Apakah kamu mahasiswa Indonesia di tahun terakhir atau fresh grad? Kemungkinan besar kamu sedang ketar-ketirnya menghadapi dunia kerja selepas bangku kuliah. Beberapa pun mulai kebingungan memikirkan industri apa yang cocok dan trending ketika memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Artikel ini akan mencoba untuk bantu kalian agar punya gambaran tentang bidang digital startups, e-commerce yang sedang hangat di Indonesia!

(depan dari kiri): Tatum Ona Kembara-lulusan Harvard yang mendedikasikan kariernya di Blibli; Sandra Kumalasari SVP of People Operations and General Services; Felisitas Ndiki-Assistant Manager of Organizational Development

Kali ini, BliTalk hadir untuk membuka wawasan mahasiswa Indonesia di Melbourne dan Brisbane tentang potensi, tantangan dan business model sebuah startup digital seperti Blibli.com. BliTalk diadakan di Monash University Caulfield sebagai salah satu rangkaian acara dalam Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI), Australia Alumni Networking Chamber (AANC), and Kongres 2019. Bersama dengan Konsulat Jenderal Indonesia, Kedutaan Besar Indonesia, dan Australia Indonesia Business Council, Blibli kembali ke Melbourne untuk mengadakan seminar yang berjudul ‘Take a Part in the Digital Era in Indonesia!’.

Topik seputar kinerja Blibli, SDM (Sumber Daya Manusia) dan pengembangan e-commerce dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) menjadi beberapa highlights di seminar tersebut. “Di Indonesia terjadi population boom untuk generasi muda, peluang kerja dan orang banyak, tapi skill tidak dipersiapkan,” ungkap Sandra Kumalasari, SVP of People Operations and General Services.

Untuk para mahasiswa di luar negeri, semestinya bersyukur karena punya kesempatan untuk dibentuk dengan pendidikan menjadi seorang yang punya modal lebih untuk menjadi pribadi asertif dan berpikir kritis. Jangan salah, industri yang semakin pesat karena bantuan teknologi ini tidak akan mengancam Sumber Daya Manusia, akan tapi manusia akan menjadi asetyang berharga bagi industri digital 4.0. Salah satu cara menjadi asset yang baik itu adalah memiliki kemampuan berpikir kritis, self-starter. Dilihat dari lensa ekonomi, e-commerce di Indonesia telah melampaui angka prediksinya.

Perkembangan ini didukung oleh pertumbuhan yang meningkat selama pimpinan Joko Widodo tahun 2011-2012. Gerakan 1000 startups menjadi sebuah batu loncatan untuk digital e-commerce seperti Blibli.com salah satunya. Tidak terlepas dari tantangan, sebagai VP of Business Growth di Blibli.com, Tatum Ona Kembara melihat adanya beberapa kebutuhan yang masih diusahakan dalam aspek talent, regulasi, kesenjangan penggunaan teknologi dan infrastruktur.

BliBli, e-commerce B2C (Business to Consumer) terbaik kedua di Indonesia, mengupayakan tantangan ini bukan melulu dengan meningkatkan penjualan, tapi juga mencoba untuk memberdayakan para pelanggannya dengan cara pengembangan teknologi yang akan memudahkan para pelanggan setia. Bersama dengan Kitabisa.com, kerjasama dengan platform lain juga menjadi salah satu cara Blibli untuk melakukan itu sebagai CSR (Corporate Social Responsibility) nya, hasilnya? Lebaran yang lalu Blibli menyumbang Rp 1.000.000.000 untuk masyarakat yang membutuhkan.

Banyaknya inovasi, dan kerjasama untuk mengerti kesempatan dan resiko yang ada membawa Blibli kepada perkembangan demi perkembangan. Yang unik adalah ternyata Blibli sebagai e-commerce tidak berencana untuk mengalahkan para kompetitor lain yang berbisnis konvesional. Dibangun dengan visi dan misi untuk mendukung pemerataan ekonomi di Indonesia, Blibli telah menghasilkan banyak proyek dan kerjasama bersama pasar konvesional.

