Selamat hari pendidikan bagi semua insan pendidikan!

When I was a little girl, I have a big dream to be a successful woman on carrier, and I won’t stay poor in the same place in my hometown “Sumba” ever.
But when I get back from my college to hometown I walked around villages. I saw many children were like miracle with hope to keep them glowing by giving my little hand.
I thought they need me. How arrogant of me with my own obsession then I must leave the generations without nothing to do. My heart was crumbled then I swear “I’ll fight for the Children, I’ll fight for Sumba to be a better place, for the kids for the better life” even at the time I have nothing special or much money to spend.

~Asti Kulla~

Hari Pendidikan kali ini, Buset mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan seorang perempuan muda penerus R.A Karini dan Ki Hajar Dewantara dari wilayah timur Indonesia. Gadis muda ini bernama lengkap Roswita Asti Kulla (Asti) yang lahir dan besar di Pulau Sumba, propinsi Nusa Tenggara Timur.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 fakultas Bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi di Malang, ia memutuskan untuk menjadi guru di kampung halamannya Lamboya, Kabupaten Sumba Barat. Saat menjadi guru honorer di salah satu sekolah menengah atas, Asti merasa bahwa ia sangat menyukai aktivitas tersebut. Asti seolah merasa bahwa ia dilahirkan untuk mengajar semua anak-anak di desanya. Hasrat dan kecintaan pada aktivitas mengajar inilah yang membuat Asti tidak bisa hanya mengajar di ruang kelas yang membatasinya untuk berjumpa dengan anak-anak lainnya.  

Kemudian Asti membuka kelas Bahasa Inggris gratis di banyak pesisir pantai wilayah Sumba Barat, inilah awal mula berdirinya yayasan English Goes to Kampung (EGK).

EGK telah dirintis seorang diri oleh Asti sejak tahun 2016. Semakin banyaknya siswa dari berbagai usia yang ikut serta dalam EGK ini, membuat Asti kewalahan dan pada tahun 2018 ia memberanikan diri untuk memperkenalkan EGK di media sosial demi menjaring para relawan.

Hanya dalam waktu 1 tahun, EGK mulai dikenal banyak orang khususnya masyarkat Sumba dan banyak anak muda datang silih berganti menjadi relawan ajar bagi siswa-siswi EGK. Selain kaum muda Sumba, rupa-rupanya EGK juga menarik perhatian para turis baik lokal maupun internasional dan tak jarang para turis ini menyempat diri menjadi relawan bagi EGK. Dari lokasi ajar di pesisir pantai kini EGK telah dihadirkan hampir di semua kampung-kampung adat/desa tradisional di wilayah Sumba Barat. Setelah mendapatkan dukungan dari banyak pihak akhirnya pada pertengahan tahun 2019, EGK resmi menjadi sebuah yayasan.

Melalui wawancara via telepon, Asti mengungkapkan bahwa “selain karena cinta kepada anak-anak dan hasrat saya adalah mengajar, sebenarnya EGK ini juga dapat dikategorikan sebagai Sustainable Project. Semua siswa tetap dapat belajar meski kelasnya adalah alam terbuka, sebelum kelas dimulai biasanya siswa diajak untuk membersihkan pantai atau kampung paling tidak ya sekitaran tempat mereka duduk. Lalu siswa yang sudah cukup bisa akan mengajari siswa lainnya.”

Kerap kali Asti memang harus kembali kawalahan menangani kelas-kelasnya yang semakin banyak apalagi ia juga tetap menjadi guru di sekolah formal, karena kenyataannya tetap saja tidak banyak orang yang mau menjadi relawan tanpa bayaran. Hal inilah yang mengokohkan tekat Asti untuk menjalankan Sustainable Projec System yaitu sistem yang hanya menggunakan SDA dan SDM disekitarnya secara berkelanjutan hingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan anak-anak di perkampungan Kabupaten Sumba Barat bahkan di seluruh Pulau Sumba.

