Rosianna Silalahi : Wanita di Balik Kesuksesan Kompas

0
152

Dari menjadi Pemimpin Redaksi Liputan 6 di SCTV pada tahun 2005 hingga sekarang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di Kompas TV, Rosianna Magdalena Silalahi atau dikenal sebagai Rosianna Silalahi telah berhasil mewarnai karirnya dengan banyak penghargaan mulia dan prestasi luar biasa di dunia jurnalisme. Pada suatu kesempatan BUSET mendapatkan kehormatan untuk bertemu dan mewawancarai presenter ternama dalam dunia media Indonesia ini.

Kisah Cinta Rosianna Terhadap Jurnalisme

Menjadi seorang jurnalis merupakan sebuah impian bagi wanita kelahiran Belitung ini. Ketika ia masih menduduki bangku Sekolah Dasar, sudah menjadi sebuah hobi bagi Rosianna Silalahi untuk menonton acara Dunia Dalam Berita di stasiun TVRI. Hobi menonton siaran berita ini terus mengakar hingga Rosianna menemukan figur yang begitu ia idolakan, Christiane Amanpour, seorang jurnalis dan pembawa acara terkenal asal Inggirs yang kini bekerja sebagai kepala penyiar internasional CNN. Melihat idolanya beraksi di lapangan, melaporkan begitu banyak berita live report di berbagai belahan dunia menanamkan sebuah angan dalam diri Rosianna untuk menjadi sepertinya. Sehingga ketika ia beranjak dewasa dan menempuh Pendidikan tingkat SMA di SMA Santa Ursula ia mendaftarkan diri untuk aktif berpartisipasi dalam majalah Serviant di sekolah.

Selepas kuliah, Rosianna pun dengan tekat yang besar terjun ke dalam dunia media yang diawali dengan program magang di perusahaan koran Bisnis Indonesia sebelum akhirnya ia diterima untuk bekerja di SCTV. Wawancara demi wawancara, Rosianna Silalahi terus gigih menghidupi mimpinya sebagai seorang presenter berita dan memenangi gelar Presenter Berita Terbaik pada ajang Panasonic Award tahun 2005 beserta penghargaan-penghargaan lainnya.

foto: Kompas TV

“Menjadi seorang presenter berita di televisi menurut saya merupakan sebuah tugas tambahan bagi seorang wartawan atau seorang jurnalis. Saya sebagai seorang jurnalis yang berkecimbung di media televisi, karena adanya aspek audio visual, saya harus menuliskan sekaligus membacakan suatu berita sebagai suatu narasi selaku metode saya melaporkan berita tersebut. Tetapi secara dasar, saya lebih nyaman untuk menyebut diri saya ini sebagai seorang jurnalis,” ujarnya.

Pengalaman Seru Dunia Jurnalistik

Rosianna sempat bingung ketika ditanya pengalaman yang paling berharga. Menurutnya, setiap pengalaman yang ia temui dan dapatkan selama ia bekerja selalu nyantol di hatinya. Ia bercerita bahwa momen ter-BUSET nya dalam bekerja sebagai seorang wartawan pada saat itu adalah ketika ia mewawancarai secara eksklusif Presiden Amerika Serikat ke-43, George Walker Bush di Gedung Putih. Karena diberikan waktu yang begitu sedikit untuk mewawancarai Presiden Bush, ia terus mengulurkan waktu dengan mengobrolkan banyak hal hingga membuat para pekerja Gedung Putih marah. Rosianna bercerita bahwa momen paling membanggakan dari wawancara tersebut adalah ketika sedang berbincang mengenai istrinya, Laura Welch Bush yang merupakan seorang guru, George W. Bush menyampaikan salam kepada ibu Rosianna yang juga seorang guru.

Ia lalu megisahkan pengalamannya mewawancarai Presiden Iran ke-6, Mahmoud Ahmadinejad yang pada awalnya menolak untuk diwawancarai. Tetapi ia tidak menyerah dan dengan cuek ia terus melawan hantaman yang diberi oleh paspampres Presiden Ahmadinejad. Ia terus dengan gigih mengejarnya hingga akhirnya ia berhasil mencegat sang presiden di dalam lift, kian membujuknya untuk diwawancarai walau hanya lima menit saja. Akhirnya dengan pasrah dan terpaksa, Presiden Ahmadinejad pun menyetujui sebuah wawancara. Menambahkan kegaduhan momen itu, Rosianna menyadari dirinya melupakan kerudung yang seharusnya ia pakai.

“Di momen yang mencekam itu saya berlari ke mobil untuk mengambil kerudung saya terlebih dahulu dan kembali lagi untuk mewawancarai Presiden Ahmadinejad. Tetapi, menjelang malam Presiden Ahmadinejad baru menyadari bahwa saya memang dijanjikan oleh kedutaan besar Iran jadwal wawancara dengan beliau. Jadi, malam itu beliau mengantarkan menterinya untuk meminta maaf kepada saya dan menghadiahkan saya lukisan Persia sebagai token of apology,” kisahnya.

