Pendidikan di Indonesia dalam New Normal

0
323

Akhir Juli kemarin telah dilaksanakan Webinar Nasional dengan tema Pendidikan dalam New Normal. Webinar yang diselenggarakan oleh kerjasama PT. Telkom Indonesia, Yayasan Kitong Bisa dan Universitas Advend Indonesia ini diliput langsung oleh tim BUSET.

Webinar tersebut dihadiri oleh insan-insan pendidikan mulai dari Kemendikbud, yayasan-yayasan advokasi pendidikan, dosen-dosen, guru-guru hingga mahasiswa dan siswa dengan jumlah 1000 orang peserta via Zoom, ±2000 orang lainnya via live streaming Youtube dan sisanya megikuti melalui Facebook live yang total pesertanya dilaporkan oleh panitia ±7000 orang. Webinar ini juga merupakan seri pertama dari rangkaian Webinar Nasional Indonesia Optimis Bangkit.

Adapun yang menjadi nara sumber dan dalam webinar ini adalah; Nadiem Anwar Makarim (Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI), Iwan Syahril (Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan), Albinur Limbong (Wakil Rektor Bidang Akademik di Universitas Advent Indonesia/UNAI), Hetifah Sjaifudian (Wakil Ketua Komisi X DPR RI), Juli Adrian (Chief Executive Officer PT.ProVisi Education), Doseba Tua Sinay CEO and National Dicektor Wahana Visi Indonesia (WVI), Billy Mambrasar (Staf Khusus Milenial-Presiden dan CEO Yayasan Kitong Bisa).

Acara dibuka oleh Rolyana Ferinia Hutagalong selaku MC sekaligus perwakilan dari UNAI yang merupakan host webinar seri pertama ini. Pembukaan berupa sapaan, pembacaan susunan acara, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan memperkenalkan Moderator. Selanjutnya webminar dipimpin oleh Janet Emanuela Tedjanegara (Business Development di Yayasan Triputra Persada Horizon Education) selaku moderator.

Melalui pemberitaan banyak media, telah diketahui bersama bahwa Nadiem Anwar Makarim selaku Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah mengumumkan bahwa selama tahun ajaran ini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akan tetap dilakukan. Oleh karena kebijakan tersebut, tentu ada banyak pro dan kontra yang berdatangan menyerang Kemendikbud. Selain itu, para pelaku pendidikan bahkan juga mahasiswa dan siswa juga perlu menyampaikan keluh-kesah selama proses PJJ dari awal Maret 2020 hingga saat ini agar dapat dijadikan bahan evaluasi oleh Kemendikbud untuk menjalankan PJJ pada tahun ajaran yang baru. Berdasarkan semuanya itulah Webinar Nasional ini terselenggarakan. Berikut ini adalah rangkuman dari liputan Webinar Nasional “Pendidikan dalam New Normal” yang disusun tidak berdasarkan urutan penyampaian nara sumber tetapi disederhanakan dengan alur yang lebih mudah dipahami oleh pembaca. 

Nadiem Makarim sedang menyampaikan materi

Terkait dengan kebijakan melanjutkan PJJ oleh Kemendikbud, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI-Nadiem Makarim menyampaikan beberapa hal berikut “Sekolah dan kampus adalah tempat yang sangat potensial menjadi klaster penularan virus, prioritas kami adalah kesehatan murid, guru dan orang tua karena itu diterapkanlah kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menghindari penyebaran virus di sekolah dan kampus. Di daerah yang bersona merah, orange dan kuning, kebijakan tersebut akan tetap diterapkan hingga ada perkembangan dan kebijakan lanjutan.

Sementara itu di wilayah berzona hijau, kebiasan belajar-mengajar dapat dilakukan melalui tatap muka di sekolah dengan syarat tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Kesehatan dan keselamatan adalah prioritas utama karena itu kami tidak menginginkan sarana pendidikan menjadisarana penularan virus.

Ini merupakan tanggungjawab kolektif insan pendidikan di Indonesia. Eksperimen dengan pembelajaran jarak jauh khususnya yang berbasis teknologi, selama pandemi telah membuka mata kita terhadap tantangan dan potensi pembelajaran dengan metode ini, meski tidak dapat menggantikan belajar secara tatap muka namun pembelajaran daring (dalam jaringan) memberikan manfaat tersendiri. Oleh karena itu kedepannya kita akan terus mengembangkan sistem pembelajaran dan teknologi pembelajaran sebagai pelengkap pembelajaran tatap muka setelah pandemi ini berakhir.

Sekali lagi pembelajaran daring adalah pelengkap bukan pengganti pembelajaran tatap muka, pandemi ini sendiri akan menjadi momentum bagi kebangkitan pendidikan di Indonesia”.

