Associate Professor Deirdre O’Neill, seorang researcher dari Universitas Monash telah memberikan kuliah bersama bertajuk “Why Do ‘Good’ Policies Fail?” pada pertengahan September kemarin di IALF Jakarta. Deirdre yang merupakan course director pada Master of Public Policy di Universitas Monash ini memberikan kuliah selama kurang lebih satu setengah jam pada para peserta yang berasal dari berbagai instansi pemerintah seperti kementrian dan pemerintahan daerah, lembaga masyarakat serta organisasi internasional, dan juga calon mahasiswa perguruan tinggi Australia yang sedang mengikuti pelatihan sebelum berangkat ke Australia.

Deirdre O’Neill

Dimulai pada sekitar pukul 13.30 siang, Deirdre memulai perkuliahan dengan menyampaikan tujuan awal dari presentasi yang akan diberikannya. Dia mengungkapkan bahwa perkuliahan ini untuk berdiskusi mengenai kebijakan publik untuk kalangan yang berasal dari pemerintahan atau Non-Governmental Organisation (NGO). Dia menyampaikan pentingnya memahami kegagalan sebuah kebijakan agar dapat memahami kesuksesannya. “In order to understand how polices succeed then we need to understand why polices fail. Understanding succeed is understanding failure,” ujarnya.

Di awal presentasinya tersebut, Deirdre mengajukan pertanyaan kepada para peserta untuk memberikan contoh kebijakan publik yang sukses. Peserta pun berusaha memberikan contoh yang terbaik, seperti menjelaskan tentang kemampuan dalam membaca (melek huruf) di Indonesia yang meningkat hingga 30 persen, hingga contoh kebijakan pemerintah untuk keluarga untuk memiliki dua anak.

Deirdre menjelaskan bahwa ada banyak faktor mengapa kebijakan gagal. Diapun mengungkapkan bahwa kebijakan yang baik tidak selalu sukses. Dengan memberikan contoh adanya kebijakan Australia di tahun 2009 mengenai home insulation program, dia memberikan sebuah contoh kebijakan yang sangat buruk di Australia dan bagaimana sebuah kegagalan bisa terjadi.

Home insulation program yang awalnya dibentuk untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan mendukung pekerjaan lower-skilled pada industri perumahan, konstruksi, dan bisnis kecil, serta membenahi efisiensi energi di rumah – rumah di Australia telah dinilai gagal karena beberapa faktor seperti kematian empat pekerja dalam memasang perangkat, 200+ kebakaran karena pemasangan yang salah, kerusakan pada sekitar 30% perangkat yang dipasang, serta penggunaan anggaran sejumlah 1 milyar hingga 2.45 milyar dollar Australia. 

Deirdre lantas memberikan beberapa alasan kenapa kebijakan bisa gagal yang dapat dikategorikan pada tiga kategori, seperti kegagalan kebijakan, kegagalan pemerintah, serta kegagalan regulasi. Pada bagian ini dia menjelaskan kegagalan home insulation program dari sisi kebijakan, pemerintah dan regulasi. Selanjutnya dia mengemukakan bahwa kebijakan yang baik akan sukses apabila permasalahan kebijakan dirumuskan dengan baik dan diketahui secara menyeluruh; solusi yang dibuat harus berdasarkan bukti dan secara realistik dapat diimplementasikan; kebijakan juga harus baik di sepanjang tahap perencanaan, pembuatan keputusan dan implementasi; advokasi kebijakan harus dipersiapkan dengan baik dan siap untuk menghadapi  krisis; dan kebijakan tersebut harus memiliki daya tarik yang luas dan dapat bertahan dalam perubahan pemerintahan.

Beberapa pertanyaan menarik mengenai kebijakan di Indonesia datang dari peserta dalam sesi tanya jawab, seperti pendapat Deirdre mengenai persoalan di Indonesia yang memiliki ribuan regulasi dan bagaimana mengatasi regulasi yang terlalu banyak. Di sisi lain peserta juga bertanya bagaimana merespon kebijakan dalam waktu singkat karena tekanan politik; juga peran universitas / think tank dalam kebijakan pemerintah, serta menjaga kebijakan yang baik ketika ada perubahan kepemimpinan. Peserta juga antusias bertanya mengenai kebijakan publik di Australia pada saat ini, seperti terkait kebijakan terhadap pengungsi.

Sebelum acara ditutup, Deirdre memberikan apresiasi dan memuji kemampuan bahasa inggris peserta yang sangat bagus terutama pada para penerima beasiswa Australian Award yang akan segera terbang ke Australia.


Apa Kata Mereka

Ricky Fernandes, Guru Bahasa Inggris (Calon Mahasiswa Master of Education di Adelaide University)

Walaupun background saya education, saya ingin belajar, bagaimana sistem untuk pembuatan public policy, efeknya buat masyarakat / komunitas bagaimana, advantagesnya sama disadvantagesnya bagaimana, jadi lebih ke pembelajaran basic concept dari public policy seperti apa.

Menurut saya menarik banget ya hari ini karena saya tahu new things karena saya sebelumnya kan nggak tahu, hanya dealing with education, and so on. Di sini saya belajar bagaimana public policy itu sendiri berasal dan bagaimana konsensusnya pada masyarakat bagaimana, dampak, dan baik buruknya. Bahkan saya belajar bahwa satu regulation itu banyak pertimbangan – pertimbangan dari stake holder, itu pembelajaran yang saya dapat hari ini.

Monica Ella, Dosen Universitas Sanata Dharma (Calon Mahasiswi Doktor di Universitas Western Australia)

Cukup menarik, ini adalah kesempatan yang jarang didapatkan orang lain, feeling grateful karena diberi kesempatan mengikuti lecture yang mungkin bukan area saya tapi ada yang bisa saya dapatkan dari lecture ini. Nanti ketika pulang ke Indonesia mungkin diberi role sebagai policy maker atau sebagai salah satu yang memimpin satu unit lecture ini akan relevan.

Ifa Narifa, Pegawai Dinas Peternakan Sulawesi Selatan (Calon Mahasiswi Doktor di Universitas New England)

Seru sih jadi aku pernah bekerja di public policy sebelum pindah ke Dinas Peternakan. Waktu itu aku bekerja di inspektorat selama 8 tahun, lama juga kan waktu itu berkaitan dengan public policy. Kuliah hari ini recall banyak sih tentang kerjaan waktu itu. Tapi yang menarik adalah ini jadi point of view somebody from Australia gitu kan. Jadi ada beberapa persamaan dengan kondisi di Indonesia sekarang dan juga beberapa perbedaan. Tapi itu at least bisa memberikan kita gambaran tentang situasi negara – negara maju seperti Australia dan juga kita compare dengan yang ada di Indonesia.

Niar