Pada Sabtu sore di Drill Hall, Multicultural Hub, pengunjung dihibur oleh adegan stand up comedy bertemakan “Kartini Jaman now”. Sang komika yang menjadi bintang tamu dalam acara ini adalah Sakdiyah Ma’ruf. Bagi yang belum kenal, ia adalah sosok komika yang aktif di Indonesia, dan terkenal sering membawa topik-topik yang bisa dianggap sensitif untuk dibawakan di Indonesia, seperti menyenggol tema konservatisme, meningkatnya kaum Muslim ekstrimis dan juga hak wanita. Ia juga masuk dalam daftar 100 perempuan yang dianggap inspiratif dan berpengaruh oleh BBC, atau dikenal dengan BBC 100 Women.

Dilahirkan dari keluarga Hadrami Arab yang dikenal keras terhadap anak wanita, tidak menyurutkan semangat Sakdiyah untuk terus belajar. Ini menjadi salah satu alasan Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) mengundangnya, yakni untuk membuka wawasan serta memahami perbedaan budaya. 

Saat memasuki panggung, Sakdiyah menyambut para hadirin dengan pengalamannya berjalan-jalan di kota Melbourne, terutama kebiasaan penduduk setempat dalam berpakaian hitam. “Today I started to respect Melbourne by wearing black. Melbourne is such a beautiful city but when I walked at 6 am I thought, who died today? It’s like everyone is rushing for a funeral, everyone wears black! What is everyone so sad about?”.

Selain bercanda tentang kebiasaan orang di Melbourne dan juga banyaknya orang Indonesia di Melbourne, beberapa tema yang diangkat wanita asal Pekalongan tersebut termasuk seperti pengalamannya berjilbab sejak kecil, pengalaman pribadi tentang sulitnya mendapat restu dari keluarga untuk bisa pergi kuliah, perjuangan yang harus ditempuh wanita untuk meraih gelar pahlawan nasional, serta menyentil tren kelompok teroris yang mulai merekrut wanita.

Topik-topik tersebut mampu Syakidah kemas bergantian dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta dengan selera humor yang terasa ironi namun mengundang tawa para penonton. Misal ia juga mempunyai “solusi” untuk teroris di Indonesia. “Indonesia for instance, is rich in natural resources right, so I can suggest perhaps that Indonesian Jihadists should start dropping guns, because it’s too white! And start using local weapons, like rocks, sticks, this could definitely earn them a better image. Because they can label their actions as ‘eco-terrorism’, We hate you, but we love the environment!” candanya.

Sakdiyah mengaku bahwa dirinya terus bertekad untuk melanjutkan perjalanan studinya dan menjadi seorang akademis. Kendati demikian, komedi tetap memiliki arti yang spesial baginya. “Comedy is my life, I don’t want to be too cliché in saying that it is empowering, uplifting, they are heartfelt, very deep, and I take this very seriously,”  ungkap lulusan gelar Sarjana Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada tersebut.  

Tantangan yang dihadapi di Indonesia salah satunya adalah jarangnya mendapat undangan untuk tampil di televisi. Walau begitu, menurut Sakdiyah, masih banyak masyarakat Indonesia yang ingin membicarakan topik-topik yang “off air” tersebut. “I think Indonesians are hungry to talk about these topics. We just need to open ourselves, can somebody be less scared than me to talk about it? Comedy is a catharsis, it’s to start a conversation,” tutur ibu dari satu anak tersebut. 

Ia lantas menutup dengan pernyataan dari pertanyaan yang pernah dikirim kepadanya kalau apakah komedian bisa mengubah dunia, yang ia jawab dengan “tidak”. Namun baginya komedi dapat menjadi cara untuk membicarakan topik yang sulit, menggapai hati orang, dan untuk tetap bertahan meskipun hidup terkadang terasa sulit.


Apa Kata Mereka

Yana Forgione, staff Australia Post

Being a comedian for a lot of us is not an easy job. Kalau misalnya bikin guyonan garing atau apa, to be able to still stand, and the crowd is not bad as well, surprised banyak bule juga. She’s outside of the boundary istilahnya.

Akira Bhagawanta, pelajar

She’s covered some pretty sensitive topics, but I think she’s trying her best to alternate between English and Indonesia, although I think Indonesian is where she’s most comfortable in. I speak more English than Indonesian, but she did pretty well in conveying her message.

Sebelum stand up comedy dimulai, para penonton dihiburkan dengan tarian Indonesia yang diperagakan oleh Sanggar Lestari Melbourne. Tari pertama yang ditunjukan adalah Tari Lenggang Nyai, sebuah tarian tradisional Betawi yang memiliki arti dari kata ‘lenggak-lenggok’ yang berarti bergoyang, dan ‘Nyai’ yang diambil dari ‘Nyai Dasimah’, seorang wanita yang berjuang untuk hak dan kebebasannya. Selain itu, ada pula Tarian Klono Topeng asal Jawa Tengah, yang memperagakan penggunaan topeng serta gerakan tubuh yang kompleks. Terakhir, Sanggar Lestari Melbourne menggabungkan tarian tradisional dengan gaya hip-hop.

Denis