“Buat saya rumah ini hanya mewarisi kenangan buruk!” bentak Randy dengan lantang di tengah rumah yang tak pernah mungkin ia sebut miliknya. Rumah yang berdiri di atas berlapis-lapis gelapnya rahasia dan kebohongan keluarga Wijaya. Sebuah kisah mengenai pilunya realita yang diangkat oleh Titimangsa pada pertunjukkan teater daring berjudul, Rumah Kenangan.

Titimangsa Foundation adalah sebuah yayasan nirlaba yang bergerak di dalam industri seni dan budaya. Titimangsa dibentuk oleh Happy Salma pada Oktober 2007 bersama Yulia Evina Bhara yang kini telah memfokuskan diri pada dunia perfilman. Titimangsa lahir sebagai organisasi yang memusatkan pekerjaan mereka untuk menjunjung karya-karya sastra Indonesia yang direkayasa ulang menjadi sebuah seni pertunjukan atau seni sandiwara audio. Hingga saat ini Titimangsa telah memproduksi begitu banyak pementasan seperti “Nyanyi Sunyi Revolusi”, “Perempuan-perempuan Chairil”, dan “Monolog Inggit”.

Sayangnya, masa perpanjangan pembatasan sosial berskala besar yang pada bulan Juni diperpanjang sebagai solusi penanggulangan COVID-19. Dikarenakan itu penyelenggaraan kegiatan-kegiatan wisata, ekonomi kreatif, dan seni budaya ditunda. Keputusan pemerintah ini menghambat setiap pertunjukkan teater Titimangsa yang dijadwalkan untuk ditayangkan pada waktu itu. Tetapi mereka tidak putus asa! Mereka melihat peluang besar untuk mengalihkan setiap karya seni mereka menggunakan internet dan platform-platform penyiaran.

“Pada hakikatnya sastra merupakan respon para seniman terhadap situasi. Terlebih lagi seni memiliki sifat yang begitu fleksibel untuk dengan mudah beradaptasi dengan setiap perkembangan zaman yang dihadapi. Karena itu, sastra dan seni tidak akan pernah mati. Ketika pandemi menghadang, memang seni pertunjukan di Indonesia tidak beroperasi sama sekali. Tetapi Titimangsa tidak berhenti bekerja dan memanfaatkan bentuk media lainnya. Itulah yang menjadi ide awal dari podcast “Sandiwara Sastra” dan pertunjukan teater daring “Rumah Kenangan” kemarin,” jelas Pradetya Novitri yang adalah kepala produksi Rumah Kenangan.

Cerita Rumah kenangan lahir dari diskusi Happy Salam bersama Bakti Budaya Djarum Foundation mengenai kemunduran pentas “Monolog Inggit” dan bagaimana kami ditantang untuk beradaptasi dengan pandemi. Titimangsa terinspirasi dari keadaan banyak keluarga yang karena COVID-19 terpaksa untuk berkumpul bersama dan menghadapi setiap lapisan permasalahan yang telah lama diabaikan. Seperti banyak keluarga di Indonesia, keluarga Wijaya menyimpan berbagai masalah dan rahasia yang tak pernah terungkap. Tak lama selepas pilunya perceraian dengan mantan istrinya, Raden (Butet Kartaredjasa) dan Amelia (Ratna Riantiarno) dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Mutiara (Happy Salma), putri tunggal Raden masih tidak bisa menerima yang ia anggap adalah perselingkuhan ayahnya dengan Amelia. Setelah sepuluh tahun merantau ke Singapura, Nancy alias Mutiara pulang membawa gelar direktur marketing untuk mengubur realita pekerjaanya sebagai penari klub malam. Randy, putra Amelia untuk waktu lama menampung setiap penghinaan yang ia harus telan tiap hari dari Raden dan sekarang Mutiara. Lapis demi lapis dari kebohongan terbuka dan keluarga Wijaya dengan segan menghadang pilunya kebenaran-kebenaran yang lama disembunyiakn di depan Mona (Wulan Guritno), teman Mutiara dan pembantu rumah tangga, Parto (Susilo Nugroho)

Walau begitu, proses memproduksi pertunjukkan “Rumah Kenangan” dikarenakan PSBB menemui begitu banyak halangan. Setiap pekerja harus menetapkan protokol kesehatan dengan memakai masker juga mencuci tangan dengan bersih. Tim kerja yang dibutuhkan juga harus dibatasi yang membuat satu orang anggota tim untuk mengerjakan begitu banyak pekerjaan sekaligus. Terlebih lagi, karena ini adalah kali pertama bagi Titimangsa untuk mempersembahkan karya-karya mereka secara digital. Tetapi segala rintangan, latihan melalui zoom, karantina terbayar dengan jumlah dukungan positif yang diterima jauh lebih dari yang diantisipasi. Para penggemar Titimangsa pun tidak berhenti untuk dengan setia mendukung terlepas dari semua masalah dan halangan. Titimangsa begitu dicintai oleh banyak orang hingga pada hari ke-10 penjualan tiket “Rumah Kenangan” telah terjual 2500 tiket.

“Tak cukup terima kasih bagi 2500 penonton yang telah menyisihkan sebagian pendapatan dan meluangkan waktu juga upaya untuk menonton “Rumah Kenangan”. Antusiasme dan dukungan yang mengalir menjadi suntikan energi melimpah bagi kami. Kami tidak merasa kehilangan suara tepukan penonton karena rasa itu tersampaikan berkat pesan-pesan hangat yang terkirim pada kami. Saya harap Titimangsa tidak berhenti untuk mengangkat karya sastra Indonesia dengan spektrum alih wahana yang lebih luas juga lebih banyak kolaborasi dengan berbagai seniman lintas profesi. Saya juga berharap bagi seni pertunjukan Indonesia agar bisa terus panjang umur dan menjadi industri yang menopang seniman-seniman Indonesia,” ujar Pradetya.