Orchid & Fish: Fragrance In Chinese Culture

Secara tradisional, dalam budaya Tionghoa, adalah hanya ada sedikit perbedaan (beda-beda tipis saja) antara konsep dan pengertian serta istilah mengenai dupa, parfum, rempah-rempah atau herbal materials. “香水(xiāngshuǐ)” adalah istilah / terjemahan untuk “parfum” yang muncul di belakang hari.

香味 (xiāngwèi) atau scent / sweet or nice smell telah memiliki peran penting dalam budaya Tionghoa sejak bermilenia. Hal mana membuat Tiongkok sarat dengan sejarah dan pengetahuan mengolah dan memanfaatkan aspek aroma / sweet smell dalam bentuk obat-obatan, objek persembahan / sembahyangan, alat pencatat waktu. Ini mengapa pula, bangsa Tionghoa menganggap bahwa setiap perfume (sweet aroma) juga dapat berfungsi sebagai obat.

Proses ekstraksi aroma tanaman dianggap sebagai tindakan yang dapat “membebaskan” jiwa tanaman. Transformasi dari wujud dupa padat menjadi uap beraroma mencerminkan transmutasi, dari realm fisik atau fana ke realm spiritual. Hal ini adalah sebagai pengingat bahwa semua mahluk hidup (termasuk manusia) pun cepat atau lambat pada suatu saat akan bertransformasi dari dunia fana ke realm lain. Uap / asap beraroma wangi juga adalah simbol dari spirit / roh manusia, yang harus senantiasa dijaga kesucian nya! Begitulah sudut pandang Chinese culture (based on Daoism) mengenai sweet scent (香).

Dalam karakter Mandarin, tulisan “香” ini memiliki multi makna, bisa sebagai: wangi, aroma yang menyenangkan, hio atau dupa. Dan dibelakang hari, dengan menambahkan kata “air / liquid” menjadi kata “香水” alias “air wangi” alias “parfum.”

Pada era Tiongkok modern, objek wangi-wangian in general dan khususnya parfum sempat dijauhkan oleh masyarakat. Ini karena di era Cultural Revolution (文化大革命), segala sesuatu yang simbol dan diasosiasikan sebagai bourgeoisie (means a social class of people who own the means of production, making them in the upper or merchant class) adalah strictly forbidden. Hence, memiliki apalagi memakai parfum bisa membuat seseorang dipresekusi atau bahkan dieksekusi.

Faktor lain, terkait dengan masalah gender. Parfum tidak dilihat sebagai hal yang maskulin karena kata “aroma” mengingatkan bawah sadar kita dengan aspek feminitas. Ini mengapa, di era modern popularitas pemanfaatan parfum di kalangan kaum pria di Tiongkok jauh dibawah jika dibandingkan dengan di Western society.

Secara acak, ambil dan baca buku apa pun tentang kehidupan di istana kekaisaran atau kehidupan para selir di istana, maka kita akan dengan mudah mendapatkan informasi terkait peran minyak wangi, bunga-bungaan, kayu cendana, dan bahkan kadang-kadang beberapa rempah yang dibawa dari far away lands via 絲綢之路; Sīchóu zhīlù (Silk Road).

Ambil contoh, kisah mengenai 慈禧太后; Cíxǐ Tàihòu (Empress Dowager Cíxǐ); 22 August 1861 – 13 November 1908. Empress Cíxǐ dikenal memiliki ketertarikan yang sangat “devout” pada produk-produk beraroma; dan Cíxǐ menggunakan minyak dari bunga melati, mawar, bunga jeruk, honeysuckle sebagai wewangian di tubuhnya; juga memasukkannya ke dalam teh dan aneka makanan yang disantapnya. Fyi, Cíxǐ tersohor pula punya satu teknik sekaligus ritual kecantikan dengan memanfaatkan mutiara (珍珠) yang digerus menjadi bubuk sangat halus; dan setiap hari bubuk mutiara ini di pakai di wajah beliau. Ini mengapa 珍珠粉 (pearl powder) menjadi salah satu rahasia TCM yang mendunia dan sudah jadi rahasia umum!

Menurut informasi dari banyak kitab-kitab, puisi-puisi, lukisan-lukisan dan aneka objek antik, wanita yang sadar mode (fashion-conscious) akan mengenakan nektar hasil penyulingan dari berbagai jenis bunga seperti lily, lotus, melati dan krisan. Setiap pagi mereka akan mengoleskan beberapa tetes nektar, hal ini akan membuat mereka tetap harum sepanjang hari.

Di kalangan keluarga bangsawan dan para pejabat tinggi, ada kebiasaan untuk mengundang teman-teman buat bersama-sama mengapresiasi aneka aroma wangi dari dupa koleksi mereka. Ritual ini bahkan menjadi ajang untuk menunjukan “kehebatan” mereka dalam mendapatkan bahan atau dupa wangi yang langka dan mahal. Aktivitas (pesta) ini maybe kalau dijaman sekarang ialah dimana kita bersama-sama menikmati sisha, atau singalong di karaoke.

Salah satu SOP (standard operating procedure) untuk beraudiensi dengan raja atau kaisar di istana ialah para tamu harus memastikan pakaian mereka dalam kondisi bersih dan beraroma wangi.

Penggunaan wewangian, termasuk dupa serta hio dapat dikatakan sudah eksis sejak dari kelahiran Chinese civilisation. Wewangian telah memainkan peran penting dan sakral di aspek upacara tradisi, spiritual keagamaan, kehidupan kaum intelektual dan dunia sastra serta seni.

