Gideon Sanusi mengatakan dirinya hobi memasak dan bahkan suka memasak untuk temannya bila sedang istirahat setelah main basket bersama. Tapi ia tidak mengira bahwa di usianya yang ke-20 akan sudah membuka restorannya sendiri bersama adiknya, Michael Sanusi yang berusia 19 tahun.

Michael (kiri) dan Gideon (kanan)

Dua bersaudara yang lahir di Melbourne, Australia ini merupakan founder dari restoran yang berlokasi di 155 Franklin Street bernama YOI. Melihat kurangnya kesediaan makanan Indonesia modern di kota kelahirannya itu, mereka akhirnya memberanikan diri untuk membuka rumah makan yang bernuansa ‘kekinian’ tersebut.

“Saya rasa kita di Melbourne kurang makanan Indonesia yang modern, terutama sesuatu yang berbeda, bukan hanya makanan Indonesia tradisional,” kata Gideon.

“Jadi saya pikir kalau buka restoran seperti ini, yang tempatnya lebih modern, akan mewakili makanan Indonesia in a different way that other people can enjoy.”

Karena masih menempuh pendidikan S1 di University of Melbourne, pengusaha muda ini memang harus pintar membagi waktu antara bisnis dan sekolah. Gideon yang bertanggung jawab atas inovasi menu dan pembentukan sistem kerja mengatakan sejak restorannya dibuka pada 31 Agustus 2019, ia tidak merasa kewalahan.

“Kerjaan [di restorannya] sih banyak, apalagi menyeimbangkan dengan kuliah juga lumayan sulit apalagi waktu ujian. Tapi saya merasa tertantang, sih.”

BERMULA DARI HOBI

Michael Sanusi, adik Gideon, mengatakan bahwa ide membuka restoran itu muncul dari kegiatan kakaknya yang suka masak mie instan dengan bumbu salted egg buatan sendiri untuk teman-teman mereka.

Salted Egg Chicken

“Teman-teman Gideon [suka] datang lalu Deon [panggilan untuk Gideon] masak Indomie,” tuturnya dengan antusias.

“Terus saya ingat salah satu temannya bilang kalau makanan ini bisa dijual, malah sampai bisa buka restoran.”

Lahir dan besar di Melbourne, Gideon merasa beruntung karena dapat tahu persis selera makanan teman-temannya yang mewakili kesukaan lidah masyarakat kota Melbourne.

“Kita tahu taste makanan orang Australia dan apa yang orang luar lebih suka. So we have a better understanding of what they like, because we also grew up here, so maybe we got a better taste [of what kind of food they like].”

YOI: RESTORAN INDONESIA YANG RAMAH

Sesuai dengan keinginan Gideon untuk membuka sebuah restoran yang menarik minat pelanggan dari negara Asia Tenggara disamping Indonesia serta Australia, YOI sebagai restoran Indonesia menyediakan makanan yang cukup lain dengan makanan Indonesia pada umumnya.

“Makanan [yang kita jual] beda, kita ada makanan tradisional dan fusion. Salted egg [menu mie goreng dengan saus salted egg] itu adalah modern style Indonesian food, yang [sifatnya] HawkerStreet Food,” kata Gideon.

“Tapi di sisi lain, kita masih ada menu nasi dan rendang yang tradisional dan menu ‘tengah-tengah’ yaitu geprek.”

Menurutnya, menu-menu yang disediakan oleh YOI sangatlah cocok bagi anak muda yang suka makan beramai-ramai dengan kelompok komunitas mereka yang sifatnya multikultural.

“Apalagi ada orang kadang dari gereja, komunitasnya mencakup orang dari Singapura, Malaysia, Australia, dan di sini, semuanya bisa makan sama-sama. Bagus sekali kalau semua teman-teman mereka bisa makan.”

Gideon mengatakan bahwa salah satu keinginannya melalui YOI adalah untuk menciptakan tempat bagi komunitas Indonesia untuk berkumpul, ngobrol, dan bersenang-senang. Uniknya, ia malah mendapatkan teman-teman dari Indonesia setelah membuka restoran tersebut.

“Teman-teman saya kebanyakan bukan orang Indonesia, dan baru-baru sejak buka restoran jadi banyak teman orang Indonesia.”

Ayam Geprek

Saat ini, Gideon memiliki banyak ide menu baru untuk dikeluarkan oleh restoran YOI. Namun, melihat umur restorannya yang masih muda, ia harus lebih bersabar.

“Kita sebenarnya banyak ide menu baru, tapi masih under process karena kitchen kita juga kecil dan kalau menu makanan terlalu banyak, waktu pengeluaran akan makin lama. Jadi harus pelan-pelan dicoba. Selain itu harus memikirkan staff juga.”

Sosok kakak beradik ini telah menjadi inspirasi bahwa tidak ada batasan umur untuk memulai suatu bisnis, belajar lah dari kreativitas dan konsistensi. Bahkan sebuah hobi bisa berpotensi untuk terus dikembangkan. Selamat dan semoga sukses, Gideon dan Michael!

Nasa