Mayoritas pemegang Working Holiday Visa (WHV) yang mengadu nasib di Negeri Kangguru awalnya bekerja di sektor hospitality. Namun, sejak terjadinya pandemi Covid-19 dan hilangnya pekerjaan di industri hospitality, para pemegang WHV harus berjuang mencari pekerjaan lain dan tak sedikit yang berpindah haluan ke industri pertanian. Simak kisah 3 anak muda yang kini bekerja di farm demi mempertahankan hidup mereka di Australia.

Aif Sundami

Tak pernah terbayang bagi koki muda asal Bandung ini bahwa dirinya akan pindah dari restoran fine-dining di Sydney ke kebun jeruk mandarin di Queensland. Aif yang sebelum datang ke Australia itu sempat bekerja di kapal pesiar Costa Crociere berniat menambah pengalamannya di restoran. Namun apa daya, wabah covid-19 telah melumpuhkan sebagian besar industri kuliner di Australia, termasuk restoran Ripples Chowder Bay di mana Aif bekerja hingga akhir bulan Maret lalu.

“Ya harus banting setir ke farm di Queensland, karena NSW hampir mati semua. Even farm sekarang juga banyak yang ga terima orang karena takut dengan pandemic ini,” kata pemuda lulusan STPN HI Bandung itu.

Aif juga mengaku bahwa dirinya merasa kecewa dengan realita pekerjaan di perkebunan jeruk yang dia jalani saat ini. Pasalnya, selain tidak sesuai dengan bidang yang selama ini digeluti olehnya, pekerjaan sebagai pickers dan bayaran di farm tidak selaras dengan apa yang sebelumnya sempat diiklankan oleh kontraktor pekerjaan.

“Ya di advertisement bilang kalau kita sehari bisa sampe 2-3 bin yang dipetik, kalau sudah pengalaman bisa sampai 4 bin. Tapi kenyataannya binnya gede-gede, bisa sampe 400-500 kg. Dan ga semua jeruk bisa dipetik, kita ga bisa asal petik. Jadi lama di penyortiran,” jelas Aif. Pemuda yang hobi traveling itu juga memberi gambaran bahwa pada umumnya pekerja baru di farm hanya dapat memetik 1 bin jeruk yang dihargai 60 dolar, dan masih belum terpotong pajak penghasilan.

“Bayaran piece rate itu bagus, tapi cuma untuk orang yang kerjanya cepat bagai kilat. Kalau kecepatan standar si gajinya rata-rata saja,” ujarnya. Selain itu, saat ini jeruk mandarin belum memasuki puncak musim panen dan menurut Aif, perkebunannya juga sempat mengalami gagal panen. Kedua faktor ini berpengaruh besar terhadap jumlah jeruk yang bisa ia panen untuk memenuhi kuota bin per hari.

Meski demikian, Aif optimis dengan upaya pemerintah Australia dalam menangani Covid-19 dan berharap dirinya dapat segera kembali ke bidang hospitality.

Evelyn Sudargo

Bekerja di farm memang membutuhkan faktor luck. Bagi Evelyn yang juga kehilangan kesempatan untuk bekerja di The Sebel Hotel di Melbourne, banting setir untuk menjadi petani tomat di Warragul justru membuka peluang dan jalan baru baginya.

“Di farm memang different karena harus main fisik dan mental. Tapi farm yang ini enak banget, karena setengah pabrik. Jadi pekerjaanku bervariasi dari picker, crop care, nursery, dan packers. Bayaran juga okay, dan Warragul ini peaceful, banyak bukit-bukit dan hijau,” komentar gadis asal Surabaya itu.

Meski tidak mempunyai pengalaman apapun di bidang agrikultur, gadis lulusan hospitality dari Universitas Kristen Petra Surabaya itu mengaku sangat enjoy dengan pekerjaan barunya.

Farm di sini keren dan bisa menambah life experience dan ada ilmunya. Sekarang juga karena Covid-19 ini justru tambah banyak orderan. Di farm kita juga melakukan social distancing dan ga boleh ngobrol pas jalan di farm. Ini good effect sih, karena di sini jadinya 0 case,” tambah mantan receptionist Mercure Hotel Surabaya itu.

Evelyn juga sempat terkejut saat mengetahui bahwa pekerjaan di farm ternyata dapat memiliki career path yang dapat mengantarkannya ke jalur regional permanent residency.

“Pesanku untuk anak-anak WHV yang lain, jangan kecil hati. Sebetulnya kalau mau ada kok kerjaan itu asal mau dijalani. Kaya di farm ini, dan ternyata farmitu juga ada career pathnya,” pesan Evelyn.

Hermanto Wijaya

Seperti Evelyn, Hermanto atau yang akrab disapa Ahok itu juga gigih merintis karirnya di farm.

Sejak pertama datang ke Australia bulan Juli 2019 lalu, Ahok langsung bekerja di perkebunan stroberi di Brisbane.

Sayangnya karena terkendala musim dingin, Ahok hanya dapat bekerja 3-4 hari seminggu. Guna mencukupi biaya hidup, pemuda asal Medan itu pun memutuskan untuk hijrah ke Sydney.

Di Sydney, mantan teknisi mesin itu sempat berganti-ganti perkerjaan mulai dari kitchen hand, pekerja di warehouse, dan pelayan kafe. Namun saat corona melumpuhkan sektor hospitality di NSW, Hermanto kehilangan pekerjaannya dan harus bergantung dengan uang simpanan miliknya.

“Waktu itu saya tinggal dengan 5 orang teman, dan kita harus bergantian keluarin dana simpanan. Hidup super hemat, sehari makan sekali,” kenangnya. Kini, Ahok kembali bekerja sebagai farm worker di perkebunan blueberry di Coast Harbour, enam jam dari Sydney.

“Ini merupakan tantangan bagi saya untuk mempelajari hal baru,” kata pria lulusan sarjana sastra dari STBA PIA itu saat ditanya kesannya tentang bekerja di farm. “Tapi saya tidak menyerah, karena saya perlu kerja tiap hari untuk menutup rent dan uang makan. Saya butuh kerjaan yang pasti dan long-hour.”

Meski sempat berencana untuk pulang ke Indonesia setelah jangka WHVnya habis, efek corona terhadap perekonomian Indonesia membuat Ahok pesimis dengan prospek pekerjaan di tanah air. Kebetulan dirinya juga telah berhasil memperpanjang WHVnya hingga tahun kedua dan kini berencana memperpanjang visanya hingga tahun ketiga.

Pemuda yang hobi memasak ini juga berharap ia dapat mendapatkan sponsorship dari perkebunan tempat ia bekerja sekarang untuk mengajukan regional permanent residency.
“Ya kata orang tua juga ga usah balik lagi ke Indo, kalau bisa di Aussie ya stay di situ saja,” jawabnya saat ditanya tentang rencananya kembali ke Indonesia.

Phoebe