Home PROFIL BUSET Nano Setiawan: Terjun dalam Bisnis Penerbangan Perlu Jam Terbang

Nano Setiawan: Terjun dalam Bisnis Penerbangan Perlu Jam Terbang

0
Nano Setiawan: Terjun dalam Bisnis Penerbangan Perlu Jam Terbang

Sama halnya pilot pesawat terbang yang butuh mengumpulkan berpuluh-puluh ribu jam terbang agar semakin piawai dan ahli menerbangkan pesawat, begitu pula dengan seorang marketer di industri aviasi. “Ilmunya harus dengan dijalankan, tak bisa hanya dipelajari lewat buku,” ujar Nano Setiawan yang baru tiga bulan menjabat sebagai General Manager(GM) Garuda Indonesia untuk wilayah Victoria dan Tasmania ini.

Ditemui di kantor Garuda Indonesiadi kawasan sibuk Collins Street, Melbourne, Nano mengaku awalnya tidak pernah terbesit berkarier di dunia penerbangan. Meski begitu, di tahun 1991 ia sempat melamar untuk menjadi penerbang selepas lulus SMA walau tidak diterima. “Sepertinya memang rezeki saya bukan jadi pilot, tapi saya memang punya passionyang besar di dunia penerbangan. Tahun 1993 sambil kuliah saya melamar sebagai pegawai niaga Garuda Indonesiadan disitulah karier saya dimulai dari bawah,” bebernya. Tak kurang dari 25 tahun berkarya bersama Garuda Indonesia, Nano sudah ditempatkan ke berbagai wilayah di Indonesia (lengkap di kawasan barat, tengah dan timur). Ia ditugaskan di Aceh dua kali, Solo, Timika (Papua), Denpasar (Bali) dan kemudian dimandatkan untuk menjabat sebagai GM di Melbourne.

Berdasarkan pengalamannya, setiap daerah penempatan punya karakter penumpang dan staf yang berbeda-beda. “Saya banyak belajar bagaimana menangani penumpang yang setiap daerah punya karakter berlainan. Maka saya bilang, bahwa ilmu marketing dunia penerbangan tidak bisa dipelajari dari buku tapi dari terjun langsung dan rajin berinteraksi.”

Nano juga mengungkap bahwa “menjual” jasa penerbangan tidak semudah menjual produk atau jasa lain. “Misalnya seperti yang terjadi baru-baru ini, kami ada di satu kondisi dimana pesawat sudah siap, kru sudah siap, penumpang sudah siap diberangkatkan, tiba-tiba Gunung Agung meletus. Pesawat tidak mungkin diterbangkan. Kasus-kasus semacam ini menjadi tantangan terbesar. Alasan keamanan dan tantangan yang diberikan alam,” ujar pria yang gemar bersepeda danjoggingini. “Saya terus belajar bagaimana menghadapi keluhan pelanggan, semua kondisi harus siap,” tambahnya.

Lalu apa yang paling dibutuhkan seorang marketer di dunia penerbangan? Nano menjawab tegas, seorang salesatau marketer harus mencerminkan perusahaan tempatnya mengabdi. Bukan hanya mengadopsi performa kerja, tapi juga memiliki pengetahuan menyeluruh tentang perusahaan. Dan yang tak kalah penting harus bersabar menangani berbagai macam penumpang dalam berbagai situasi.

Era Kolaborasi

Tahun ini, Garuda Indonesiasebagai maskapai nasional kembali mendapat predikat sebagai “Maskapai Bintang 5” dari Skytrackyang sudah diraih sejak tahun 2014 lalu. Skytrackmerupakan lembaga pemberi peringkat penerbangan global independen yang berbasis di Inggris. Indonesia harus bangga, karena dari lebih dari 200 maskapai penerbangan yang dimiliki dunia, hanya ada 10 Maskapai Bintang Lima (Five Star Airliner). Bintang 5 lainnya didapat Garuda Indonesiadari Airline Passenger Experience Association(APEX), sebuah asosiasi nirlaba untuk peningkatan pengalaman penumpang penerbangan dari New York, Amerika Serikat.

Pencapaian dan pengakuan internasional terhadap Garuda Indonesiainilah yang menjadi acuan serta pacuan untuk terus memperbaiki diri, bertahan dan maju lebih jauh lagi. Menurut Nano, di ranah domestik, Garuda Indonesia punya cakupan luas dari barat hingga timur Indonesia. Maskapai Garuda Indonesiatelah mendominasi pasar domestik. Namun pekerjaan rumah Nano selanjutnya adalah meningkatkan brand awarenesskepada masyarakat Australia. “Pengembangan pasar korporasi kita masih kurang di sini (baca: Australia), maka kita lebih gencar memberikan benefit untuk pasar korporasi, baik dari pemerintahan, perusahaan, universitas, dan institusi lainnya. Kedua kerjasama dengan kementrian pariwisata, media, agen perjalanan, dan komunitas juga harus terus dijalin,” terangnya. Dari Melbourne ke Jakarta pun sudah ada penerbangan langsung sebanyak lima kali seminggu, sedangkan ke Bali delapan kali seminggu.

“Kita butuh aliansi, butuh berkolaborasi. Tidak bisa berdiri sendiri,” tegas Nano. Sama halnya aliansi penerbangan dan cakupan jaringan terbang Garuda Indonesiayang luas memungkinkan Garuda Indonesiauntuk terbang ke seluruh dunia. Begitu pula dengan promosi bersama yang bisa digalang untuk memperkenalkan Indonesia ke mancanegara.

Nano sendiri merasa cukup sedih melihat fakta bahwa masih banyak warga Australia hanya tahu soal Bali saja. Padahal sejalan dengan program pemerintah, ada 10 Bali Baru yang tengah gencar diperkenalkan. Dan menurut Nano, rute ke seluruh destinasi yang disebut “New Bali” ini sudah dijangkau Garuda Indonesia. “Kita juga turut membantu memperkenalkan pariwisata Indonesia yang sudah dicanangkan pemerintah dan apabila fokus ke 10 area wisata baru tersebut, Garuda Indonesiasudah terbang ke sana.”

Membaca Masa Depan

Di masa depan, kebutuhan masyarakat untuk terbang akan kian bertambah, seturut dengan budaya travellingyang terus bertumbuh. Nano mengingatkan bahwa tak cuma maskapai penerbangan yang harus bersiap memberi layanan pada masuarakat, tapi juga kesiapan infrastruktur perlu dibenahi. “Potensi alam Indonesia jelas tidak kalah dengan daerah-daerah lain di dunia, tapi seringkali yang jadi masalah adalah infrastrukturnya,” seru Nano yang menjadikan Bali sebagai destinasi domestik favoritnya.

“Semakin banyak penerbangan, artinya semakin banyak hal-hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan bisa berlangsung baik. Harus seimbangan antara pesawat, penumpang, dan pengembangan bandara secara keseluruhan karena ini juga berkaitan dengan masalah keamanan,” sambungnya lagi.

 

 

 

 

Deste