung bisa bertemu teman-teman dan keluarga. Tapi sekarang gak lagi segampang itu. Dulu kita gampang untuk ke sana ke sini. Sekarang ini kita harus tahan dengan kondisi ini.

Kita juga lebih menghargai kesempatan untuk bisa berada di Melbourne. Karena banyak yang pulang dan gak bisa balik lagi. Banyak yang bahkan belum pernah ke sini sama sekali. Kalau aku sendiri bersyukur banget karena punya kesempatan bisa hidup, sekolah dan kerja disini, di masa seperti ini. Hal-hal yang tadinya kita pikir biasa aja, seperti duduk di kelas dan ketemu orang secara langsung, jadi lebih berarti setelah adanya pandemi ini.

Terus karena aku tergabung dalam PPIA, jadi tahu banget kalau banyak perjuangannya student yang masih di Indonesia. Bayangin aja, sekolah di University of Melbourne tapi belum pernah datang ke Australia, jadi sedih kan lama-lama, apalagi kalau kuliahnya cuma tiga tahun.

Apa sih bagian dari kebudayaan Indonesia yang paling ingin kamu dalami, kalau ada kesempatannya?

Tia

Aku ingin mendalami tarian tradisional. Karena aku menari biasa aja engga bisa. Sebagai orang Jogja, Keraton itu penting banget buat aku. Dan salah satu syarat yang harus dilakukan seorang Sultan adalah membuat tarian. Jadi mereka akan merancang semuanya, mulai dari musik, gerakan, kostum, dan sebagainya. Aku punya, sih, teman-teman ketika kuliah di Insitut Seni Indonesia Yogyakarta dulu, yang bisa dimintain tolong untuk mengajari aku. Karena aku orangnya awkward banget.

Di sini aku belajar yoga dan akhir-akhir ini aku belajar Taichi. Aku pikir, ‘Ini kok mirip sama Tarian Jawa, pelan dan sampai keujung jari dan sebagainya’. Jadi aku pingin belajar Tarian Jawa untuk alasan budaya dan alasan kesehatan.

Mitchelle

Aku pingin belajar menenun kain. Soalnya keren banget kalau bisa. Pingin belajar menenun yang pakai papan segi empat, terus ditarik, seperti ibu-ibu di daerah NTT. Karena kita bisa menciptakan pattern-nya sendiri dan bisa menghasilkan macam-macam barang dengan hasil tenunan itu. Moga-moga, kalau ada kesempatan belajar menenun, aku bisa ikut melestarikan budaya ini, karena sekarang kan rata-rata penenun masih berasal dari NTT semua, di Jakarta jarang ada yang bisa.

Velahttp://www.buset-online.com
A writer, a media and communication student, a passionate food-taster and a culture-admirer.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

IVAN GUNAWAN INGIN MENINGGALKAN DUNIA DENGAN BERKARYA

Seorang perancang busana dan entertainer tanah air ini ternyata memiliki jadwal yang ketat setiap harinya. Kendatipun, Ivan selalu berpandangan positif dan terus mengupayakan yang...

ADDITIONAL COVIDSAFE MEASURES TO KEEP VICTORIANS SAFE

Tuesday, 25 May 2021ADDITIONAL COVIDSAFE MEASURES TO KEEP VICTORIANS SAFEAs public health officials work to pinpoint the source of these latest cases, additional COVIDSafe...

MASYARAKAT INDONESIA PROMOSIKAN BUDAYA BANGSA LEWAT PARADE MOOMBA

Moomba yang diadakan tiap tahunnya pada Labor Day (Hari Buruh Nasional) kembali membawa masyarakat Melbourne berkumpul guna berbagi keberagaman budaya dan seni. Tema parade...

Mengintip Kegiatan Indonesian Community di Moreland Primary School Fete – Carnival of Cultures

Baru-baru ini Moreland Primary School (MPS) mengadakan bi-annual event, yaitu Fete atau karnaval kebudayaan pada pukul 10 pagi hingga 4 sore hari. Di tengah cuaca yang mendung...

Bincang-bincang dengan Komikus Indonesia

Happy International Comic Day!Selamat Hari Komik Bergambar Internasional bagi semua sahabat BUSET yang gemar membaca komik! Indonesia terkenal sebagai negara yang penuh dengan kesenian-kesenian...