Berikut adalah beberapa Sustainable things yang tengah dilakukan oleh Asti dan para relawan EGK:

  1. Anak-anak yang telah mahir dalam beberapa bagian pelajaran akan membantu sebagai tenaga ajardi kelas-kelas lainnya. Hal ini membuat anak-anak semakin percaya diri dan terlatih untuk berbicara di depan umum. 
  2. Para relawan yang terlibat dapat mengajarkan berbagai pelajaran kepada siswa sesuai dengan latar belakang pendidikan formal maupun non formal (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, MIPA, Sosial-ekonomi, kesenian-keterampilan, nasionalisme, kesehatan dan sebagainya). Hal ini memungkinkan siswa belajar banyak hal di luar jam sekolah bagi yang bersekolah dan juga bagi yang tidak bersekolah.
  3. Kaum muda Sumba yang tengah atau telah menjadi relawan EGK diharapkan untuk menggagas hal yang sama di desa masing-masing. Bahkan Asti tidak keberatan jika kelas-kelas baru yang dibuka oleh para relawan tidak lagi menggunakan nama EGK. Sebab para relawan memiliki latar belakang ilmunya masing-masing.
  4. Lokasi kelas di pesisir pantai dan perkampungan adat adalah sekaligus wilayah pariwisata sehingga Asti tanpa malu-malu memperkenalkan EGK kepada para turis dan mengajak mereka untuk menjadi relawan ajar.
  5. Para relawan muda Sumba maupun para turis biasanya akan menjadi penyumbang bagi EGK. Sumbangan tersebut berupa sumbangan relasi maupun sumbangan finansial untuk melengkapi alat bantu balajar-mengajar. Seorang relawan yang menyelesaikan tugas ajar di EGK pasti akan menyampaikannya kepada rekan-rekannya yang kemudian akan menjadi relawan pengganti ataupun mengirimkan bantuan peralatan tulis menulis maupuan bantuan literasi.
  6. Nilai-nilai dan praktek peduli lingkungan adalah hal yang paling sering disisipkan dalam materi-materi ajar para relawan.
  7. Relawan dan siswa-siswi EGK harus selalu terlibat dalam mengkampanyekan setiap isu yang sedang tren. Saat ini tengah dilaksanakan proyek EGK Against Covid-19 di Sumba. para relawan mengedukasi siswa terkait covid-19 dan pencegahannya lalu siswa melanjutkannya di rumah masing-masing kepada orang tua dan keluarga. 

Berkat kerja keras dan ketekunannya dalam membesarkan EGK, Asti telah menjadi a role model bagi anak-anak muda di pulau Sumba khususnya bagi perempuan Sumba. Asti juga telah beberapa kali menjadi pembicara dan tamu inspirative dalam diskusi serta pertemuan-pertemuan pendidikan berskala lokal maupun internasional. Salah satu kegiatan yang pernah diikutinya adalah International Youth Forum 2019 di Roma.

Aktivitas  EGK juga telah  diliput oleh beberapa stasiun tv swasta dalam negeri. Saat ini Asti masih tertatih menjalankan EGK Foundation sebab diakuinya bahwa ia tidak memiliki pengelaman mengelolaan yayasan. Juga diaku oleh Asti bahwa sulit menemukan orang-orang yang mau bekerjasama untuk menjadi bagian tetap dalam kepengurusan EGK Foundation kerena memang yayasan ini bersifat non profit.

EGK Foundation juga belum memiliki website resmi dan kantor. Saat ini kerinduan terbesar Asti dalam semua keterbatasannya adalah menemukan orang-orang yang bersedia menolongnya dan EGK foundation dalam pembuatan website dan pendirian kantor. Asti merasa perlu untuk memiliki kantor karena jumlah siswa-siswi yang semakin banyak maka diperlukan tempat yang lebih layak untuk menyimpan data-data siswa maupun para relawan yang selama ini hanya tersimpan dalam kamar tidur Asti. Juga agar EGK memiliki alamat yang tetap dan jelas sebagai tujuan berbagai bantuan yang dikirimkan oleh relawan. Bagi para pembaca yang ingin lebih mengenal Asti dan EGK atau ingin menjadi relawan, silakan mengunjungi akun Instagram

@roswitakulla  https://www.instagram.com/roswitakulla/

@englishgoestokampung  https://www.instagram.com/englishgoestokampung/

(semua gambar adalah dari akun instagram @roswitakulla  dan @englishgoestokampung )

Tity
(foto @roswitakulla  dan @englishgoestokampung )