Peran Tionghoa dalam Dunia Kesehatan Indonesia

Dalam memperingati Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2021 juga Hari Kesehatan Nasional pada tanggal 12 November 2021, PERTIWI (Persaudaraan Tionghoa Wawasan Indonesia) Victoria mengadakan acara bertajuk “Peran Tionghoa dalam Dunia Kesehatan Indonesia” via Zoom. Dalam acara tersebut, dihadirkan empat tamu, masing-masing dua pemateri dan penanggap. Selain dari 4 tamu tersebut, dihadirkan juga beberapa ahli terkait dengan tema yang diangkat.

Pemateri pertama yaitu seorang sejarawan yang memiliki ketertarikan besar pada sejarah masyarakat Tionghoa, sejarah kesehatan, sejarah revolusi Indonesia hingga sejarah olahraga, Ravando Lie. Selain itu, ia juga menerbitkan beberapa buku terkait sejarah kesehatan berjudul “Perang Melawan Influenza”, “Puji Widhi Bhakti Pertiwi” dan “Dr. Oen”. Ia mengangkat topik mengenai sejarah dan pemikiran dari Koran Sin Po.

Ravando langsung memulai materinya dengan membahas beberapa rumah sakit dan poliklinik yang diinisiasikan oleh perkumpulan Tionghoa pada masa kolonial Belanda. Ia mengatakan bahwa, tonggak penting berkembangnya kedokteran di Indonesia terjadi pada tahun 1920-1930, namun sebelum itu sudah ada seperti rumah sakit Tionghoa yang disebut Yangji Yuan (Rumah Sakit untuk orang miskin) yang diselesaikan pada tahun 1646. Namun tidak diketahui pasti bagaimana kelanjutan dari rumah sakit tersebut lantaran minimnya informasi yang tersedia.

Dijelaskan beberapa rumah sakit dan poliklinik yang diinisiasi oleh orang tionghoa yaitu,

  1. RS Mata Dr. Yap Yogyakarta – 1921
  2. Jang Seng Ie atau Rumah Sakit Husada (Batavia) – 28 Desember 1924
  3. Poliklinik Tionghoa/ Gang Gambiran atau RS Telogorejo Semarang – 16 November 1925
  4. Soe Swie Tiong Hwa Ie Wan atau RS Adi Husada Surabaya – 26 Oktober 1927
  5. Poliklinik Tiong Hwa Ie Sia atau RS Panti Nirmala Malang – 1 Oktober 1929
  6. Poliklinik Tsi Sheng Yuan atau RS Dr. Oen Solobaru Surakarta – 29 Januari 1933

Ravando juga menampilkan beberapa puisi dari media cetak lama mengenai Jang Seng Ie yaitu Sin Po dan Miss Riboet sebagai penutup materinya.

Puisi mengenai Jang Seng Ie pada Koran Sin Po
Puisi mengenai Poliklinik Tionghoa pada Miss Riboet

Masuk pada pemateri kedua yaitu Siauw Tiong Djin, ketua dari PERTIWI Victoria terhitung sejak September 2021. Seorang pengusaha merangkap aktivis dengan domisili di Melbourne, Australia. Ia menulis beberapa buku yang sebagian besar bercerita tentang kiprah ayahnya, Siauw Giok Tjhan. Dalam kesempatan ini, ia menceritakan mengenai seorang dokter keturunan Tionghoa bernama Lie Dharmawan yang mengabdikan dirinya untuk Indonesia.

“Kalau kamu menjadi dokter, kamu jangan memeras orang miskin. Mereka akan membayar, tapi mereka akan menangis karena ketika pulang mereka tak punya uang untuk membeli beras” – komitmen seorang dokter mulia, Dokter Lie.

Materi yang disampaikan Siauw Tiong Djin, mengenai DoctorShare dan Dokter Lie Dharmawan
Dokter Lie Dharmawan pada Zoom “Peran Tionghoa dalam Dunia Kesehatan Indonesia”

Dokter Lie sempat ditolak oleh banyak universitas di Indonesia dan hanya diterima di Universitas Respublica Jakarta. Namun kampus tersebut dibakar pada 15 Oktober 1965. Maka dari itu, ia memutuskan untuk berkuliah ke Jerman dimana di sana biaya pendidikan adalah gratis.

Pada tahun1985, ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia walaupun memiliki kesempatan untuk bekerja sebagai ahli bedah jantung di Jerman. Dengan nama aslinya yaitu Lie Tek Bie, ia tidak bisa mendapatkan izin adaptasi di Indonesia. Maka dari itu, ia mengubah namanya menjadi Dharmawan.

Dokter Lie mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan dan sosial, bahkan ikut menjadi dokter relawan pada peristiwa Mei 1998.

Ia mendirikan Yayasan Dokter Peduli (doctorShare) pada tahun 2009, yang memiliki banyak rencana jangka pendek maupun panjang. Salah satu program yang dilakukan oleh doctorShare yaitu Rumah Sakit Apung yang menjangkau pasien-pasien melalui laut.

Donasi untuk doctorShare selalu dibuka yaitu pada rekening berikut:

Yayasan Dokter Peduli

Bank Central Asia

No 198 550 7777

Selanjutnya adalah penanggap pertama dalam acara ini, yaitu Udaya Halim, pendiri PERTIWI. Ia menjelaskan Persaudaraan PERTIWI yang berasaskan 4K yaitu Kemanusiaan, Kebudayaan, Kebangsaan dan Kesetaraan.

Untuk penanggap terakhir yaitu Diana Pratiwi, Ketua IDN Victoria. Ia menyebutkan kembali mengenai dokter-dokter yang ikut membangun dunia kesehatan Indonesia sebelum kemerdekaan diantaranya Ong Soe Aan, dr. Oen, dr. Kwa Tjoan Sioe, dr. Tang Ping Le dan dr. Liem Tjay Sien, dr. Pei Kiaw Pik, dr. Liem Ghik Djiang dan dr. Tjan Eng Jong, dr. Yap Hong Joen dan dr. Tio Oen Bik.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

HALLOWEEN MOVIE MARATHON

“Dracula Untold” (2014): Luke Evans, Sarah Gadon, Dominic CooperFilm ini dibintangi aktor Luke Evans yang sebelumnya telah muncul sebagai peran antagonis di Fast &...

ISLAM AGAMA DAMAI, UMATNYA DIHIMBAU TENANG

Baru-baru ini telah terjadi berbagai kasus kekerasan terhadap umat Muslim, terutama para wanita di Australia. Hal ini dipicu oleh beberapa kejadian yang melibatkan gerakan...

The AIAV Jogjakarta High School Indonesian Immersion Program 2020 | Dewa Ruci Saga

A true Javanese should know about Wayang and the stories of wayang. One of the wayang stories laden with spiritual values ​​and Javanese philosophy is Dewa...

Kamu Tidak Sendiri ! | Purple Day – International Awareness of Epilepsy

PengalamanJumat, 14 Februari 2003, saya positif menjadi salah satu penderita epilepsi. Suatu momentum hari kasih sayang yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup. Waktu itu saya...

Kepemimpinan Baru DWP Membawa Harapan Baru

Pada penghujung bulan Juli kemarin, anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Victoria dan Tasmania kembali berkumpul untuk menyampaikan salam perpisahan kepada periode kepemimpinan Yohana...