Penggiat Kuliner Indonesia di Victoria Terima Pesan Persatuan Lewat Makan Malam Bersama

0
271
Suasana acara makan malam yang diadakan ICAV untuk mempertemukan penggiat kuliner Indonesia di Melbourne, Victoria

Restoran The Uleg di Brunswick terlihat padat dari luar. Ternyata, sedang ada perkumpulan yang diadakan oleh ICAV atau Indonesian Culinary Association of Victoria pada 25 Februari 2020 lalu.

Sekitar 50 orang yang merupakan gabungan dari pemilik bisnis kuliner hingga peminat masakan Indonesia datang untuk menikmati makanan Bali serta bertukar ide dan pengalaman.

Ketua ICAV 2017-2020 Abdul Razak

Namun, jumlah tamu yang hadir tidak mewakili jumlah pemilik restoran Indonesia di Victoria. Abdul Razak, ketua dari ICAV sejak awal terbentuknya di tahun 2017 mengatakan belum semua pemilik bisnis mau ikut bergabung dengan mereka.

“Ada sebagian yang sudah kami kontak tapi ternyata belum berminat. Kami akan terus mengingatkan [para pebisnis] karena ini dari kita untuk kita.”

Menurut Razak, ICAV sebenarnya bertujuan untuk menyatukan para pebisnis kuliner agar dapat sama-sama mengembangkan makanan Indonesia di pasar Australia, khususnya Victoria.

“Tujuan ICAV adalah membuka ruang sharing di antara pebisnis untuk memajukan bisnis kuliner di Melbourne supaya kita tidak tertinggal dari makanan Asia lainnya seperti Malaysia dan Thailand yang sangat kompak.”

Selain dari sesama pebisnis, ia juga menuturkan bahwa bisnis kuliner Indonesia juga memerlukan dukungan dari pelanggan agar bisa sukses. Harapannya, lingkaran pelanggan masakan Indonesia bisa meluas hingga ke mancanegara.

“Kita juga butuh support dari customer baik itu Indonesia maupun lokal Australia, bagaimana supaya Indonesian food ini jangan hanya orang Indonesia saja, tapi orang sini juga bisa happy untuk makan masakan indonesia.”

Jangan lihat persaingannya

ICAV harapkan makanan Indonesia di Melbourne dapat bersaing dengan mancanegara

Tidak dapat dipungkiri, persaingan memang ada dalam berbisnis. Namun, kalau bicara soal memajukan kuliner Indonesia, Razak punya pendapat sendiri terutama terkait upaya memperjuangkan kesejahteraan pebisnis.

“Sebetulnya jangan dianggap kita ini saingan karena masing-masing punya ciri khas sendiri-sendiri. Rendang satu dan lain pun bisa beda, jadi serahkan saja ke market, ke customer” kata dia.

“Itu yang salah kalau kita bersaing, apalagi terus-terusan banting harga. Akhirnya yang rugi kita sendiri karena restoran ini untuk bayar rent, bill dan lain-lain. Apalagi staff cukup tinggi, sangatlah butuh bersaing di harga.”

“Kita harus tiru restoran Thailand, Malaysia, yang harga makanan per porsinya sekarang $16 di Australia. Indonesia masih $12 ke bawah.”

Tidak maju kalau tidak bersatu

ICAV berencana akan mengadakan perkumpulan setiap dua bulan melihat kesibukan pebisnis kuliner Indonesia di Victoria. Ia berharap melalui acara tersebut, akan semakin banyak pebisnis yang bergabung dalam kegiatan mereka.

“Mudah-mudahan yang datang hari ini tumbuh dan bisa mengajak teman-teman lain dalam pertemuan berikutnya, sehingga dari 50 orang bisa naik lagi angkanya,” kata dia.

“Kenapa kita tidak memberikan harga mahal ke acara ini, supaya ramai peminat.”

Razak mengharapkan persatuan di antara pelaku kuliner Indonesia di Victoria demi kemajuan bersama.

“Mudah-mudahan kalau semua mulai concern dan tidak putus asa, terus berjuang, kuliner Indonesia tidak akan kalah dengan yang lain,” kata dia.

“Tapi kalau yang mereka pikirkan selama ini masih mau jalan sendiri-sendiri, tidak mau berbagi ide, ya begitu saja, tidak maju.”

Dalam acara yang berlangsung selama tiga jam tersebut, pemilik restoran serta anggota komunitas Indonesia diberikan kesempatan untuk berbagi informasi seputar bisnis mereka di hadapan para tamu.

Jamuan cendol menjadi penutup dari kegiatan ICAV yang malam itu.

APA KATA MEREKA

MONICA LAURENSIA, pemilik Queen Kebab & Falafel, Ascot Vale

Saya tahu acara ini dari Facebook IndoMelb di mana ada poster. Saya langsung kontak nomor yang tertera. Dan menurut saya acara ini so far so good, karena saya baru tahu ada komunitas seperti ini, yang membicarakan soal bisnis dan restoran. Jadi, bagus dan ke depannya semoga kita bisa lebih dekat lagi.

DEWI DUDAT, Ibu Rumah Tangga

Saya tahu acara ini dari Facebook, lalu saya invite tante saya karena kita pencinta kuliner, jadi sebarin ke teman-teman karena kita tinggal di South East suburb jadi banyak ibu-ibu di sana, tapi kebetulan kalau tidak weekend kerja.

Dewi Dudat (kanan)

Acara ini bagus banget. Jadi di sini kita ketemu, silaturahmi, dapat informasi, bisa tukar pikiran, tambah knowledge. Soalnya saya melihat restoran Indonesia kebanyakan di city, di suburb jarang, sedangkan banyak orang Indonesia yang tinggal di suburb, khususnya south east.

Nasa