“Organisasi itu bagus sekali, apalagi pas masih sekolah kamu punya waktu dan bisa ketemu orang lain, anak PPIA yang lain, KJRI dan perwakilan-perwakilan negara, it’s a good experience.”

Walaupun baru bergabung dengan PPIA William Angliss di awal tahun 2019, Nathania Chandra mengungkapkan bahwa pengalaman bergabung dalam organisasi tersebut telah memberikannya wawasan yang baru. “Aku sudah kenalan banyak banget orang yang Indonesia yang di Melbourne, PPIA lain, ke kedutaannya juga, it’s something new. Ketemu orang-orang yang punya vision and mission is a good experience,” ujarnya tentang hal yang ia dapati selama bergabung dalam PPIA William Angliss.

Kerap disapa Didi, wanita asal Jakarta tersebut sudah tidak asing lagi dalam pengalaman belajar di Australia. Ia sudah menyelesaikan studi S1nya di Blue Mountain Hotel School, Sydney dalam bidang Hospitality and Resort Management terlebih dahulu sebelum menempuh studi di William Angliss. Tak hanya itu, alumni lulusan 2017 tersebut juga pernah mengikuti program magang Crown Group di Perth dan Melbourne pada tahun 2015 dan 2016, serta kembali ke Tanah Air dan bekerja di divisi marketing Livewell Group.

Pengalaman di Kota Melbourne meninggalkan kesan yang mendalam bagi Didi, dan membuatnya berkeinginan untuk kembali lagi di masa depan. Baginya, kenyamanan Kota Melbourne baik dalam segi transportasi, akomodasi, serta suasana yang tak seramai Sydney menjadi beberapa hal yang spesial. Dengan harapan ingin memperdalam ilmu Food and Beverage, wanita dari tiga bersaudara tersebut pun akhirnya memutuskan untuk kembali dan mengambil program certificate di William Angliss dengan jurusan Patisserie.

Selain berbekal pengalaman kerja, alumni Raffles institute Jakarta ini juga aktif berpartisipasi dalam student council dan bertugas dalam bagian humas pada jaman SMAnya. “Dulu saya di public relations itu sebenarnya sponsorship juga. Waktu SMA kita bikin banyak acara dengan WWF, bikin fundraising dengan UNICEF gitu, jadi untuk kayak in terms of bikin proposal, bikin kerjasama dengan orang lain, I think it’s a good experience yang aku bisa terapin di sini juga,” tuturnya tentang pengalaman sebelumnya yang bisa ia bawakan.

Didi mengakui bahwa salah satu tantangan yang ia akan dihadapi dalam menjalankan organisasi terletak pada sisi pendanaan. Dengan demikian ia merasa PPIA William Angliss harus lebih gencar dalam menggalang dana dan mencari sponsor. “Untuk kedepannya kita harus nyari sponsor yang banyak, member benefits yang ok juga, to make our events bigger,” tutur sang pendukung klub sepakbola Manchester United tersebut. Hal ini berkaitan dengan rencana mempertahankan event utama PPIA William Angliss yang bertajuk Culineria, bahkan mengembangkannya lebih.

Besar harapan Didi untuk menjadikan PPIA William Angliss sebuah komunitas yang berlandasan kekeluargaan, dan salah satu targetnya adalah meningkatkan jumlah keanggotaan. “Visi saya adalah membuat PPIA William Angliss memiliki program yang lebih kelihatan, to make events yang bisa attract more people juga, in terms of numbers lebih besar,” ujar Didi perihal visinya. Selain itu, ia juga berharap komite tahun ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi para mahasiswa lainnya untuk ikut berorganisasi bersama PPIA dan mencoba pengalaman yang baru.

Selain itu, penggemar sosok Benedict Cumberbatch tersebut berharap tim komitenya tidak melupakan sisi sosial dalam berorganisasi dengan tidak terlalu membawa banyak tekanan kepada diri sendiri selama menjalani kepengurusan, saling berkomunikasi jika memiliki ide untuk sebuah acara, memperluas koneksi dengan universitas dan ranting PPIA lainya.

Selamat bertugas Didi!

Denis