Nadhira Anindita Ralena (Dita), dokter muda yang pernah menempuh Bachelor of Medical Science di University of Melbourne ini ternyata sudah pernah mencicipi rasanya jadi tenaga kesehatan yang ikut sigap bersiaga dalam mengawal virus COVID-19. Tidak hanya terjun membantu-bantu kegiatan vaksinasi, ia juga berkesempatan menangani pasien COVID selama berbulan-bulan.

Dari RS Darurat Wisma Atlet, ke Puskesmas Senen, sampai Puskesmas Pademangan

Perjalanannya dimulai dari menjadi relawan di Rumah Sakit Darurat COVID (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran. Gadis yang akrab dipanggil Dita ini menghabiskan tiga bulan di RS ini, dari mulai menangani pasien bergejala ringan sampai berat, melakukan follow-up, serta mendengarkan keluh kesah pasien dalam menghadapi COVID-19 dari segi fisik maupun mentalnya. Hari-harinya dilalui dengan delapan jam praktek, istirahat selama 32 jam, dan dilanjut dengan delapan jam praktek lagi.

“Mungkin kedengarannya istirahatnya banyak, cuman ternyata nggak, capek banget. Sekali jaga 8 jam itu capek banget. Karena kalau di RSDC itu kita full hazmat (APD), dan biasanya satu dokter jaga tiga lantai. Bahkan waktu ada kelonjakan-kelonjakan kasus, jumlah pasien meningkat sedangkan jumlah relawan menurun. Jadi satu dokter bisa megang sampai 7 lantai,” curhatnya.

Perjalanannya berlanjut saat ia ditugaskan untuk mengabdi di Puskesmas Senen dan Pademangan. Di fasilitas kesehatan primer ini, ia tidak hanya ditugaskan untuk menangani pasien positif COVID-19, tapi juga kegiatan-kegiatan preventif seperti menangani pasien yang sama sekali buta tentang COVID-19, vaksinasi, sampai kegiatan-kegiatan promotif seperti pengurusan jenazah suspek COVID.

Di kedua tempat itu, Dita merasakan lelahnya menghadapi lonjakkan-lonjakkan kasus yang terjadi, baik itu saat selesai libur tahun baru dan saat transisi musim lebaran, dimana banyak kelonggaran dan pelanggaran yang terjadi dari segi prokes.

Tahun baruan di Wisma Atlet

Menjadi nakes di RSDC Wisma Atlet artinya Dita dirakantina selama tiga bulan disana bersama nakes-nakes lainnya.

Walaupun sudah sempat tinggal sendiri di Melbourne, pengalaman kali ini tetap berbeda untuknya karena saat itu ia tidak bisa pergi kemana-mana.

Menghabiskan malam tahun baru di Wisma Atlet pun menjadi pengalaman paling berkesan saat menjadi nakes.

“Saat itu kita ngumpul di rooftop buat ngeliatin kembang api, baik itu nakes atau pasiennya. Ada juga yang lagi jaga malem saat tahun baru, jadi hanya sempat liat kembang api 15 menit abis itu balik lagi untuk jaga, full menggunakan hazmat.”

Jadi nakes tidak luput dari cibiran masyarakat

“Ngapain sih, emang COVID? Semua aja di COVID-in!”

“Ih COVID! Ih COVID!”

Kira-kira cibiran itulah yang didapat saat sedang menyusuri gang kecil di daerah Ancol ketika Dita dan nakes lainnya hendak mengurus jenazah suspek COVID. Saat itu mereka menggunakan atribut hazmat lengkap. Ternyata benar, katanya, bahwa menjadi nakes tidak luput dari stigma dan cibiran masyarakat sekitar.

Burnout saat jaga 7 lantai

“Tiba-tiba aku selesai jaga, duduk, terus aku nangis, karena saking capeknya. Ternyata tuh all the stresses yang terjadi dari bulan November, December, Januari, tiba-tiba compelled dan meledaknya disitu waktu aku jaga 7 lantai,” ucap Dita saat menceritakan pengalaman burnoutnya.

Saat itu ia ditugaskan untuk jaga 7 lantai, dan walaupun pasien hari itu tidak banyak, masalah yang dihadapi masing-masing pasien sangat amat banyak.

“Jadi waktu itu di lantai 1 butuh aku, di lantai 2 butuh aku, dan di lantai atas-atasnya juga.”

Ia menambahkan bahwa ia juga harus merujuk banyak pasien yang mengidap COVID dan gangguan jiwa untuk konsultasi. “Jadinya hectic banget, capeknya minta ampun,” ujarnya.

Saat 43% nakes di puskesmas positif COVID-19

Saat itu di Puskesmas Pademangan, 10 dari 15 nakes yang sedang bertugas dengan Dita positif COVID-19, Dita menjadi satu diantara 5 orang lainnya yang bebas dari virus tersebut.

“Jadi waktu itu yaudah mereka pada isoman 14 hari, kita 5 orang genjor-genjoran di poli ISPA. Biasanya poli ISPA pasiennya nggak sebanyak itu, tapi waktu itu kita sampe 100-200 orang.”

Pengalaman ini juga menjadi satu hal yang memicu burnoutnya saat menjadi nakes, sampai-sampai sempat terlintas di benaknya untuk ingin positif COVID-19 juga agar bisa istirahat.

“Tapi ya nggak juga sih, masyarakat butuh aku juga. Emang Tuhan nyuruh aku kerja, jadi aku negatif,” sebut Dita saat meluruskan niatnya.

Support dari teman dan keluarga adalah yang utama

Saat ditanya, apa hal yang membuat Dita dapat menghandle burnoutnya, teman-teman seperjuangan dan keluarga adalah dua kunci utamanya.

“Kita kalau abis jaga suka ngumpul di living room, ngobrol-ngobrol sharing pengalaman, terus nonton bareng,” ucap gadis yang sampai membawa proyektor saat karantina di Wisma Atlet untuk nonton bareng.

Selain itu, mengeluarkan uneg-uneg kepada teman seperjuangan juga membantunya dalam menanggulangi stress.

“Biasanya orang seneng bareng oke, tapi stress bareng juga bikin seneng ternyata. Bikin plong,” katanya.