Hari Kemerdekaan tahun ini memang lain dari pada yang lain. Di tengah restriksi Covid-19, para seniman Indonesia di Australia tetap merayakan Dirgahayu RI ke-75 melalui teknologi digital danonline broadcast.

Acara yang ditayangkan di laman Facebook ABC itu dimulai dengan persembahan tarian Bali dan pembacaan puisi dari Dr. Jane Ahlstrand, pengajar Indonesian Studies di University of New England. Selain bekerja sebagai akademia, wanita penerima penghargaan National Australia Indonesia Language Awards (NAILA) ini juga adalah pendiri Sanggar Tari Anahata.

Dilanjutkan oleh persembahan lagu-lagu tradisional oleh Adelindo Angklung, sebuah organisasi musik dari Adelaide yang didirikan oleh suami istri Ferry Chandra dan Yen Yen Chew. Pertunjukan angklung ini diiringi oleh beat serta senandung elektronik (recorded) untuk mewarnai suara akustik angklung yang dimainkan oleh para pemain. Sesuai dengan asal usul angklung yang datang dari Jawa Barat, Ferry tampil dengan memakai baju tradisional kebaya Sunda untuk melengkapi pertunjukannya malam itu.

Tak hanya tarian Bali, Panggung Merdeka juga mempersembahkan tarian Betawi Kembang Jakarta dan tari Rantak yang dibawakan oleh penari Sanggar Lestari, Deena Verawati dan Mira Millane. Adapun tarian Betawi yang dibawakan oleh Deena tersebut dipengaruhi oleh tarian Tiongkok dan tarian Jaipong. Sedangkan tarian Rantak yang ditarikan Mira berasal dari Sumatra Barat dan gerakan-gerakannya memiliki unsur pencak silat.

Acara turut diramaikan oleh penampilan pencak silat dari Lesley Tayu Irawan dan David Arief Bachsinar dari Australia Pencak Silat Federation. Jurus-jurus pencak silat ini diiring dengan musik tradisional Betawi dimana setiap gerakan tangan, tangkisan, tendangan dan pose tidak hanya menunjukkan kemampuan bela diri tetapi juga esensi kesenian pemainnya.

Sebagai penutup, penyanyi Budi Bone dari band Kuta Groove membawakan lagu Tanah Airku.

Apa Kata Mereka

Berikut kesan beberapa seniman Panggung Merdeka tentang pertunjukan online mereka melalui wawancara dengan BUSET.

Deena Verawati – Sanggar Lestari

Deena (kedua dari kanan) bersama tim Sanggar Lestari

Because of Covid, we haven’t been able to practise together in person, so these days we do everything online. We contact each other via Zoom and practise different dances. Mira was actually the one who was contacted by ABC for us to perform. We do practise once a week every Thursday, but for this particular occasion we did separate practise as well to make sure we were on track with the event. 

Getting on Zoom itself is easy, but with dancing, learning without having somebody being physically there in front of you is difficult. Getting to know which hand is the right hand and which one is the left can get difficult via online. But it is still really fun for us because we all enjoy what we do. We like the challenge! This was actually our second performance online; we did our first one previously at KJRI Melbourne for a farewell event which was pre-recorded, so we were able to compile our performances together and send it to KJRI to play during a Zoom session. 

The ABC event was the first time we were asked to perform live, but because of technical difficulties, the entire event ended up being pre-recorded as well. It was interesting performing from our rooms, having limited space to be able to dance. It was challenging, but fun. Overall, it was really nice to get back into our costumes and dance for an audience again.

Lesley Tayu Irawan – Australian Pencak Silat Federation

Les (tengah bawah) dan group Pencak Silat

Ada keuntungannya dengan adanya teknologi-teknologi baru ini. Sekarang kita berfokus untuk bisa mempromosikan pencak silat melalui online. Akan lebih baik begitu karena sebetulnya ini mempermudah untuk memperluas (jangkauan) pencak silat. Karena kalau dulu kita cuma bisa perform di satu gedung yang pengunjungnya sekian banyak saja, atau performance di sekolah-sekolah. Tapi sekarang sekolah-sekolah pun sudah berkurang untuk kegiatan mengundang art-art Indonesia, karena ya disamping sekolah-sekolah yang belajar Indonesia sudah sedikit berkurang, maka budgetnya juga mungkin sudah berbeda.

Memang kita sedang berfokus bagaimana caranya untuk menguasai teknologi ini dalam mempromosikan pencak silat. Kami juga sedang membuat satu program dan mulai minggu depan membuka online traning, dimana instructor-instructor dapat bergabung. Jadi menurut saya ini mempermudah mengajak orang mengenal pencak silat.”

Ferry Chandra dan Yen Yen Chew – Adelindo Angklung

Ferry dan Yen Yen

“Memang kita sama ABC Indonesia sudah kenal 4-5 tahun, cukup lama. Kita selalu berhubungan dengan mereka, dan mereka tahu kita ada kegiatan angklung di Adelaide. Mereka juga suka datang ke Adelaide untuk meliput berita-berita angklung di Adelaide. Kita juga pernah ke Melbourne beberapa kali untuk acara-acara yang di Boxhill, Satay Night, yang diundang oleh Perwira.

Jadi pada awalnya kita dikontak oleh Pak Erwin 3 hari sebelum hari-H (Panggung Merdeka), kita kaget juga. Tapi karena mereka juga mendadak planningnya, dan kita bisa dukung, ya kita bilang iya. Dalam waktu 3 hari kita latihan dulu. Pada waktu hari H-nya, kita check sound, ternyata kurang bagus kualitas suara musiknya karena tergantung dengan internet.

Maka dari itu, kita menyarankan ke Pak Erwin untuk pre-record, karena kita sudah sering sekali dengan komunitas gereja untuk pre-record, dan hasilnya jauh lebih bagus. Puji Tuhan, bisa berhasil karena kebetulan ada teman-teman yang sedang latihan dan kita minta tolong kepada mereka. Satu untuk jadi sound engineer, yang satu jadi video directornya, dan semua saling bantu agar terlaksana.

Ini juga merupakan sesuatu yang baru bagi kita. Ada bagusnya karena bisa kemana-mana karena melalui virtual. Kita memilih lagu Ibu Pertiwi kali ini karena kita ikut merasakan sedihnya di Indonesia yang penangan Covid-nya belum sebagus di Australia. Kita merasakan sedihnya yang dulu biasanya Agustusan pada pulang, jadi semuanya agak merasa mellow sedikit. Kita jadi ingat Ibu Pertiwi dan merasakan dukanya. Kita juga merasakan sedihnya yang di Victoria, jadi kita memberikan semangat (dari lagu ini).”