“You can never meet too many people. You can always learn from people, people can always teach you something if you’re willing to listen.”
-Richard Warneke-

Ketika memulai sebuah peluang baru, baik memulai bisnis ataupun sedang mencari kerja, membangun koneksi dengan banyak orang menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Dan hal itu pun dipercayai oleh pasangan Richard Warneke dan Katharine Kho-Warneke.

Suami-istri ini aktif berkiprah di industri pemasaran dalam perusahaan bernama RW Marketing yang awalnya didirikan oleh Richard. Bermula dari hobi mendesain yang lama kelamaan ternyata membuahkan hasil sehingga dijadikan alasan untuk mempertahakan sebuah bisnis yang sederhana. “The reason why I started this business and not something else was because I felt, if I start the business, if it doesn’t work, go look for a job somewhere else. But at least I can give this a shot,” ujar pria yang tumbuh besar di Adelaide tersebut.

Sepanjang perjalanan membangun usahanya tersebut, Richard mengakui bahwa profesinya telah membawa ia keluar dari zona nyaman dalam berbagai level. Setiap saat ia meniatkan diri untuk bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, termasuk banyak diantaranya yang kemudian menjadi klien serta orang-orang yang dapat membantunya mengembangkan perusahaan marketingnya.

Richard percaya pelajaran yang didapat setelah bekerjasama dengan satu klien menjadi pengalaman yang berharga untuk membantu klien berikutnya. Itulah mengapa dirinya mengambil bagian sebagai Managing Director di perusahaannya sendiri sementara sang istri sebagai Creative Director. “I’m often out there networking, meeting new people, which is generally to help develop and grow the business,” tutur lulusan Bachelors of Commerce and Law dari Deakin University itu.

Walaupun berbeda, namun keduanya saling mengisi satu sama lain. Jika Richard lebih sering bertugas datang ke berbagai acara, bertemu dengan orang baru, maka Kath turut membantu dalam proses perancangan strategi dan mendelegasikan bagian-bagian ke divisi yang tepat.

Sebagai bagian dari kegiatan membesarkan koneksinya dan memanfaatkan pengalaman yang didapat, pria yang gemar pergi diving ini juga turut aktif sebagai pembicara dan memberi seminar untuk berbagai industri, contohnya membantu memberikan presentasi kepada para koki profesional tentang teknologi baru dan bagaimana dapat meningkatkan efisiensi dan mengembangkan bisnis mereka, dan masih banyak lagi bidang lainnya yang dapat ia bantu.

Kaum Muda Harus Berani Berjuang

Richard dan Katharine berbagi kepada Buset bahwa sebagai generasi penerus, sudah seharusnya kita lebih berani mencari peluang, jangan takut dengan penolakan. “I think they have to be brave, they have to be confident that they can do it … there’s no such thing as a stupid ideas or opinion. Maybe the idea can work or it doesn’t work. That is depending on the situation as well. But I think for them to ask that first question, or send that first letter, or apply for that first job, I think the younger generations need to overcome that,” ujar Kath perihal dilemma kaum muda dalam mendaftar kerja di Australia.

Bagi seorang Kath, ketika bertolak dari Jakarta ke Melbourne di tahun 1995, ia sudah memutuskan untuk memberanikan diri menjalin pertemanan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Keberanian pula yang terus mendorong Kath untuk maju pantang mundur. Wanita lulusan Interior Architecture di Monash University tersebut pun mencontohkan pengalamannya dalam mencari kerja dimana pekerjaan pertamanya didapat melalui sebuah usaha kecil yang ia mulai bersama rekannya. “I remember that in transition after you finish uni and trying to find a job, we start applying and applying for jobs. 2 weeks. 3 weeks. 4 weeks. What am I going to do?” kenangnya. Kath akhirnya memutuskan untuk menjalankan bisnis perawatan wajah.

Walaupun awalnya wanita kelahiran Jakarta ini tidak terlalu menyukai ide tersebut, tapi ia merasa lebih baik mencoba dan setidaknya hasilnya bisa berbuah tambahan teman dan koneksi. Benar saja, dari usaha kecil itulah ia bertemu dengan salah satu pelanggan yang ternyata adalah seorang interior designer, yang kebetulan sedang mencari seorang Junior Designer. Setelah mendaftar, Kath akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya dari pelanggan yang ia temui. 

“Upaya dalam memperluas jaringan kerap menjadi tantangan yang dialami generasi muda Indonesia. Hal ini terlihat ketika ada rasa enggan untuk pergi ke suatu acara networking/workshop/panel diskusi bila tidak ada teman yang ikut.”

Memperluas jaringan. Inilah esensi yang selalu diterapkan Richard dan Kath pada hidup mereka. Sayangnya, upaya dalam memperluas jaringan ini kerap menjadi tantangan yang dialami generasi muda Indonesia. Hal ini terlihat ketika ada rasa enggan untuk pergi ke suatu acara networking/workshop/panel diskusi bila tidak ada teman yang ikut. Padahal jika pergi bersama teman, hampir dipastikan kita hanya akan bicara dan bergaul dengan si teman itu. “It’s always a challenge to meet new people, networks, different circles. If one person recommends, generally people follows because they might not know where else to go or they know at least this is good,” ujar pria penggemar ketoprak tersebut – meski notabene dibesarkan oleh keluarga Jerman.

Bergaul Dengan Cermat

Dalam hal menambah daftar koneksi seseorang, pasangan ini menyarankan untuk lebih mengejar kualitas ketimbang kuatintas. Mendedikasikan waktu untuk datang ke acara networking adalah salah satu cara yang baik, namun tema acara harus yang sesuai dengan fokus yang dicari. “If they go to something that is beyond their scope, they don’t understand what the event is or the conversation is, it’s not a good use of event for them. They have to look for an event that is suitable for them,” saran Kath yang juga mengagumi arsitek Tadao Ando.

Mengamini komentar istrinya, Richard berpesan agar jangan pernah ragu untuk bertanya dan memperkenalkan diri.

You can never meet too many people. You can always learn from people, people can always teach you something if you’re willing to listen.”

Menurut Richard, mengembangkan suatu usaha di bidang yang kita sukai bisa menjadi pendorong menuju sukses.

Pria yang mengagumi sosok Richard Branson tersebut juga turut berbagi tentang pentingnya passion dalam sebuah usaha. “Without passion, you’re not driven. If you’re not driven, the business always suffers,” tegasnya.

Passion pun dapat ditimbulkan dalam tempat kerja. Misalnya saja dengan meningkatkan antusiasme karyawan terhadap suatu produk. Dengan begitu, Richard percaya ini dapat membantu klien dalam pemasaran produk. “The logic is they want to share what they do because we are all so passionate. It does leads to better result. If you’ve never tried something, you don’t know what it is. We’re a marketing company, we’re here to help their business,” tutupnya.

Denis