Turnamen Grand Slam adalah sebuah julukan dari empat pertandingan tenis tahunan terbesar dan terpenting di seluruh dunia – Australia Terbuka di pertengahan Januari, Perancis Terbuka atau Roland Garros di akhir Mei hingga Juni, Wimbledon pada sekitar bulan Juni hingga Juli, dan Amerika Serikat Terbuka pada bulan Agustus hingga September. Kejuaraan yang mendunia ini membawakan poin peringkat tertinggi, hadiah uang, perhatian dan publikasi media terbesar bagi para pemenang.

Setelah Tami Grende memenangkan Wimbledon 2014 selepas kejayaan Angelique Widjaja yang menaklukkan Grand Slam junior tiga kali berturut-turut, kini adalah giliran Priska Madelyn Nugroho untuk mengharumkan nama Indonesia di atas lapangan dengan kejuaraannya di Australia Terbuka 2020.

Berpasangan dengan Alexandra Eala dari Filipina, Priska berhasil merenggut kemenangan 6 – 1, 6 – 2 dalam laga final ganda putri Australia Terbuka Junior dari tangan Ziva Falkner dan Matilda Mutavdzic pada 31 Januari lalu. Pemain tenis belia ini mengatakan bahwa ia dan Alexandra sudah lama tidak bermain bersama dan tidak menyangka akan memenangi ajang pertandingan ini. Priska mengakui bahwa babak semifinal adalah momen yang paling mencekam dan emosional dari keseluruhan acara. Pasangan Priska dan Alexandra sempat tertinggal match point 1 – 7, 4 – 8 di super tie break. Namun mengutip perkataan Priska, sebuah keajaiban bagi kedua pasangan ini untuk memenangi babak semifinal dengan poin 10 – 8.

Begitu disayangkan, Priska mengakui bahwa kejituannya bermain pada kategori ganda Australia Terbuka belum mampu ia persembahkan di atas lapangan kategori tunggal. Priska mengatakan bahwa sebuah hal yang mengejutkan baginya untuk terhenti di putaran ketiga.

kemenangan Priska di Australian Open 2020
foto: Getty Images dan Tennis Australia

“Selalu ada ruang untuk improve, walaupun aku sudah memenangi kategori ganda aku tidak ingin cepat berpuas diri dan meningkatkan performaku untuk kedepannya. Terutama pada saat ini, aku sedang mempersiapkan diri untuk mulai bermain di liga senior. Aku akan mulai bermain di pertandingan yang bernama 15,000 yang adalah tingkat paling rendah di senior yang lalu dilanjutkan dengan tour Roland Garros di Perancis juga Wimbledon sesudah itu,” ujar Priska.

Priska yang kini menduduki peringkat 17 di ITF Junior Ranking (per 10 Febuari 2020) ini kali pertama mengayunkan raketnya pada umur empat tahun. Awal mulanya, Priska tertarik pada tenis karena melihat kakak lelakinya bermain dan tidak menganggap olahraga ini secara serius. Pada umur tujuh tahun ia mengikuti bahkan tanpa diduga memenangi pertandingan tenis pertamanya diadakan klub tenis yang dulu ia ikuti di Kemayoran. Namun setelah satu demi satu kemenangan yang ia taklukkan, dari kompetisi-kompetisi tingkat nasional hingga pada umur 13 ia mulai bertanding di tingkat internasional, Priska mulai termotivasi untuk berlatih lebih giat dan menjadi pemain tenis profesional.

Keseharian Priska dari Senin hingga Sabtu diisi dengan latihan pagi dan sore intensif. Setiap harinya, ia berlatih tenis selama sekitar empat jam yang dilanjuti dengan dua atau tiga jam latihan fisik seperti gym atau speed agility di atas trek lari atau lapangan tenis. Bukan hanya dengan latihan, Priska pun mulai mengambil langkah yang besar dengan berkonsultasi akan porsi nutrisi yang ia konsumsi dengan seorang nutrisionist.

“Sudah tidak terpikir lagi olehku hal lain selain memfokuskan waktu dan energiku ke dalam tenis. Goal terbesarku untuk kedepannya adalah agar bisa menduduki tempat di peringkat top 100 WTA,” harap Priska.

Kehidupan seorang pemudi Indonesia yang mencurahkan hati dan mimpinya pada court tennis merupakan hal yang jarang untuk ditemukan pada saat ini. Priska pun mengucapkan harapannya agar kejuaraannya ini dapat menginspirasi lebih banyak lagi anak muda Indonesia untuk maju dan mengejar mimpinya setinggi langit. Ia pun berharap bahwa akan tumbuh benih-benih pemain tenis muda Indonesia terutama bagi kaum perempuan.

Dengan segala keriuhan dan kesibukkan petenis yang masih berumur 16 tahun ini, ketegangan sebelum bermain sebuah hal yang tidak asing lagi. Di tengah wawancara dengan crew BUSET, Priska berbagi tips untuk sahabat-sahabat BUSET bagaimana mengatasi stress atau ketegangan sebelum tampil atau bertanding. Ia menyarankan untuk tidak mengisi pikiran dengan memikirkan orang lain atau lawan dan memfokuskan energi kepada diri sendiri.

“Aku akui hal ini terjadi begitu sering pada awal-awal aku bertanding di atas lapangan yang besar dan ditonton oleh begitu banyak orang. Tetapi aku selalu memfokuskan diri akan diriku sendiri, bagaimana aku akan bermain dan bukan mengkhawatirkan bagaimana lawanku akan bermain. Dengan melakukan ini aku pasti merasa lebih tenang dan percaya diri di saat bermain,” umbarnya.

Kesendirian juga merupakan hal yang harus ditanggulangi Priska terutama pada saat ia harus berpergian dengan pesawat atau kereta atau bahkan sedang sendiri di dalam hotel di tengah tour pertandingan, Priska akan selalu menenggelamkan dirinya ke dalam musik atau film. Begitu banyak lagu yang telah menemani dan mengisi waktu luangnya ketika sendiri, terutama Ed Sheeran dan lagu-lagu K-POP dari grup BTS. Walaupun ia bukan seseorang yang begitu fanatik akan K-POP, ia mengatakan bahwa ia sangat menyukai genre tersebut dan bahkan menjadi topik obrolan dengan teman-temannya dari Asia. Bukan hanya musik, ia sering menghabiskan waktu liburannya untuk menonton film-film di bioskop terutama yang diproduksi oleh Marvel.

“Aku fans berat film-film Marvel! Aku selalu mengikuti Marvel dari Iron Man hingga End Game. Aku jatuh cinta sekali pada film Avengers : End Game dan tidak keberatan untuk menontoninya berulan-ulang kali. Pahlawan Marvel yang paling aku gemari adalah Thor terutama karena Chris Hemsworth yang memainkannya. Thor bukan karena hanya ia tampan sekali, tetapi ia juga merupakan karakter yang sangat lucu,” aku Priska.

baca artikel Priska lainnya:
https://buset-online.com/priska-madelyn-nugroho/

Bintang