Dalam budaya Jepang dikenal yang namanya “Kōdō (香道; Way of Fragrance).” Nah hal ini juga adalah sesuatu yang di introduced ke negara Sakura oleh para bhiku Tiongkok dan atau oleh para bhiku Jepang yang menimba ilmu di Tiongkok.

Wewangian, antara lain dalam wujud dupa dan hio tidak hanya digunakan untuk menunjukkan penghormatan kepada dewa/i, menghormati leluhur atau untuk sarana “pemurnian” jiwa; tetapi menjadi pula bentuk artistik yang sangat berkembang dan terkenal.

Popularitas dupa jauh lebih kuat di masa lalu dari pada saat ini. Di ancient time sangat umum bagi orang-orang, terutama mereka yang berasal dari keluarga bangsawan dan atau pejabat tinggi serta saudagar kaya, untuk menempatkan pembakar dupa di rumah mereka dan bahkan di dekat tempat tidur mereka. Sebelum meninggalkan rumah, pakaian para bangsawan akan diresapi dengan dupa sehingga mereka bisa menikmati aroma wanginya sepanjang hari. Fenomena ini adalah kalau jaman sekarang dimana kita menggunakan “air freshener” di ruangan; dimana kita memakai bahan pewangi untuk pakaian dan atau kita menyemprotkan parfum ke tubuh!

Salah seorang sohib koko saya penggemar dan sekaligus kolektor aneka dupa dan objek yang beraroma wangi. Kediamannya di Beijing dipenuhi dengan perabot dan koleksi barang-barang seni yang terbuat dari 沉香; Chénxiāng (Gaharu) dan 檀香; Tánxiāng (Cendana) yang di acquired dari berbagai pelosok dunia. Menurut pendapatnya ialah kira-kira sebagai berikut: 如果你房子, 古董或珠宝,它仍然是具体的物品, “; 沉香 檀香 是不同的. 它的芬芳而燃, 是短的享受. 什么都没有留下, 只剩下香味, 暂时的香味. 不是世界上最奢侈的事情?” “If you buy a house, antique or jewelry, they remain as concrete items,” but; Chénxiāng and Tánxiāng is different. It is burned for its fragrance, the fleeting moment of enjoyment. Nothing is left, but the fragrance, the temporary fragrance. Isn’t this the most luxurious thing on the world?”

Lines di atas mengingatkan kita kepada salah satu ujar dari 孔子 (Kǒngzǐ) yang bunyinya:

“If you are in the company of good people, it is like entering a room full of orchids. After a while, you become soaked in the fragrance and you don’t even notice it. If you are in the company of bad people, it is like going into a room that smells of (rotten) fish. After a while, you don’t notice the fishy (rotten) smell as you have been immersed in it.”

May we always be in the company of good people, so that we never smell of bad (rotten) fish!

PS: Di tradisi Tiongkok, memberikan parfum (wewangian) sebagai kado adalah tidak taboo. Yang pasti asal muasal tabu untuk memberikan parfum bukan dari Chinese culture.

Salah satu “background story” mengapa parfum jadi taboo sebagai gift ialah dianggap bisa menyinggung si penerima. Karena dengan memberikan parfum bisa saja cara subtle (halus) untuk mengingatkan / menginfokan si penerima bahwa dirinya punya masalah dengan aroma tubuh / bau badan!

Cara umum untuk “mensiasati” tabu ini ialah si penerima in return memberikan sejumlah uang (sekedarnya saja) untuk “membayar.” Dengan begitu jadi dianggap bukan sebagai gift tetapi adalah “membeli.”

Suhana Lim

Certified Feng Shui Practitioner

www.suhanalimfengshui.com

0422 212 567 / suhanalim@gmail.com

©️ [COPYRIGHT Suhana Lim], 2022. No part of the materials in this article may be copied, photocopied, reproduced, translated or reduced to any electronic medium or machine-readable form, in whole or in part, without prior written consent of [Suhana Lim].

Any other reproduction in any form without the permission of [Suhana Lim ] is prohibited. All materials contained on this article is protected by copyright law and may not be reproduced, distributed, transmitted, displayed, published or broadcast without the prior written permission of [Suhana Lim].

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

DWP KJRI MELBOURNE SAMBUT PENGURUS BARU

Pertengahan Oktober silam, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne mengadakan pertemuan anggota yang ke-2 di tahun 2015. Acara tersebut sekaligus...

MELBOURNE VICTORY SOSIALISASIKAN PERMAINAN AMAN

 Siapa tak kenal Melbourne Victory? Ya, bagi warga Melbourne, klub sepakbola ini bisa dibilang seperti Persija atau Persib-nya Indonesia. Ketenaran atau popularitas klub ini...

5 TIPE MANUSIA BUGIS

Organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) baru-baru ini mengadakan diskusi budaya dan pemutaran film dokumenter yang berjudul Calalai – In...

IndOz Biz Networking Night: Growing Together as a Community

“One of the key factors to truly grow was from the help of networking,” kata Handy Kosasih, pemrakarsa IndOz Biz Networking Night. Beliau...

Orchida dan Faisal Pamit Diri Kepada Masyarakat Melbourne

Setelah tiga tahun menunaikan tugas sebagai Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler dan Konsul Fungsi Ekonomi, Faisal M. Perdanaputra dan Orchida Danudjaja, kembali ke Tanah...