Tanggal 12 Agustus menjadi hari yang spesial bagi para pemuda-pemudi di seluruh dunia. Hari ini merupakan Hari Pemuda Internasional (#YouthDay). Hari Pemuda Internasional diprakarsai oleh PBB pada 17 Desember 1999. Majelis Umum PBB menyetujui rekomendasi yang dibuat oleh Konferensi Para Menteri Pemuda seluruh dunia di Lisbon (8-12 Agustus 1998) dan menetapkan 12 Agustus sebagai Hari Pemuda Internasional.

Hari pemuda Sedunia memang digalangkan untuk menyemangati seluruh pemuda di dunia yang telah berkali-kali membuktikan bahwa mereka bersedia menunjukkan solidaritas dan kontribusi paling tidak untuk komunitas mereka. Masih dalam semangat kampanye Indonesia Bersatu Melawan Rasisme #PapuaLivesMatter (baca juga https://buset-online.com/papua-lives-matter/). Tim Buset mewawancarai pemuda-pemudi Tanah Air sekaligus putra-putri asli Papua yang telah berkontribusi bagi komunitas mereka tetapi berdampak bagi Indonesia.

Neas : #SetiapAnakHarusSekolah

Neas Wanimbo adalah Founder and CEO dari Yayasan Hano Wene Papua. Hano Wene dalam bahasa Indonesia yang artinya Kabar Baik adalah yayasan non profit dengan visi “Membangun pelosok Indonesia agar menjadi bagian dari sumber peradaban bagi keluarga mereka sendiri, masyarakat, dan bangsa Indonesia.” 

Neas yang merupakan putra asli Papua ini memang lahir dan besar di pelosok Papua. Berdasarkan pengalaman pribadinya yang sejak kecil menjalani sulitnya mengakses pendidikan karena sarana-prasarana dan akomodasi yang  sama sekali tidak memadai.

Laki-laki kelahiran 1995 ini bertutur bahwa bangunan sekolahnya jauh dari layak, tidak ada buku-buku dan alat tulis-menulis, bahkan selama bertahun-tahun semua kelas hanya diajar oleh satu orang guru yang juga menjalani kehidupan yang sulit di pedalaman. Berkat didikan dan dukungan dari kedua orang tuanya, sejak kecil Neas telah memantapkan cita-citanya untuk memiliki jenjang pendidikan yang tinggi dan menjadi role model bagi anak-anak Papua atau paling tidak bagi anak-anak di kampung halamannya di Kabupaten Yahukimo Papua.

Perjalanan Neas dalam menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi tidaklah mulus. Laki-laki yang kini berdomisili di Jakarta ini seringkali harus bersekolah sembari mencari nafkah membantu kedua orang tuanya.

Kisah yang sangat diingatnya saat berjuang antara keterbatasan ekonomi dan kuatnya niat bersekolah adalah ketika di bangku SMA, Neas nyaris putus sekolah karena orang tuanya yang hanyalah petani di pedalaman tidak memiliki biaya yang kala itu tagihan uang sekolahnya berjumlah Rp 80.000,- .

Neas mengaku telah pasrah karena tidak ingin memberatkan orang tuanya, tetapi ayahnya tidak ingin sekolah Neas terhenti dan meminjam uang Rp 100.000 kepada temannya yang akhirnya membuat Neas dapat melanjutkan semester akhir di SMA.

Selain kesulitan terhadap akses pendidikan dan kesehatan, orang-orang yang tinggal di pedalaman papua juga kesulitan memiliki uang tunai karena perputaran ekonominya sangat lambat. Setelah menyelesaikan pendidikan dari bangku SMA, Neas masih harus mengambil beberapa pekerjaan sembari mencari beasiswa untuk melanjutkan studi di jenjang S1.

Singkat cerita, Neas berhasil mendapatkan beasiswa dan berkuliah di Tanri Abeng University, Jakarta dan lulus dengan predikat Best Student Award in Extracurricular. Neas diwisuda dengan tidak disaksikan oleh orangtuanya sebab ketiadaan biaya untuk melakukan perjalanan ke Jakarta. Saat pulang kampung, Neas berfoto bersama ibu dan keluarganya dengan menggunakan toga dan ijasah kesarjaannya yang kemudian foto-foto tersebut menjadi viral di sosial media Tanah Air.

