Di Minggu sore yang cerah pada pertengahan Januari, para penari Indonesia kembali menunjukkan performa terbaiknya dalam acara tahunan Lunar Year Festival 2020 yang bertempat di Hopkins street, Footscray. Dimulai pada sekitar pukul 3 sore, para penari yang diorganisir oleh Ganda Marpaung ini bergiliran mempersembahkan tarian tradisional Indonesia yang dibagi dalam dua sesi. Para penari tersebut adalah anggota dari Sanggar Sang Penari Indonesia (SSPI) dan Widya Luvtari.

The East Meets West Lunar New Year Festival sendiri adalah pergelaran festival jalanan terbesar di Footscray yang diadakan setiap tahun. Festival ini dibuat untuk merayakan tahun baru Cina dan juga memperkenalkan kebudayaan Vietnam. Acara ini berlangsung sehari dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Selain berbagai aneka jajanan, pergelaran musik, parade, dan atraksi lainnya, pertunjukan kebudayaan dari berbagai negara juga dipertontonkan. Indonesia salah satunya, mendapatkan kesempatan untuk mempersembahkan karya dan budayanya baik pada tahun ini dan tahun – tahun sebelumnya.

Tari Goyang Semarang dibawakan dengan sangat menarik

Berbeda dari tahun – tahun sebelumnya, penampilan Indonesia dalam tarian yang dibagi menjadi dua sesi ini, sesi pertama mempersembahkan Tari Perahu Layar, Tari Goyang Semarang dan Line Dancing Manado. Line Dancing Manado dibawakan dengan harapan untuk mengajak para pengunjung ikut menari. Pada sesi selanjutnya, Tari Tor-Tor dan Tari Zapin juga tidak kalah sukses menarik hati para pengunjung. Menurut Ganda Marpaung, tahun ini berbeda karena membawa Tari Jawa Timuran dan Sumatera, dibanding tahun lalu yang mempersembahkan Tari Jawa Barat, Bali dan Betawi.

Dalam sesi ke dua, para penari menari di luar panggung

Ganda juga mengungkapkan dalam setahun selalu mendapat beberapa undangan menari seperti dalam acara ini dan Lunar New Year in Point Cook. Dalam memenuhi undangan untuk menari, dia juga mengungkapkan ada beberapa kesulitan dalam mencari penari yang available, seperti saat ini banyak student yang sedang berlibur. Ganda mengakui untuk urusan menari dia mencoba mencakup semua grup – grup tari di Victoria, supaya orang juga melihat adanya perbedaan – perbedaan.

Sebagai seorang perancang busana Indonesia, Ganda sekaligus mempromosikan hasil karyanya melalui baju penari – penari tersebut. Sehingga terjadi kolaborasi antara penari dan design hasil karyanya. “Biasanya orang suka berfoto dengan para penari. Sehingga dengan kostum yang lebih ter-upgrade, akan membantu untuk mempromosikan baju Indonesia lebih luas,” katanya. Lain dari pada tahun sebelumnya, tahun ini juga tidak diadakan fashion show seperti tahun – tahun sebelumnya.

Ganda Marpaung bersama para penari dari Widya Luvtari dan SSPI

Apa Kata Mereka?

Yanti, Penari

Kita tiap tahun menari di sini. Biasanya setiap festival kita mempersembahkan tarian yang berbeda – beda. Kita berharap semoga pengunjung suka dan semakin tahu tentang Indonesia.

Sophie, Penari

Kita kali ini banyak menari Jawa, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah. Semoga kita orang – orang Indonesia atau orang Australia bisa ikut dancing. Kita sangat bangga dengan kreasi Indonesia, apalagi tari daerah. Kita kembangkan tari – tari Indonesia dari grup – grup yang ada di Victoria.

Juliana, Penari cilik

Saya tadi menari Tor – Tor. Tadi deg – degan tapi senang. Sudah menari sekitar 4 tahun. Untuk acara ini berlatih selama 1 bulan. Kalau ada kesempatan menari lagi saya mau bergabung.

Niar