Home BUSET NGELIPUT Natasha dan Helen: Memindahkan Karakter Cerita Rakyat Indonesia ke Zaman Modern dalam Pameran Fotografi LEGENDA

Natasha dan Helen: Memindahkan Karakter Cerita Rakyat Indonesia ke Zaman Modern dalam Pameran Fotografi LEGENDA

0
Natasha dan Helen: Memindahkan Karakter Cerita Rakyat Indonesia ke Zaman Modern dalam Pameran Fotografi LEGENDA
Pameran Fotografi LEGENDA di Studio SIGNAL, Northbank, Flinders Walk. Foto dari Helena dan Natasha.
Suasana acara pembukaan LEGENDA, Jumat, 5 Maret. Foto dari Helena dan Natasha.

“Mama, it’s a fairytale,” kata seorang anak kecil sambil menunjuk papan mural penuh foto di area Flinders Walk, dekat Yarra River.

Hari itu adalah hari pembukaan LEGENDA, sebuah pameran fotografi karya Natasha Hertanto (art director) dan Helena Wijaya (fotografer).

Tampil sebagai bagian dari festival fotografi internasional PHOTO 2021, pengunjung dari berbagai negara asik mengamati potret-potret artistik LEGENDA, sambil menikmati camilan khas Indonesia dan musik dari DJ Komang (@komang_music).

Pameran yang diadakan di studio SIGNAL, Northbank ini terdiri dari dua bagian. Di luar terdapat papan mural berisikan karakter-karakter cerita rakyat Indonesia yang seakan bermigrasi ke Victoria, sementara di dalam studio, terdapat karya fotografi versi bila mereka hidup di masa kini.

LEGENDA menghadirkan empat cerita rakyat populer, yaitu Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, Nyai Roro Kidul, dan Rama Sita, yang dipotret dengan latar belakang lokasi wisata di sekitar Melbourne, seperti Alfred Nicholas Memorial Garden, Erskine Waterfalls, dan Half Moon Bay. Baju tradisional yang dikenakan para model juga begitu mempesona, dengan payet yang berkilapan dan perpaduan warna khas tanah air.

“Melalui pameran ini, saya ingin mengeksplor pertanyaan tentang nilai, terutama yang berkaitan dengan wanita di Indonesia,” ujar Natasha dalam kata sambutannya.

“Apa saja nilai yang diajarkan pada kami saat kecil, dan apa yang kami pikirkan sekarang, satu dekade kemudian? Bagaimana cara kami menentukan nilai seorang wanita dalam konteks keluarga dan bangsa secara luas?”

Dipenuhi dengan canda tawa dan air mata bahagia, LEGENDA banjir pujian dari pengunjung yang datang.

Tapi lebih dari segalanya, Natasha dan Helena sendiri merasa puas karena photo essay mereka berhasil membuka diskusi kritis antar para pengunjung: Sebagai wanita modern, nilai apa saja yang perlu dimiliki untuk mencapai ‘happily ever after’?

Pengunjung yang datang. Foto dari arsip Natasha dan Helena.

Persiapan a la Game Show

Tim LEGENDA (dari kiri ke kanan): Clara Tandi (graphic designer), Helena Wijaya (fotografer), Natasha Hertanto (art director) dan Belinda Eugenia (mural artist). Foto dari Helena dan Natasha.

Di hari kelima pameran, BUSET berkesempatan untuk tur studio SIGNAL dengan Natasha dan Helena.

Hari itu, dibawah terik matahari dan gemuruh suara kereta, keduanya bercerita tentang awal pertemuan mereka, tercetusnya ide, hingga tantangan yang dihadapi saat mempersiapkan pameran di masa pandemi.

“Dari kecil orang tuaku suka sogokin aku buku buat dibaca, termasuk buku cerita rakyat yang buat anak-anak,” kata Natasha dengan antusias. “Pas beranjak dewasa, tiba-tiba kepikir, wait a minute, moralnya kok begini?”