Saat ini Neas tengah sibuk mengkampanyekan #SetiapAnakHarusSekolah melalui media sosial dan juga melalui Yayasan Hano Wene Papua yang telah digagasnya sejak tahun 2017. Konsentrasi utama dari Yayasan Hano Wene adalah penyaluran buku-buku dan berbagai kebutuhan sekolah lainnya ke pelosok Papua.

Neas telah memperkenalkan Hano Wene ke berbagai konferensi internesional. Kurang lebih 10 negara telah dikunjungi oleh Neas untuk mempresentasikan berbagai proyek gagasannya melalui Hano Wene demi menggalang bantuan dana maupun tenaga bagi anak-anak Papua yang membutuhkan pendidikan.

Diakui Neas bahwa Hano Wene telah mendapat banyak dukungan dari dalam maupun luar negeri dan pernah menyalurkan hingga 5000 buku ke pelosok Papua. Yayasan Hano Wene yang berkantor pusat di Jakarta telah merangkul banyak relawan dari berbagai latar belakang agama, suku dan budaya. Khusus untuk Hano Wene di Wamena-Papua, Neas hanya menerima relawan anak asli Papua. Hal ini dilakukan Neas agar anak-anak Papua memiliki semangat untuk membangun tanah kelahirannya sendiri.

Neas yang kegiatan advokasinya telah beberapa kali diliput oleh media dalam dan luar negeri ini dengan tegas mengatakan dalam wawancara bersama tim BUSETNegera harus dibantu oleh muda-mudinya. Kita tidak bisa hanya berteriak kepada negara menuntut pemerataan pembangunan tapi kita sendiri anak-anak suku asli yang telah terpelajar hanya diam dan menonton. Kita juga harus turut serta dalam membangun bangsa dan negara, paling tidak dimulai dari kampung halaman kita sendiri”.  

Saat ini Hano Wene tengah memiliki kurang lebih 40 relawan anak asli Papua yang terlibat mendistribusikan buku-buku ke pelosok Papua. Yayasan Hano Wene juga giat bekerjasama dengan pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Papua.

Kini semakin banyaknya kepercayaan kepada Yayasan Hano Wene membuat pelayanannya tidak hanya terbatas pada advokasi pendidikan tetapi juga di ranah kesehatan dengan program penyaluran pembalut untuk perempuan pelosok Papua, air bersih dan penerangan untuk Papua. Program-program Hano Wene juga telah meluas ke banyak kampung di kabupaten Yahumiko-Papua bahkan juga ke kabupaten lain di sekitarnya.

Insos : Isu-Isu Sosial di Papua

Maria Niester Insoraki Komboy adalah seorang perempuan asli Papua yang memiliki pengalaman studi bertolak belakang dengan kisah Neas. Perempuan yang akrab di sapa Insos ini mengakui cukup beruntung dapat mengenyam pendidikan di Papua tanpa melewati tantangan berat seperti yang dihadapi oleh Neas.

Neneknya adalah seorang antropolog yang membuat Insos tertarik dengan ilmu sejarah dan ayahnya adalah seorang polisi yang kemudian membuat Insos menyukai isu-isu peace building.

Lahir di tengah keluarga yang mapan secara sosial-ekonomi memudahkan Insos mengenyam pendidikan dari bangku SD hingga sarjana bahkan saat ini, melalui beasiswa yang diraihnya Insos tengah menjalani studi S2 bidang filsafat agama di salah satu universitas di Yogyakarta.

Karena semua kemudahan untuk bersekolah yang telah dinikmatinya berkat dukungan keluarga dan para sponsor beasiswa, Insos merasa berhutang kepada Tanah Papua. Ia merasa menjadi pengkhianat jika tidak melakukan sesuatu bagi Papua.

Yang menarik perhatian tim BUSET pada perempuan kelahiran 1992 ini adalah kebanggannya pada dirinya sendiri sebagai seorang perempuan Papua, ia bangga dengan kulit hitam dan rambut keritingnya. “Mungkin banyak perempuan Papua yang malu dengan fisiknya yang besar, rambut keriting dan kulit hitam, saya sendiri bangga dan merasa sangat cantik dengan fisik khas Papua ini. Saya keren, saya cantik, saya Papua dan saya Indonesia”.  