Penjelasan serupa juga ditegaskan oleh Iwan Syahril selaku Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan. Disampaikan oleh Iwan Syahril, “dalam hal ini saya melihat bahwa kita memiliki kesempatan di tengah kesulitan distrupsi global oleh Covid-19 ini. Memang benar bahwa telah terjadi berkurangnya frekuensi, intensitas, kualitas, interaksi antara guru dan murid lalu kemudian terjadi perubahan struktur pembelajaran tetapi tetap ada kesempatan untuk kemajuan dan inovasi”.

Berikut ini adalalah tantangan sekaligus harapan dalam bidang pendidikan di tengah Covid-19 yang disampaikan oleh Iwan Syahril:

  1. Nyaman dengan ketidak-nyamanan artinya “Covid membawa kita pada suatu ketidak-nyamanan dalam semua aspek sementara fitrah manusia adalah kenyamanan, namun saat tidak yaman itulah bermunculan inovasi”. Dalam hal ini sangat nampak bahwa sedang terjadi inovasi di masa pandemi ini yaitu PJJ.
  2. Sikap pembelajaran yang terus menerus: saat ini semua ditantang untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilatih dalam pelatihan manapun yaitu bertahan dalam masa pandemi sebagaimana layaknya bertahan dalam masa sebelum pandemi.
  3. Berorientasi pada anak: sudah terlalu lama memang dan sulit menerapkan kurikulum berbasis “student center”, Namun pada saat ini semua insan tertantang untuk melakukannya dalam PJJ dengan mempertimbangkan segala aspek yang mempengaruhi siswa misalnya ada atau tidak adanya jaringan internet dan sebagainya.
  4. Kecemasan tehadap teknologi menurun dan adaptasi adopsi teknologi justru meningkat baik di kalangan pendidik, orang tua dan juga siswa.

Hal-hal yang disampaikan oleh Nadiem Makarim dan Iwan Syahril diakui dan diapresiasi oleh narasumber lainnya sebagai upaya terbaik yang dilakukan Kemendikbud dalam menyiasati keberlangsungan Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) sekaligus mendukung pemerintah RI untuk meminimalisir dan menuntaskan Covid-19. Namun karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini maka kebijakan sebagus apapun tidaklah 100% demikian pelaksanaannya di lapangan.

Ada terlalu banyak tantangan penyelenggaraan KBM berupa PJJ di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan dan belum meratanya pembangunan infrastruktur di banyak wilayah terutama wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Karena semua faktor tersebut maka ada ketidak-puasan dan keluahan di sana-sini yang perlu didengarkan oleh Kemendikbud agar kebijakannya disempurnakan atau paling tidak dapat diadaptasikan di seluruh wilayah di Indonesia agar tidak ada yang tertinggal dalam masa Covid-19 ini.

Keluhan dan kenyataan pelaksanakan PJJ di lapangan telah dirampungkan berdasarkan rekapan data-data dan disampaikan oleh Hetifah Sjaifudian selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Rupa-rupanya data-data yang disiapkan oleh Komisi X DPR RI tersebut tidaklah jauh berbeda dengan temuan lapangan Yayasan ProVisi Education Indonesia, Wahana Visi Indonesia dan Yayasan Kitong Bisa.

Berikut adalah ringkasan data-data yang disampaikan oleh Juli Adrian, Doseba Tua Sinay dan Billy Mambrasar selaku CEO dari masing-masing yayasan tersebut:

Tantangan berupa 4 kategori sekolah berdasarkan pemetaan lapangan oleh ProVisi Education:

  1. Sekolah-sekolah di kota-kota besar yang infrastrukturnya lengkap dan jaringan internetnya memadai, murid dan pengajar sudah terbiasa dengan teknologi komunikasi. Kategori ini hanya mengalami sedikit tantangan di masa pandemi.
  2. Sekolah yang memiliki akses internet, murid-murid juga fasih menggunakan gadged/perangkat digital lain, tetapi tidak terbiasa menggunakannya untuk memfasilitasi pendidikan maka pengajar maupun murid menjadi canggung dan dalam proses ini terlihat seperti gagap teknologi (gaptek).
  3. Sekolah yang tidak memiliki akses internet dalam artian di sekolahnya memang tidak memiliki fasilitas internet sehingga guru-guru maupun murid-muridnya memang tidak terfasilitasi. Selain itu juga tidak ada internet di rumah-rumah (hanya paket data yang terbatas dan untuk pemakaian pribadi). 
  4. Sekolah di daerah 3T dengan berbagai kekurangan infrastrukturnya yaitu ketiadaan listrik dan semua jaringan komunikasi.

