Selalu ramah dan senang berbagi ilmu, itulah kesan yang melekat dari seorang yang akrab disapa Cobaz. Perjalanan sukses dan pemikiran kreatif pria yang pernah menimba ilmu di Perth ini bahkan sudah ia tuangkan dalam buku bertajuk “Yang Muda Yang Kaya”.

Terlahir dengan nama Basuki Surodjo, ia dibesarkan dari keluarga pengusaha. Sang ayah kala itu memiliki beberapa lini usaha termasuk pabrik sumpit, toko emas, dan kontraktor pembangun ruko (rumah toko). Seperti layaknya seorang pebisnis, sang ayah juga pernah mengalami kebankrutan atas pabrik sumpitnya di tahun 1992 hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta pada tahun 1996 dan mulai meniti usaha di bidang notariat. “Papa saya kalau baca kontrak-kontrak sudah seperti baca komik,” canda Cobaz yang saat itu menempuh pendidikan lanjut di Universitas Trisakti. 

Jiwa pengusaha seakan sudah mengalir dalam darah pria kelahiran Jember, 15 Agustus 1977 itu. Berawal dari kunjungannya ke Taiwan dimana Cobaz melihat saudaranya bekerja di warnet pada 2001, ia pun langsung memiliki “feeling” usaha warnet bisa booming di Indonesia. Betul saja, warung internet-nya meraih kesuksesan di jaman itu.

Basuki Surodjo

“Apabila Anda tidak bisa memimpin diri Anda sendiri, Anda tidak bisa memimpin orang lain.”

Dalam perjalanannya, bapak dari dua anak ini mendapatkan peluang di bidang yang sejalan, yakni ATK (alat tulis kantor), penyedia tinta printer, server, solusi dan software. Menurutnya, seorang pengusaha harus pandai melihat peluang, selain juga harus terus memiliki niatan untuk sukses.  

Perluas Jaringan Pertemanan

“Iya dong musti punya network,” ujarnya spontan ketika bicara mengenai salah satu faktor yang bisa mempercepat laju sukses sebuah bisnis. Dan ini berlaku untuk semua orang, bahkan dari latar belakang apapun. 

Buat yang selalu punya self talk, “saya ga punya banyak teman”, “saya keluarga biasa-biasa saja”, dan semacamnya, Anda semua harus bangkit dan perluas pergaulan. Ikut acara komunitas dan berkenalan; ikut aktivitas sosial dan berkenalan.

Pada dasarnya, semua perlu semangat yang dimulai dari dalam diri sendiri. “Buat orang yang ngomong ga punya network, ga punya passion, ya berarti dia gaada niat, susah sukses itu,” katanya tegas. “Setiap manusia pasti punya satu titik dimana rejeki datang, tinggal kita manfaatin apa tidak.” Jika ada orang yang merasa dirinya sial terus, menurut Cobaz itu berarti Anda menyerah terlalu cepat sebelum sampai ke titik rejeki Anda. 

Sukses Adalah Perjalanan

Ketika ditanya tingkat kepuasan Cobaz sebagai pebisnis, tanpa pikir panjang ia mengatakan, “saya bersyukur sudah cukup… sukses itu tidak ada titik akhir, sukses itu adalah perjalanan.”

Tak berselang lama, pria yang penuh akan ide ini menambahkan, “orang tua saya sudah bahagia, ga perlu mikirin apa-apa lagi. Tapi perjalanan saya juga masih panjang,”

Bagaimana tidak, dari yang awalnya mempekerjakan tiga karyawan sekarang sudah 500 orang. Selain itu, alumni SMA Frateran Surabaya itu juga telah merambah ke coffee shop, bahkan clothing line. Menurutnya, pada tahap ini ia sudah bisa melihat peluang mana yang baik yang tentunya berpotensi menghasilkan profit yang baik.

Visualisasi Mimpi

Satu hal yang sangat menarik ketika memazuki ruang kantor Cobaz adalah lukisan besar yang menggambarkan sepasang suami istri dengan dua anak tertawa bahagia di depan gedung tinggi. Ada Ferrari merah yang terparkir mentereng di halaman depan gedung, dan jika ditengok ke atas, terlihat sebuah helikopter dan jet pribadi tengah mengudara.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Lukisan visualisasi yang mulai terwujud (kiri: BUSET kru)

Semua yang terpampang di lukisan tersebut adalah mimpi seorang Basuki Surodjo sejak dulu. Setiap kali ia membayangkan dirinya memiliki Ferrari, helikopter, gedung kantor yang tinggi, rumah mewah dan ini semua dinikmati dengan keluarga yang utuh dan bahagia.