Ketika mendengar kabar pendaftaran SIGNAL’s Young Creatives Lab 2020, lulusan University of Melbourne jurusan S1 Creative Writing ini pun termotivasi untuk mengimajinasikan ulang cerita-cerita tersebut, kali ini dalam bentuk fotografi.

“Aku belum pernah ketemu sama Helen. Begitu lihat hasil fotonya di Instagram, aku langsung kayak, ‘I choose her, I found her’. Aku suka cara Helen menangkap gerakan dan warna,” ungkap Natasha saat mengingat proses perekrutan timnya.

Selain Helen, Natasha juga mengajak make-up artist Karenina Kartikahadi (@akka.aesthetics) yang kebetulan sedang berkuliah di Melbourne. Sayangnya, Karen kembali ke Indonesia bulan Desember lalu, sehingga tidak bisa hadir di pameran ini.

“Waktu dikontak Nat, aku langsung semangat, karena mikirin make up-nya begini, pakainya baju ini, shoot-nya disini,” ujar Helen sambil tertawa.

We made a very good team. Aku beruntung banget, karena kalau team-nya bukan mereka, sepertinya pameran ini gak akan jadi, deh,” kata Natasha yang selain menjadi art director, juga merangkap sebagai produser, penulis booklet, asisten fotografi, bagian keuangan, sampai tukang angkat bawaan.

Butuh persiapan satu tahun sejak mengadakan rapat pertama, hingga akhirnya peluncuran pameran. Terlebih karena lockdown, persiapan jadi penuh tantangan tambahan. Mulai dari rencana syuting yang beberapa kali harus dibatalkan, pemotretan iklan yang akhirnya dilakukan indoor, kostum kebesaran, papan mural yang dijadikan alat skateboard, sampai di saat terakhir, terjadi snap-lockdown sehingga acara pembukaan harus diundur. 

“Rasanya seperti di game show, setiap kali ada challenge baru,” kata Helen yang saat ini berkuliah di RMIT jurusan Visual Arts.

“Waktu lockdown, kita kemana-mana cuma boleh berlima, jadi harus gotong royong, jalan kaki sambil bawa bunga, buah-buahan, beras lima kilogram, semuanya sendiri.”

“Kita semua enjoy dan all in,” tambah Natasha. “Ditengah syuting bisa ketawa-tawa, pakai kebaya sambil lompat-lompat, teriak-teriak pas syuting, pulang bentol-betol, semuanya kita bawa senang.”

Alamanda (@deliriousink) sebagai Nyai Roro Kidul. Foto: Helena Wijaya

Dari empat sub-tema LEGENDA, Natasha sendiri paling menyukai penggambaran Nyai Roro Kidul.

“Cerita ini yang paling dekat sama aku, karena seluruh keluargaku percaya banget sama adanya hal seperti ini. Dari kecil kalau main ke laut, kita selalu bawa sesajen, selalu izin. Waktu syuting kita juga bawa bunga, buah, dan kacang-kancangan,” kata Natasha.

“Buat aku pribadi, dari cerita Nyai kita bisa belajar bahwa sebagai wanita, it’s okay to embrace your power. Tidak banyak tokoh wanita yang mencapai status ini, terutama dalam budaya Indonesia.”

Dari segi artistik, Helen sengaja membuat potretnya sedikit blur, karena kenyataannya memang hanya ada segelintir orang yang pernah melihat Nyai secara langsung.

Helen sendiri paling menyukai penggambaran Bawang Merah Bawang Putih.

Gita (@skinnymarie) sebagai Bawang Merah dan Ghaby (@ghabygunawan) sebagai Bawang Putih. Foto: Helena Wijaya

“Aspek pertama adalah tentang kepribadiannya. Dicerita asli, Bawang Merah dan Bawang Putih tidak akur. Si Putih ditindas terima aja, disuruh apa, mau aja. Sedangkan Si Merah seratus persen kebalikannya. Dia tahu apa yang dia mau, dia berupaya untuk mencapai itu,” jelas Helen. “Menurut aku, kita semua somewhere in the middle.