Kenangan SMA yang Tak Terlupakan

Tidak salah lagi, zaman SMA adalah saat-saat terindah dalam kehidupan seseorang. Pernyataan ini tidak mengecualikan momen-momen Rosianna Silalahi yang menempuh pendidikan SMA-nya di SMA Santa Ursula, salah satu sekolah Katolik yang terkenal di Jakarta.

Kenunikan dari SMA Santa Ursula adalah bagaimana sekolah ini merupakan sekolah homogen dengan seluruh siswa yang terdaftar di dalamnya bergender perempuan. Dengan memiliki karakter yang tidak umum ini, beberapa stereotip muncul dalam menggambarkan komunitas pelajar SMA Santa Ursula – bahwa anak-anak Santa Ursula adalah anak-anak yang sangatlah ambisius, dispilin, kurang pergaulan karena terlalu banyak belajar, juga lugu.

Tetapi semua rumor itu kemudian ditutup oleh Rosianna Silalahi karena semata-mata penilaian yang salah akan sekolahnya. Dia menyebutkan bagaimana sekolah homogen seperti Santa Ursula tidak menjadikan para siswa di dalamnya untuk kemudian menjadi lugu karena kurangnya bersosialisasi terutama dengan lawan jenis.

foto: Kompas TV

“Terutama dalam hal bergaul dengan anak-anak lelaki, kami tidak lalu menutup jaringan pertemanan kami. Kami masih tetap berteman dengan murid-murid dari sekolah lain seperti anak-anak dari Kolese Kanisius. Jadi menurut kami, ketidakhadiran siswa-siswa lelaki di sekolah kami bukanlah sebuah issue atau masalah,” lanjutnya.

Rosianna lalu menjelaskan bahwa memang Santa Ursula adalah sekolah yang mendidik para muridnya untuk menjadi pribadi yang disiplin dan taat aturan. Terutama ketika pada masa ia masih bersekolah, Suster Francesco Marianti OSU, yang adalah kepala sekolah SMA Santa Ursula saat itu terkenal sebagai kepala sekolah yang galak atau killer. Tetapi, semua itu tidak menghentikan para siswa sekolah ini untuk tidak berbuat nakal. Rosianna pun dengan mantap menerangkan bahwa tantangan itulah yang membuat kebandelan masa SMA-nya semakin seru dan menyenangkan.

Rosianna mengisahkan bahwa ia bukanlah seorang kutu buku dengan rutinitas hariannya hanya pergi ke sekolah, belajar, pulang, lalu belajar lagi. Ia tidak terobsesi akan nilai-nilai akademiknya dan tetap menikmati masa mudanya dengan bermain. Terutama karena masa-masa SMA berarti banyaknya pesta ulang tahun sweet seventeen, ia pun tidak segan berpesta ria dengan teman-temannya. Ia mengatakan bahwa sekolahnya selalu membekalkan setiap muridnya akan pendidikan karakter. Sudah merupakan sebuah tradisi yang dipraktikkan puluhan tahun lalu untuk mengembangkan karakter murid-muridnya seperti kepemimpinan, kekeluargaan, dan empati sosial.

“Kepala sekolah saya, Suster Francesco pernah menyampaikan kepada saya bahwa apa gunanya kamu pintar kalau kamu tidak berguna. Perkataan itulah yang selalu saya ingat-ingat dari segala nasihat yang ia berikan kepada kita murid-muridnya. Inilah inti mengapa Santa Ursula mendidik kami agar keberadaan kita dapat membawakan arti dan manfaat bagi masyarakat sekitar. Seperti pada suatu waktu saya termasuk dari beberapa murid yang mendapatkan kesempatan untuk mengajarkan anak-anak nelayan yang berasal dari keluarga berkekurangan. Jadi saya merasa bahwa pendidikan karakter ini merupakan sebuah nilai tambah bagi saya murid Santa Ursula karena hal ini sudah lama ditradisikan dalam sekolah kami sejak bertahun-tahun lalu ketika kepentingannya baru saja digaung-gaungkan beberapa tahun lalu tentang pendidikan di Indonesia,” jelasnya.

Persaingan Broadcast TV dan Video Digital

Memasuki dekade baru ini, para peneliti media global melaporkan bahwa jumlah konsumsi akan video digital di seluruh dunia terus meningkat dan secara perlahan mulai mendekati jumlah konsumsi siaran televisi. Dikatakan dalam Global Media Intelligence Report pada tahun 2019 bahwa pertumbuhan dan perkembangan konten juga layanan video digital, baik yang berbayar maupun tidak, telah membuat video-on-demand (VOD) menjadi sangat digemari.

VOD atau yang juga disebut sebagai internet television adalah sebuah peron hiburan audio-visual yang memberikan kebebasan bagi para penonton untuk memilih dan mengontrol program video dan klip apa yang ingin ditonton kapanpun mereka mau – seperti Netflix, Youtube, iFlix, Crunchyroll, dan Google Play.