Mimpinya diwujudkan dalam sebuah lukisan oleh seniman lokal pilihan Cobaz. Menurutnya kekuatan visualisasi sangat penting dan telah memberikan motivasi yang selalu tertanam di pikiran bawah sadarnya. Setiap keputusan bisnis dan perluasan kerajaan bisnisnya seakan terkoneksi dengan semua “penglihatannya”. 

“Namanya visi itu boleh apa saja, tahun ini sudah terbeli Ferari, yayasan sudah sedang dibuat, kita bisa berbagi,” ujarnya. Bukan untuk menyombongkan diri, namun Cobaz menghargai kerja keras dan setiap pencapaian serta prestasi yang telah digapainya.

Berbagi Ilmu Tanpa Beban

Pembawaan yang ceria dan tidak pelit ilmu membuat seorang Cobaz selalu energik. Bahkan ketika berbincang dengan beliau pun tidak ada yang ditutupi, perasaan dan pemikirannya dibagikan dengan begitu plong, tanpa beban, tanpa konflik. Dalam ilmu law of attraction, atau yang kita kenal dengan hukum tarik menarik, perasaan bahagia dan penuh syukur dapat menaikkan level energi yang lalu akan menjadi magnet bagi segala hal baik kepada orang tersebut. 

Menurut Cobaz, semua pengetahuannya ia dapatkan dari membaca banyak buku serta praktik secara langsung. Dan ia pun tak segan untuk membagikan pengalamannya tersebut secara tertulis melalui buku “Yang Muda Yang Kaya”. Bahkan, Cobaz memilih gaya bahasa yang sangat mudah dimengerti agar para pembaca dapat memahami bagaimana cara untuk berbisnis dan mengerahkan seluruh potensi manusia untuk bisa dipakai lebih besar dari kapasitas masing-masing, sesuai apa yang sudah dialaminya.

Menurut Cobaz, semakin muda semakin berkesempatan untuk meraih kesuksesan, asalkan kita terbuka dengan perubahan dan dapat beradaptasi dengan cepat.  

Di akhir pertemuan dengan Buset, Cobaz mengundang generasi muda Indonesia untuk kembali membangun bangsa melalui jiwa semangat entrepreneur. Cobaz menilai, peningkatan jumlah pebisnis di suatu negara akan serta merta memajukan negara tersebut.  

***

Dalam buku “Yang Muda Yang Kaya”, Basuki menuliskan “bisnis adalah mindset. Dengan mindset sebagai seorang pebisnis, kita jadi lebih mudah menaiki tangga demi tangga.” 

Sejalan dengan pemikiran ini, Cobaz memperluas koridor bisnisnya dengan meluncurkan clothing line Before5. Ketika ditanya kenapa bisa terpikir untuk merambah ke industri fesyen, dengan enteng Cobaz menjawab, “kenapa tidak?”

Sebagai pebisnis, melihat peluang sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan. “Saya melihat jaman sekarang ini orang-orang Indonesia sukanya barang impor,… namun clothing line lokal belum ada yang bisa sebesar Louis Vuitton atau Balenciaga, berarti kita masih punya kesempatan,” ucapnya. 

Semasa pandemi ini, Cobaz berhasil melelang salah satu jaket jeans Before5 yang diberi nama Garuda Perkasa seharga ‘8 kali infinity’ (Rp 88.888.888) yang hasilnya disumbangkan untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid19. Jaket limited edition tersebut dibuat secara handmade dan hanya ada lima buah di seluruh dunia. Gambar burung Garuda dilukis langsung oleh seniman Bernhard Suryaningra. 

***

Selain doyan baca buku, siapa yang sangka jika Cobaz juga ternyata suka baca dan buat komik. Ya, tokoh superhero dalam komiknya diberi nama Lightman. Menurutnya, setiap dari kita perlu melihat terang, semua yang baik itu terang, dan Lightman adalah pahlawan pembawa terang untuk setiap penggemarnya. 

Komik Lightman dapat dinikmati melalui Instagram @lightman.id dan bahkan kaos Lightman sudah mulai beredar di pasaran dan mengambil tempat spesial di hati masyarakat Indonesia.

VR