Selain aspek kepribadian, Helen juga menjelaskan tentang aspek persaudaraan yang mau ia sampaikan.

“Bagaimana kalau mereka rukun dan saling support? Sebagai wanita kita sering dibanding-bandingkan, ‘Kok kamu tidak seperti kakakmu, Kok kamu beda dari adikmu?’, padahal kita bisa kok akrab dan malah saling belajar dari perbedaan itu.”

Setiap tema punya kisah serunya masing-masing. Kurang dua hari dari syuting Timun Mas, tim LEGENDA masih belum menemukan cara yang tepat untuk menggambarkan sosok Buto Ijo.

“Cerita Timun Mas ini yang paling tricky, karena kita merasa kalau pakai orang asli akan konyol jatuhnya,” kata Helen. “Akhirnya udah mepet banget, aku kepikir, gimana kalau Buto Ijonya lebih ke personal demons, dealing with our own thing, daripada dikejar raksasa seperti cerita aslinya?” tambah Natasha yang akhirnya jadi model tangan untuk Buto Ijo.   

Diovi Azaleea (@itsnotdiovi) sebagai Timun Mas. Foto: Helena Wijaya

Sebagai bagian dari upaya menginisiasi diskusi antar pengunjung, Natasha dan Helen memutuskan untuk tidak menaruh teks apapun dibawah foto. Mereka ingin agar masing-masing pengunjung dapat mengartikan sendiri hasil foto tersebut.

“Orang Indonesia seringkali lebih suka diberi tahu moral ceritanya secara langsung. Sementara itu, orang disini tidak suka hal-hal yang terlalu kentara. Menurut mereka, jadinya membosankan. Dalam pameran ini, kita cari titik tengahnya,” kata Natasha.

Salah satu foto yang dipajang dalam studio SIGNAL adalah foto Sita yang sedang memanah di sebelah Rama. Model Rama dan Sita, Joseph dan Catherine adalah suami istri asli, sehingga ekspresi dalam fotonya terlihat sangat natural.

Dalam booklet yang dibagikan kepada para pengunjung, salah satu foto yang digunakan adalah foto Rama sedang memasak di dapur. Ada juga foto ketika keduanya sedang menyiram tanaman di kebun.

“Gerakan feminisme seringkali mendorong pemikiran seperti ‘wanita kuat tidak butuh siapa-siapa’, padahal sebenarnya pasangan ada untuk saling membantu, saling bekerja sama, bahkan ketika melalukan pekerjaan rumah sekalipun,” jelas Natasha, yang sering jadi sukarelawan untuk kelompok Girl Guides Australia.

Catherine Damayanti (@catherinedamayanti) sebagai Sita dan Joseph Ardianto (@josephardianto) sebagai Rama. Foto: Helena Wijaya

Mengkritik dengan Cinta

Sebagai bagian dari program mentoring SIGNAL untuk seniman muda, tim LEGENDA didampingi oleh mentor Rani Pramesti, seniman senior asal Indonesia yang kerap kali memasukan moral sosial di karyanya.

“Kita dibantu Kak Rani untuk memperkuat tujuan proyek ini. Dia yang mendorong supaya kita berani mengkritik permasalahan di Indonesia, sambil tetap memperlihatkan rasa cinta kami sebagai anak bangsa,” ungkap Natasha ditengah ceritanya tentang sumber inspirasi.

“Challenging makes it better, dan bukan karena mau bersikap penuh kebencian atau anti-nasionalisme.”

Dari segi teknis fotografi, Helen terinspirasi oleh banyak fotografer Indonesia dan internasional, seperti Mikael Aldo, Sharon Angelia, Rio Motret dan Rob Woodcox. 