Sarana dan tantangan belajar berdasarkan data lapangan Wahana Visi Indonesia:

  1. Sarana Belajar anak menunjukkan situasi 68% anak-anak belajar dari rumah baik dengan teknologi komunikasi maupun tidak yaitu di bawah pengawasan orang tua dan pengawasan guru secara berkala. 20% anak belajar dengan menggunakan aplikasi, 19% anak belajar kelompok dan kunjungan rumah oleh guru, 17% anak mengakses media pembelajaran dari TV dan radio, 10% mengakses teknologi lain, 5% anak menjalani PJJ dengan sms/telepon khususnya di daerah 3T.
  2. Tantangan belajar yang sering dihadapi anak: 37% bermasalah mengatur waktu belajar, 30% terkait kesulitan pemahaman pelajaran, 24% bermasalah dengan koneksi internet, 21% kesulitan memahami instruksi guru, 11% mengalami terlalu banyaknya tugas.
  3. Jawaban anak-anak terkait kebutuhan mereka selama PJJ: 63% anak membutuhkan buku teks, 28 % anak membutuhkan buku bergambar, 23% anak membutuhkan paket data internet, 17% anak membutuhkan alat kerajinan/seni.
  4. Keterbatasan kapasitas guru (kualitas dan kuantitas) dan orang tua untuk mengawasi anak-anak sambil bekerja selama PJJ.
  5. Masalah perekonomian dan psikososial yang dialami oleh guru-guru terutama guru honorer juga dialami oleh orang tua siswa yang jelas terdampak Covid-19.
Billy Mambrasar memaparkan materinya

Tidak disadarinya masalah kualitas dan kuantitas SDM milenial berdasarkan data pantauan lapangan Yayayan Kitong Bisa:

  1. Populasi milenial (orang muda) Indonesia usia 20-30 tahun/ 2020 adalah sejumlah 85,756,000 orang. Tidak semuanya bersekolah dan tidak semuanya produktif di dunia kerja artinya sebagian besar dari mereka tidaklah mandiri atau masih menjadi tanggungan pemerintah karena di PHK atau memang menganggur bahkan pada masa sebelum pandemi.
  2. Dari total jumlah milenial sebanyak 85,756,000 diketahui data pendidikannya adalah sebagai berikut: 1,26% tidak berpendidikan; 1,99% tidak menyelesaikan pendidikan; 20,24% lulusan SD; 20,97% lulusan SMP; 41,11% lulusan SMA dan hanya 14,43% yang berhasil menyabet gelar sarjana.
  3. Data poin 1 dan 2 adalah data secara keseluruhan, data akan menjadi lebih parah jika detailnya diperjelas berdasarkan propinsi. Contohnya Papua sebagai wakil daerah 3T; 30% anak Papua tidak menyelesaikan pendidikan di SD dan SMP di daerah perkotaan. Di daerah pedalaman ada 50% siswa SD putus sekolah dan 73% siswa SMP putus sekolah.

Dan berikut perkataan Hetifah Sjaifudian selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang mungkin dapat mewakili semua permasalahan dan tantangan di lapangan tersebut: “tidak semua guru melek teknologi, tidak semua murid memiliki hp, tidak semua orang tua mampu mendampingi, dan tidak semua tempat memiliki koneksi internet yang memadai. Ini semua harus dipertimbangkan dalam membuat kebijakan PJJ”.

Selain pelaporan semua data lapangan untuk mengevaluasi kebijakan PJJ yang telah berlangsung dan akan diperpanjang tersebut, Hetifah Sjaifudian, Juli Adrian, Doseba Tua Sinay dan Billy Mambrasar juga menawarkan rekomendasi program dan tawaran kerja sama kepada Kemendikbud untuk mendukung program PJJ agar dapat dinikmati oleh lebih banyak lagi siswa di seluruh Indonesia, diantaranya:

  1. kelas dan perpustakaan bergerak
  2. memberikan serial pelatihan online terkait parenting kepada guru maupun orang tua (agar keduanya tersinkronkan/meminimalisir bentrok antara orang tua dan guru)
  3. meningkatkan kesejahteraan guru honorer 
  4. tetap meningkatkan bantuan literasi dan nomerik kepada guru dan siswa
  5. pendidikan yang kembali ke alam
  6. meningkatkan produksi gadget dalam negeri dengan kerjasama kementrian telekomunikasi, kementrian tenaga kerja beserta kampus-kampus teknik ternama di Indonesia
  7. percepatan distribusi sarana penunjang belajar (buku teks, tranmisi radio, radio, jaringan internet), dan sebagainya.

Saat berlangsungnya webinar ada sapaan dari Presisden RI Joko Widodo yang mengingatkan kembali masyarakat untuk tetap mawas diri terhadap Covid-19 namun bukan berarti menjadi takut dan cemas secara berlebihan: “Virus Corona tidak perlu ditakuti secara berlebihan karena data penderita di Indonesia telah menunjukkan bahwa 94% dapat disembuhkan. Kita perlu mengatasi rasa cemas, panik dan ketakutan yang tentu saja dapat memperburuk keadaan”.

Selain itu ada juga sapaan dan sambutan dari Albinur Limbong yaitu Wakil Rektor Bidang Akademik di Universitas Advent Indonesia/UNAI selaku tuan rumah Webinar Nasional Indonesia Optimis Bangkit: Pendidikan dalam New Normal. 

Webminar selengkapnya dapat disaksikan pada link berikut: