Louisa Zais sudah mengenal musik sejak balita. Mulai dari piano, biola dan pelatihan vokal di usia lima tahun. Ia mengikuti sembilan kursus musik setiap minggunya sejak usia sembilan tahun. Dan hingga di titik ini, yakni di usianya yang ke-29, ia menemukan kembali jalannya ke dunia musik setelah rehat sejenak.

Louisa Ribbonacci adalah bagaimana orang mengenalnya. Awal November 2019, sebuah konser bertajuk “Dream Again” digelar di sebuah bar kecil di tengah kota Melbourne bernama Loop Project Space & Bar. Gestur dari mereka yang datang memperlihatkan keakraban dengan satu sama lain. Ternyata benar, Louisa mengatakan konser tersebut sifatnya ‘kecil-kecilan’ dan intim.

“Pertama, saya ingin konser ini untuk jadi konser ‘kecil-kecilan’ dan intim. Inilah mengapa saya senang sekali adik laki-laki dan adik ipar saya datang, beberapa kawan dan guru saya hadir, tidak lupa juga beberapa teman baru yang saya temui di tempat tidak terduga juga ada di sana.”

Di konser tersebut, Louisa yang malam itu tampil dengan balutan pakaian hitam berhiaskan pita berwarna merah jambu di pinggangnya, ingin mengajak pendengar untuk terus bermimpi melalui lagu-lagu yang ia tulis sendiri dan bawakan.

“Dalam kehidupan sehari-hari, saya rasa kita selalu bermimpi karena kita selalu berpikir. Tentang mau makan siang apa, misalnya. Anda pasti memikirkan walaupun tidak harus hari ini, mungkin bisa besok atau hari-hari lain,” terang perempuan yang besar di Surabaya ini.

“Jadi, kalau sesuatu tidak sesuai keinginan kita, bermimpi lah lagi. Dan jika Anda memiliki keinginan kuat, apa yang Anda inginkan akan terjadi karena Anda akan mewujudkan mimpi itu. Dan buat saya, mimpi, tidak harus sesuatu yang besar seperti misalnya ‘Apa yang saya mau capai 10 tahun lagi’,” ungkapnya.

“Mimpi bisa sejauh apa yang Anda ingin lakukan atau mau menjadi apa Anda hari ini.”

Berbicara keinginan, konser ‘kecil-kecilan’ yang juga menampilkan beberapa teman penyanyi Louisa tersebut ternyata telah membangun harapan bagi penyanyi yang hobi jalan-jalan ini untuk mengadakan tur konser keliling dunia.

“Harapan saya ke depannya agar bisa melakukan tour concert dan menyebarkan cinta dan hal-hal positif di dunia. Saya ingin orang-orang merasa bebas, refreshed, empowered, dan rileks pada saat yang bersamaan, tidak lupa juga merasakan hal baik tentang diri sendiri ketika dengar lagu saya.”

MENOLONG LEWAT MUSIK

Perjalanan karier Louisa pun ia akui tidak semulus yang dibayangkan. Ia mengatakan dirinya pernah merasa kesulitan untuk terlepas dari masalah ketidakpercayaan diri.

“Saya pernah menderita hal tersebut [ketidakpercayaan diri dan insekuritas] dulu dan sejujurnya masih sampai sekarang hampir setiap hari,” kata Louisa.

“Berapa hari saya bisa berpandangan baik tentang diri saya, dan berapa hari lainnya tidak juga. Tapi saya belajar dari tahun ke tahun, kalau hidup itu tidak hanya tentang apa yang Anda rasakan, tapi juga ‘makanan’ apa yang Anda berikan ke diri sendiri setiap harinya.”

Louisa juga melanjutkan dengan mengatakan bahwa teman-teman di lingkungan sekitar turut berpengaruh terhadap kondisi diri seseorang. 

“Jenis orang dengan siapa Anda menghabiskan waktu bersama juga turut mempengaruhi pola pikir, perilaku dan tujuan hidup Anda.”

Melalui musiknya, perempuan yang makanan kesukaannya adalah nasi babi guling Bali ini berharap dapat membantu orang-orang yang merasakan hal serupa.

“Jadi melalui musik dan kata-kata dalam lagu saya, saya ingin mengingatkan orang-orang bahwa mereka tidak sendiri, bahwa saya pun mengalami, dan mau menginspirasi mereka untuk menemukan tujuan dalam perjalanan hidup mereka.”

Louisa mengatakan lirik lagunya yang repetitif merupakan suatu cara agar pendengar dapat ikut bernyanyi dan pada akhirnya mengingat pesan dari lagu yang ia ciptakan dan bawakan itu.

DORONGAN PINDAH KE MELBOURNE

Louisa yang sudah berkutat di dunia musik selama 20 tahun mengatakan belum pernah menulis lagu orsinil hingga suatu pagi di tahun 2016. 

“Setelah berhenti bermusik selama hampir lima tahun, saya bangun suatu pagi, mengambil pen dan kertas, dan menyelesaikan sebuah lagu dalam waktu satu jam. Kalau ini bukan digerakan Tuhan, saya tidak tahu apa lagi.”

S1 Musik lulusan Lasalle College of Arts di Singapura tahun 2011 ini pindah ke Melbourne tiga tahun setelah kunjungannya yang bermakna di bulan Desember 2013.

“Di bulan Desember 2013, saya ke Melbourne untuk berlibur. Dan saya mengalami momen yang luar biasa di ibadah natal Gereja Hillsong Melbourne. Di sana saya memutuskan untuk ikut Yesus dan menyerahkan hidup saya pada Tuhan,” kata penyuka genre musik deep house dan chill-out ini.

“Sejak itu, selalu ada suara di kepala saya yang terus mendorong saya untuk datang dan tinggal di Melbourne untuk alasan yang tidak saya ketahui dengan jelas. Saya tidak hiraukan selama hampir tiga tahun.”

Di tahun 2016, Louisa akhirnya memutuskan untuk pindah dan menetap di Melbourne. Di bulan Desember tahun itu, ia menulis lagu berjudul “Christmas Miracle” yang membuatnya sadar bahwa musik adalah bidang yang harus ia tekuni.

Langkah demi langkah karier sudah disiapkan oleh perempuan bergaya rambut khas ini. Beberapa di antaranya adalah rencana untuk mengeluarkan lima buah single lagu tahun depan, melakukan tur musik dan tampil live di beberapa tempat bermusik di Melbourne.

“Desember ini saya berencana mengadakan pop up Christmas Miracle” di beberapa tempat bermusik di Melbourne untuk meluncurkan karya akustik saya sebagai penyanyi dan penulis lagu yang identik dengan piano,” katanya kepada BUSET.

“Saat ini saya sedang dalam proses menghubungi tempat bermusik tersebut. Jadi ditunggu saja, ya!”

Tentang mengatasi keraguan diri, Louisa memiliki cara tersendiri, yaitu mengisi diri sendiri dengan hal-hal positif.

“Selain menjadi direktur musik, penyanyi dan penulis lagu, produser dan guru musik di studio saya, saya istirahat teratur, mengisi pikiran dengan kata-kata motivasi dari podcast dan buku, berbagi pikiran dengan keluarga dan teman-teman, dan yang terpenting, berdoa.”

Nasa