“Aku hobi banget membuat orang lain kelihatan cantik. Aku paling suka bagian styling-nya, cari-cari tempatnya, persiapan ini itunya,” kata Helen yang mengaku hobi jalan-jalan dan baca buku.

“Agak takut sebenarnya kalau orang sampai ada yang bilang, ‘Loh, kan cerita aslinya bukan begini?’, tapi fotografi memberikan kebebasan supaya masing-masing orang dapat mengintepretasikan secara pribadi maksudnya.”

Tentang mengkritik pendidikan di Indonesia, Natasha menyampaikan keinginannya supaya anak-anak diberikan wadah untuk membentuk pendapat sendiri.

“Di negara kita, rasanya kita kurang dilatih untuk berpikir kritis. Nilai-nilai yang tertanam lebih banyak berasal dari orang tua, sekolah, atau agama. Rasanya seperti sudah didoktrin, lalu bila ditanya, tinggal dikeluarkan. Pingin banget bisa mengubah itu.”

Natasha dan Helen menyapa Catherine dan Joseph dalam acara pembukaan LEGENDA. Di hari pemotretan Rama dan Sita, Catherine sebetulnya sedang hamil muda. Foto dari Helena dan Natasha.

‘Menghargai’ Diri Sendiri

Tim LEGENDA (dari kiri ke kanan): Clara Tandi (graphic designer), Helena Wijaya (fotografer), Natasha Hertanto (art director) dan Belinda (mural artist). Foto dari Helena dan Natasha.

Bekerja sebagai fotografer untuk salah satu vendor wedding photography populer di Melbourne, bakat artistik Helen tidak diragukan lagi. Namun begitu, Helen sendiri mengaku belum punya cita-cita konkrit untuk kedepannya.

“Aku orangnya go with the flow aja, gak ada ekspektasi apa-apa. Kalau kerjaan datang, ayuk aja,” ungkap Helen dengan santai. Awalnya hanya bereksperimen foto-foto menggunakan kamera kakaknya, Helen malah jadi ketagihan dengan dunia fotografi.

“Buat aku, setiap projek butuh inspirasi dan referensi yang berbeda. Bisa lagi jalan-jalan, dapat ide karena melihat gedung yang desainnya unik dan kombinasi warnanya menarik. Langsung deh, aku foto buat jadiin referensi color palette.”

Sedangkan Natasha, yang saat ini sedang melanjutkan berkuliah S2 International Development di RMIT mengaku punya sifat yang lebih ambisius, jauh berbeda dari Helen.

“Sejak umur 13 tahun, aku udah bercita-cita mau jadi penulis. Beranjak dewasa, aku semakin tertarik kerja di bidang sosial, sambil terus memasukan segi storytelling di dalamnya,” jelas Natasha.

“Pengerjaan LEGENDA ini membuka pandangan aku, karena ternyata storytelling bisa dilakukan dari wadah manapun. Aku tertantang untuk shift sedikit dan menyalurkan hobi berceritaku lewat wadah lain selain teks.”

Bagi Natasha dan Helen sendiri, tantangan terbesar bekerja di bidang seni terletak di segi keuangannya.

“Kami dibayar sangat rendah,” kata Natasha, diikuti anggukan setuju dari Helen.

“Orang lihatnya membuat pameran seperti mudah, tapi ternyata banyak banget yang harus dikerjakan,” Helen menambahkan.

“Pembicaraan tentang bayaran di industri kesenian masih jadi sesuatu yang kurang didiskusikan. Apa sih patokan karya yang mahal dan yang murah? Berapa sih nominal yang pantas untuk karya kita?”

Menurut Natasha, pekerja seni harus berani menghargai karya dan kemampuannya sendiri.

You assign your own salary, and you have to know that you worth a lot,” ujarnya dengan yakin.

Untuk membaca biodata lengkap Natasha Hertanto dan Helena Wijaya, silahkan klik link berikut ini:

https://photo.org.au/artists/natasha-hertanto

https://photo.org.au/artists/helena-wijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here