Laporan berita yang disiarkan melalui televisi merupakan sebuah tren yang begitu besar di kalangan masyarakat Indonesia. Mengetahui tren VOD ini terutama ketika data dari Statista pada tahun 2019 yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara ketiga dengan pengguna internet terbanyak di Asia, apakah tren VOD ini mengganggu konsumsi siaran saluran TV berita?

Rosianna menjelaskan bahwa fenomena media ini dikenal dengan sebutan disrupsi di era digital. Dahulu, ketika pengaruh digital negara Indonesia belum sebesar sekarang, Indonesia hanya memiliki satu saluran tv yang memfasilitasi masyarakat dengan tontonan berita yaitu TVRI. Pada saat itu manajemen saluran-saluran tv seperti TVRI inilah yang mengatur jadwal-jadwal tayangan program siaran. Sehingga ketika seseorang ingin menyaksikan sebuah tayangan berita harus menunggu pada jam-jam tertentu seperti jam 6 sore untuk siaran Liputan 6 petang.

Lalu, industri media televisi Indonesia mulai berkembang hingga bermunculan saluran-saluran tv swasta yang baru sehingga masyarakat Indonesia memiliki lebih banyak pilihan tontonan. Tetapi seiring waktu berlalu, semakin dunia terpengaruhi oleh arus globalisasi, industri media di Indonesia pun turut berkembang dan berubah dalam bidang teknologi. Kemajuan itulah yang akhirnya membuka pintu bagi tren VOD ini untuk masuk ke Indonesia.

Kelahiran tren tersebut telah menjadi sebuah kebudayaan media yang baru dan mendorong penurunan nilai penonton siaran-siaran televisi. Tetapi perubahaan ini tidak didasari alasan bahwa orang-orang Indonesia sudah tidak lagi mau mencari informasi, mereka hanya memiliki preferensi akan cara dalam mendapatkan informasi atau berita yang berbeda sekarang.

Dengan adanya tren VOD ini menjadi sebuah halangan, media televisi Indonesia tetap memiliki pengaruh yang cukup kuat di Indonesia dan mampu beradaptasi dengan perbedaan zaman. Sebagai contoh adalah Kompas TV yang mengambil disrupsi ini sebagai kesempatan bagi mereka untuk berinovasi. Mengetahui bahwa masyarakat Indonesa telah beralih kepada digital karena mengikuti arus tren, Kompas TV menyediakan situs online dan streaming-streaming berita melalui Youtube.

Kompas di bawah bimbingan Rosianna Silalahi dipersiapkan untuk memperkuat pelampiran berita secara digital mereka sehingga jumlah subscriber dan view streaming berita online mereka di Youtube adalah yang terbanyak di kalangan media berita lainnya.

Independensi Media di Indonesia

Pada zaman ini, media sedang mengalami kegaduhan akan independensi dan keterlibatan mereka dalam dunia politik. Independensi dalam pemberitaan berarti bahwa dalam melaporkan sebuah fakta atau peristiwa dilaksanakan dengan kebenaran tanpa ada campur tangan suatu pihak. Pers Indonesia diidamkan untuk tetap mandiri, merdeka dan tidak bergantung atau berpihak pada siapa pun.

Rosianna berkata bahwa ia merasa beruntung karena dapat bekerja di Kompas bersama para founding fathers berlatarbelakang wartawan – Bapak Jakon Oetama dan almarhum Petrus Kanisius Ojong. Rosianna tidak menyangkal akan keberadaan media-media Indonesia yang berpihak atau melibatkan diri dalam dunia politik.

Ia lantas menjelaskan bahwa keberpihakkan ini dapat terlihat dengan – bagaimana kelompok yang didukung oleh suatu perusahaan media selalu mendapatkan porsi berita yang lebih besar dari kelompok yang lain atau bagaimana apapun yang dilakukan oleh kelompok ia dukung akan selalu dibela dan dibenarkan.

“Saya percaya bahwa bagaimana pun masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang cerdas untuk membedakan dan memilah informasi yang mereka dapatkan. Masyarakat Indonesia saya merasa bisa menilai suatu tayang berita apabila berita yang diproduksi terlalu tendensius akan keberpihakan yang sangat telanjang di mata publik. Kepercayaan penontonlah yang menjadi risiko bagi media-media yang memilih untuk melaporkan berita-berita yang bias,” jelas Rosianna.

Rosianna lalu menambahkan bahwa seorang wartawan atau jurnalis hanya boleh berpihak pada kebenaran dan hati Nurani. Media merupakan messenger untuk masyarakat akan bermacam-macam berita dan informasi, sehingga dalam memberitakannya media harus bersikap netral dan kritis. Misalnya, berita pelecehan seksual terhadap seorang gadis muda dimana polisi masih belum ambil sikap atau tindakan. Wartawan Indonesia mendapatkan hak untuk memberitakan informasi ini dengan tujuan bukan untuk menyebarkan kebencian kepada para polisi melainkan agar mendorong mereka untuk mengambil aksi dan mengingatkan mereka bahwa demi kebenaran, kekejaman pelaku pelecehan itu perlu diselesaikan.

BZ1