Liputan Panggung Merdeka

PPIA VIC TERUSKAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN LEWAT PANGGUNG MERDEKA

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69, untuk yang pertama kalinya PPIA Victoria mengadakan sebuah pertunjukan teater bertajuk perjuangan.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Ketua PPIA Victoria, Aghnia Shahputra yang mengatakan jika tokoh Soe Hok Gie sengaja diangkat oleh karena kontribusi beliau dalam memajukan demokrasi sebagai seorang Indonesia. Perjuangan beliau, lanjut Aghnia, merupakan inspirasi dan teladan yang patut dilanjutkan oleh generasi muda Indonesia sekarang. Soe Hok Gie terkenal berkat tulisan-tulisan yang mengekspresikan opini dengan landasan edukasi serta kemampuan analisanya yang tajam.

Pentas teater ini menceritakan biografi singkat Soe Hok Gie terutama perjuangan politiknya sebagai seorang pemuda yang menginginkan perubahan bagi bangsa dan negara Indonesia. Drama dibumbui dengan sedikit adegan romantis untuk mencairkan ketegangan.

Bertempat di Athenaeum Theatre, Melbourne, tiket ‘Panggung Merdeka: Soe Hok Gie, Lensa Kecil Seorang Pejuang’ sudah habis terjual bahkan sejak beberapa hari sebelum hari H. Hal ini serta merta menunjukkan antusiasme warga Indonesia yang sangat mendukung kegiatan positif para mahasiswa dalam membangkitkan rasa cinta Tanah Air.

Project Manager Panggung Merdeka Eufrasia Eugene Ezra yang juga ialah mahasiswi RMIT University mengatakan melalui karya ini, landasan visi merdeka untuk berekspresi terbilang sukses. Pernyataan tersebut diamini Direktur Panggung Merdeka Joe Kevin Joviand (mahasiswa Melbourne University). Menurutnya, tujuan dari pementasan drama ini adalah untuk menampung aspirasi dan ekspresi para pelajar Indonesia yang ada di luar negeri, secara khusus Melbourne, dan kisah Soe Hok Gie dinilai dapat mewakili tujuan tersebut. Sayangnya, Eugene mengkonfirmasi, pihaknya tidak dapat menghubungi kakak Gie, Soe Hok Djin (Arief Budiman) hingga sekitar seminggu sebelum pertunjukan. Djin pun berhalangan hadir memenuhi undangan PPIA Victoria karena sedang berada di Yogyakarta.

Pada tahun-tahun sebelumnya PPIA Victoria biasanya mengadakan acara tujuh belasan dalam bentuk bazaar dan pesta rakyat.

Ditemui setelah pementasan, beberapa pemain Panggung Merdeka menuturkan kesulitan yang ditemui pada awalnya adalah untuk mendalami karakter tokoh yang diperankan. Dea Chandra, pemeran Andini Larasati, memaparkan strateginya untuk mendalami peran yakni dengan mencoba mengerti dan memahami tujuan serta inti cerita yang lalu disesuaikan dengan tipe karakter. Sementara Widyasari Sri Ratnawati, pelajar di Swinburne University mengaku cukup kesulitan memahami Sita Anthika lantaran karakter mereka sangat berbeda. Hal serupa juga dialami Edrick Putra Perdana, pemeran utama Soe Hok Gie yang memiliki tantangan terbesar untuk dapat mendalami karakter sang tokoh yang dinilai sangat kompleks.

Kendati demikian, keseluruhan drama berlangsung lancar dan disambut hangat oleh para penonton.

 

** GALERI FOTO **

 

igna
foto: krusli/rr

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

BERANTAS TINDAKAN KRIMINAL DENGAN LAPORKAN REMITTER ILEGAL

Untuk pertama kalinya, Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC) yang merupakan badan inteligensi keuangan di Australia yang juga merangkap sebagai penanggungjawab kasus pencucian uang mengadakan pertemuan dengan...

BASA BASI BERSAMA DEBNATH GUHAROY

AIYA (Australia-Indonesia Youth Association) cabang Victoria rajin mengadakan ajang perluasan jejaring antar pemuda Australia dan Indonesia yang dikenal dengan sebutan AIYA Basa Basi. Kali...

Diskusi dengan Wimar Witoelar “MERAWAT KERAGAMAN”

Sahabat Jokowi-Ahok-Djarot Melbourne, jangan lupa catat, sebarkan info ini dan datang di acara bincang-bincang "Merawat Keragaman" dengan Bang Wimar Witoelar yang kondang itu. Beliau akan...

AUSTRALIA PROPERTY BUBBLE

Tahun finansial 2015-16 baru saja dimulai dan ada baiknya bagi Anda untuk mengetahui informasi penting dan terbaru tentang pasar properti Australia. Berdasarkan informasi dari...