Melalui media sosial miliknya, teolog muda ini sering mengutarakan kekaguman serta pujian terhadap dirinya dan perempuan-perempuan Papua lainya melalui puisi dan kisah-kisah singkat sejarah Papua. Insos sangat aktif menanggapi berbagai isu kemanusiaan yang terjadi di Papua membuatnya seringkali menggagas ataupun menjadi nara sumber dalam diskusi dan pertemuan-pertemuan terkait isu-isu tersebut.

Keberaniannya sebagai perempuan untuk terus ‘ikut campur’ dalam berbagai isu yang terjadi di Papua telah membuatnya kehilangan banyak simpatik dari teman dan keluarga. Insos mengakui bahwa tak jarang dirinya dikait-kaitkan dengan kelompok separatis Papua Merdeka.

Perempuan yang hobi memasak ini juga aktif dalam keanggotaan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) wilayah Yogyakarta. AMP terkenal sebabagai salah satu Aliansi mahasiswa yang cukup vokal terkait isu sosial di Papua, namun Insos memberi warna yang berbeda sebab metode yang digunakan dan disarankan oleh Insos kepada AMP Yogyakarta adalah sumbangan ide, berdebat atau turun berorasi di jalan dengan menggunakan data dan melakukan tindakan nyata bagi Papua.

Menurut Insos, orang muda Papua perlu rela untuk berjuang bersama pemerintah demi peace building di Papua. Dikemukakan oleh Insos bahwa “tidak adanya gencatan senjata di Papua bukan berarti Papua sudah ‘peace’, selama anak-anak Papua masih berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk bersekolah, selama orang-orang Papua masih kesulitan mendapat akses kesehatan maka Papua belum ‘peace’ seutuhnya.”  

Karena itu sebagai anak asli Papua, Insos mengaharapakan lebih banyak lagi orang muda Papua yang telah mengenyam keberhasilan untuk pulang dan berkarya di Papua. Perempuan yang memiliki pengalaman mengajar di pelosok Papua ini juga membenarkan penyampaian Neas terkait sulitnya mengakses pendidikan, literasi dan tenaga pengajar.

Dengan menggunakan bangunan gereja yang difasilitasi oleh pendeta setempat, Insos secara sukarela mengajar baca tulis kepada anak-anak dan para orang tua. Hal-hal seperti inilah yang diharapkan Insos untuk lebih sering dilakukan oleh orang muda Papua, dengan demikian pertikaian antar sukupun akan semakin terminimalisir sebab anak mudanya bahu-membahu mewujudkan Papua yang lebih baik.

Saat ini Insos yang sedang berdomisili di Yogyakarta tengah sibuk menyelesaikan tesisya sembari aktif dengan Fawawi Clubnya yang merupakan komunitas buku yang berdiri sejak 2019 lalu. Klub ini digagas bagi mahasiwa maupun warga Papua di Yogyakarta untuk mendiskusikan buku yang dibaca bersama, diutamakan buku karangan orang-orang Papua.

Fawawi yang dalam bahasa Indonesia berarti ilmu pengetahuan, juga menjadi wadah donasi bagi siapa saja yang hendak menyumbangkan buku atau dana bagi anak-anak di Papua.

Perempuan yang telah mengikuti berbagai konferensi Internasional di beberapa negara Amerika dan Eropa karena gagasan dan ide peace building-nya terhadap isu di Papua itu menegaskan kembali mengenai pentingnya sekolah bagi anak-anak dan perempuan Papua “Indonesia tidak akan benar-benar maju jika Papua masih tertinggal. Agar Papua juga dapat berlari dalam kemajuan maka anak-anak dan perempuan Papua harus mendapatkan akses pendidikan. Mendekatkan akses pendidikan kepada masyarakat Papua bisa dilaksanakan oleh pemerintah tetapi akan lebih cepat lajunya jika pemuda-pemudi Papua juga bergotong royong membangun Papua”.

Neas dan Insos berpesan kepada orang-orang muda Indonesia untuk memahami ke-Indonesia-an yang plural ini perlu untuk menonjolkan solidaritas bagi generasi bangsa lainnya agar memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan. Juga pesan untuk pemerintah agar memberikan kemerdekaan berkomunikasi / equal communication atau tidak selalu underestimate terhadap pemuda-pemudi Papua yang berjuang di ranah kemanusiaan.  

Jika pemerataan pembangunan sudah menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pemuda-pemudinya, maka kemerdekaan akan selamanya menjadi milik bersama. Selamat merayakan Kemerdekaan dan merayakan Hari Pemuda Internasional.