Banyak hal yang patut disyukuri selama pandemi Covid-19 berlangsung, salah satunya adalah uluran tangan yang terus bergulir.

Kasih Project merupakan salah satu inisiatif sosial berbasis di Melbourne yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang terdampak pandemi Covid-19, terutama mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dapat menerima bantuan dari pemerintah Australia. Beberapa diantaranya termasuk pelajar internasional dari Indonesia dan para pemegang Working Holiday Visa.

Berangkat dari rasa kemanusiaan dan solidaritas satu sama lain, Kasih Project tergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan mendistribusikan care package berisikan berbagai macam kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian hangat, dan selimut yang diperoleh dari para donator.

Selain itu, Kasih Project juga memfasilitasi para pelajar yang ingin berkontribusi sebagai relawan dengan cara menyediakan transportasi untuk antar jemput barang donasi ataupun menyediakan tempat untuk pendistribusian care package.

“It’s all actually about solidarity and humanity. The main ingredient is love,”kata Angelina Sukiri selaku penyelenggara Kasih Project.

Bantuan dari berbagai penjuru terus berdatangan. Baru-baru ini, Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne menyediakan tempat untuk melancarkan pendistribusian care package kepada para penerima yang berdomisili di area CBD dan sekitarnya. Selain itu, Angelina mengungkapkan bahwa Indonesian Diaspora Network (IDN) di Australia juga turut membantu mendistribusikan care package ke desa-desa kecil di Victoria. Bahkan, orang-orang Australia juga ikut serta mengulurkan tangannya. 

Syal hasil rajutan tangan

Rantai kebaikan yang diinisiasi oleh Kasih Project tidak berhenti sampai disitu saja. Angelina mengaku bahwa ia merasa sangat terinspirasi atas perjumpaannya dengan para penerima care package. We are very blessed to meet lots of wonderful people,” begitu ucap Angelina seraya mengekspresikan syukurnya.

Salah satu penerima care package bahkan membagikan surat yang ia tulis untuk anak-anaknya kepada tim Kasih Project. Surat itu berisikan ungkapan syukur dan bahagia yang disampaikan seorang ibu kepada anak-anaknya di Indonesia. Mereka tidak dapat berkumpul akibat perbatasan Australia yang sedang ditutup. Dalam surat itu, sang Ibu menceritakan betapa kagum dan bersyukur dirinya melihat masih banyak orang baik yang membantu di tengah keterbatasan tanpa melihat ras, agama, dan identitas lainnya. Ia bercerita tentang betapa bernilainya syal, selimut, dan topi rajut yang diperolehnya dari seorang lansia yang sengaja merajut berbagai macam perlengkapan musim dingin untuk kemudian didonasikan melalui Kasih Project. Surat itu ditutup dengan ungkapan terimakasih dan doa yang dipanjatkan sang Ibu kepada perajut perlengkapan musim dingin ini agar senantiasa mendapatkan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan dari Tuhan.

“Surat ini sangat mengharukan. Saya bersyukur mendapat seorang teman dari perjumpaan ini melalui Kasih Project,” tutup Angelina di akhir wawancara. 

Tity