Di konteks Indonesia sendiri, masih sangat tinggi animo untuk berbelanja di offline stores. Caranya? Blibli menjadi mediator antara online dan offline stores, dengan menyediakan pelatihan dalam bentuk kelompok bimbingan kepada UMKM dalam segi packaging, marketing nya. The Big Start Indonesia, suatu kompetisi wirausaha berhadiah adalah cara mengedukasi teman-teman wirausaha untuk berusaha lebih baik. Sandra sadar bahwa UMKM memiliki keterbatasan dalam jumlah produk, yang harus didukung Blibli.com bersamaan dengan kerjasama yang baik ke pemerintah lokal dan bank yang peduli terhadap pembinaan UMKM.

 “The company empowers employers” menjadi salah satu nilai yang Blibli pegang, apalagi dalam menghadapi karyawan Millenials. Menurut Tatum, nilai dan manajemen sebuah perusahaan menentukan masa depan SDM perusahaan itu ke depannya.  “Zaman sekarang, Millennials suka cari impact seperti; dampak apa yang saya buat untuk organisasi ini?” sebagai seorang yang berada di level manajemen, Tatum berupaya untuk memberi gambaran konkrit, atas dampak pekerjaan seorang karyawan “Kasih tau yang kamu kerjakan dampaknya tuh ini lho, makronya seperti ini,” sarannya.

BliTalk di Monash University Caulfield

Untuk menjadi yang terbaik secara perusahaan dan kinerja SDM dalam 5-10 tahun ke depan, Tatum mengaku bahwa aspek manajemen, inovasi teknologi harus digenjot secara bersamaan, sehingga mungkin salah satu ide-ide yang ada bisa membawa Blibli langsung menjadi yang pertama dalam bisnis digital di Indonesia. Nilai kepemilikan dalam setiap karyawan juga harus ditanamkan supaya terjalin kerjasama yang sehat di perusahan tersebut. “Inovasi itu mulai dari apa yang kita lakukan sehari-hari but we can do differently and more efficient,” ucap Sandra.

“Kita bukan cuma dari top-down, tapi membahas ini bersama-sama untuk maju. Karena perusahan harus dari semuanya, bukan yang atas saja.” Dalam hal ini, funding atau investasi juga menjadi hal yang krusial. Akan tetapi investor pun harus menilai suatu bisnis bukan “asal taruh duit, tapi ada pertanggungjawaban moral yang lebih besar kepada mereka,” ujar Sandra.

Acara BliTalk memberi mahasiswa Indonesia wawasan baru sekaligus network dari berbagai disiplin yang ada. Secara garis besar, BliTalk kali ini memetakan visinya menjadi perusahaan dengan daya tanding tinggi, punya prospek guna membangun negeri dan meningkatkan SDM yang ada.

Semoga bacaan kali ini informatif bagi mahasiswa, maupun juga kalangan lain yang ingin memulai bisnis digital di pasar Indonesia.


Apa Kata Mereka

Jason Kie (IT, Monash University) dan Aditya Hartato (Engineering, Monash University)

Dari BliTalk sendiri menurut saya cukup informatif apalagi untuk orang-orang yang belum tahu BliBli itu sebagai sebuah perusahaan bagaimana, saya belajar banyak tentang Blibli sebagai e-commerce terbesar kedua. Ini adalah sesi yang sangat baik dan persuasif buat yang nyari kerja. Mereka benar-benar tahu apa yang mereka omongin dan sangat berpengalaman dalam hal ini, tapi saya rasa QnA-nya mungkin bisa dipendekin waktunya, tapi secara umum acaranya lancar dan presentasinya dibuat dengan sangat baik. Thank you Blibli sudah datang!

Kevin Alexander (PPIA Tasmania)

Menurut aku sih semuanya sudah bagus ya, banyak informasi tentang karier, mungkin untuk rekomendasi, untuk persiapan karena untuk uni biasanya agak kritis pertanyaannya, dan itu semuanya sudah bisa dijawab.

Hirzi (Politik, The University of Melbourne)

Menurut saya sangat bagus, kayak ada banyak perusahaan Indonesia yang cari mahasiswa Indonesia yang ada di diaspora luar negeri. Terus sebagian dari filosofi bisnis mereka itu kayak berkontribusi untuk negara sendiri dan menyemangati mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk balik buat pergi dan kontribusi ke negerinya. Menurut saya sangat bagus dan informatif juga soalnya ini bukan tentang Blibli nya, tapi juga tentang startup, tentang kewirausahaan, jadi beneran kayak memberi semangat untuk mindset yang mengedepankan inovasi dan business model yang kreatif.

Adisa