Ringobarr Gigs

Terletak di jalan Sydney road Brunswick, Ringobarr membuka toko mereka untuk artis lokal baru yang ingin bermain musik dan menanggulangi demam panggung melalui peluang untuk tampil. Toko vinyl sekalian bar ini menawarkan aneka ragam minuman beralkohol dan kopi sambil menikmati musik dari artis lokal Melbourne. 

Menjadi musisi idealis yang ingin membangun nama sendiri di negeri orang tentunya tidak mudah. Tetapi bagi seorang Dirga Rismawan, musik adalah suatu pengabdian, mulai dari rekaman musik, menulis lirik sampai mengajukan diri ke suatu venue untuk tampil semuanya harus dikerjakan sendiri. 

Applying to some venues (for gigs) I’m still learning. Kayaknya kalau masih di tahap baru tuh kita yang harus reach out duluan dan harus lebih proactive” kata Dirga.

Dirga mulai bermain musik di kampung halamannya Bali, namun memainkan genre yang bercondong ke punk rock dan Krautrock ia tidak mendapatkan banyak rekognisi. 

“Pengalaman ku di Bali, mereka belum ngerti yang aku bawain itu apa. Mungkin kalau aku main di jakarta dan di kota besar Bali ada” jelasnya. 

Semenjak menikah dan pindah ke Melbourne, kesempatannya untuk berkarir di musik pun semakin luas. Namun, pintu yang sudah terbuka masih membuat Dirga terus mengasah pengalamannya melalui open-mic di beberapa bar di Brunswick. Minggu lalu, Dirga pertama kali mengadakan acara gig nya sendiri sebagai headliners di Ringobarr

Pria yang sudah tinggal di Melbourne selama 7 tahun ini sempat ragu terhadap kemampuannya untuk menjadi vokalis, sebab ia mengaku bukan ‘naturally a front man’. Dirga mungkin baru merilis 2 lagu originalnya di spotify, tetapi ketika ia tampil, suaranya yang nyaring khas rock and roll mengingatkanmu pada lagu-lagu 70an yang biasa diputar ayah di radio. 

Sore itu, Dirga membawakan 4 lagu original dimana 2 dari lagu tersebut belum pernah dirilis. Sisa dari set listnya ia meng-cover lagu-lagu dari band The Stooges, The Doors, BRMC dan RL Burnside. Dirga punya passion untuk memainkan lagu yang berelemen punk rock 70an, grunge, dan krautrock, yaitu genre di Indonesia yang sudah berkurang dan tidak sebanyak dulu. 

Di sela-sela lagu Dirga mengadakan sesi jamming kecil dimana ia memainkan hasil improvisasinya sambil diiringi oleh ketukan drum yang halus untuk menyelingi lagu berikutnya. 

Terinspirasi dari Kurt Cobain, Patty Smith and The Beatles, lagu yang keras namun merdu menjadi ciri khas musik dirga. Dalam hal penulisan lirik, ia mengungkapkan bahwa menulis tentang duka jauh lebih mudah daripada menulis tentang kebahagian. Saat menulis lagu single terbarunya yang berjudul Fools Dirga mengingat suatu ketika ia stuck di circle yang toxic. Mau se-suportif apapun kita ke orang, kita tidak bisa berharap orang lain akan melakukan hal yang sama sebaliknya. Perasaan insecure, kesepian sebab jauh dari rumah, dan kehilangan waktu untuk melakukan hal yang disukai tercerminkan di single lainnya, Loner.   

Di gigs kali ini, Dirga ditemani oleh Michelle Limanjae sebagai support, dua musisi berdarah Indonesia ini tanpa sengaja mengubah satu pertunjukan menjadi indonesian night. Lagu yang dibawakan Michelle cenderung lebih lembut dan happy, suatu perubahan dinamika yang besar dari setlist Dirga yang memiliki vokal keras dan riff gitar. “Gloomy rain wont doom the day” baris ini muncul di lagu original Michelle saat dia menulis musik bernuansa bahagia tentang hujan sementara kebanyakan orang mengasosiasikan hujan dengan kesedihan dan kesuraman.

Pertemanannya dengan Dirga tidak berhenti di berbagi panggung saja, tapi mereka juga sering oper-operan single sebelum rilis. Melihat kompaknya kedua musisi ini menimbulkan satu pertanyaan ‘bagaimana kita sebagai musisi Indonesia yang merintis di negara orang saling mendukung?’

Dirga mengungkapkan bahwa platform untuk artis Indonesia di Melbourne untuk tampil masih kurang. Meskipun gigging adalah cara terbaik untuk mendapatkan eksposur, beberapa venue memiliki persyaratan tertentu bagi artis yang ingin booking tempat. Salah satunya adalah supporting band, dalam satu gig akan terdiri dari 2-3 band dengan salah satu dari band tersebut menjadi headliner. Pada umumnya, penentuan siapa yang menjadi headliners bisa ditentukan dari jumlah pendengar di Spotify. 


Namun cara yang terbaik adalah me-reach out musisi indonesia yang ada di melbourne untuk menjadi headliner ataupun band supports dan ini bisa menjadi stepping stone untuk membangun koneksi antar sesama musisi. Kota Melbourne selalu menghargai artis lokal terlepas dari latar belakang seseorang dan mereka menampung banyak artis lokal yang sukses sampai ke panggung internasional.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

MIXED MARTIAL ARTS

Martial Arts, atau dalam Bahasa Indonesia disebut ilmu bela diri, sudah ada di dunia sejak jaman dahulu kala. Tidak ketinggalan, martial arts juga menjadi...

Bahagia Menggali Asal Usul Keluarga

From the land of Wurundjeri people of the Kulin nation (库林民族的乌伦杰里人).I: "Sharing yang kedua... Itu para non Chinese, ngomong Mandarinnya caz ciz cuz. Kayanya...

Upaya Perlindungan, Hak dan Keselamatan Pekerja Migran dan Diaspora Indonesia

Baru-baru ini, Indonesian Diaspora Network Victoria menggelar webinar yang menghadirkan 5 (lima) pembicara terkait dengan Perlindungan, Hak dan Keselamatan Kerja untuk Pekerja Migran dan...

GURU TERSAYANG

Guru adalah pemegang andil pendidikan dan perkembangan sebuah negara. Generasi baru setiap tahunnya lahir dan dikembangkan oleh para guru, baik formal maupun non-formal. Wajib...