“Mental health penting banget ya? Ah paling cuman akal-akalan orang psikologi, nggak takut dicap liberal?”

“Udah nggak usah cengeng! Kurang iman itu berarti.”

“Buat apa ke psikolog, kalau ketauan teman dan keluarga, nanti dikira ‘orang gila’.”

Mungkin kalimat-kalimat di atas masih sering menjadi percakapan sehari-hari Anda atau orang-orang di sekitar saat membicarakan topik kesehatan mental. Ternyata masih banyak stigma dan mitos seputar kesehatan mental.

Obrolan Sabtu Siang (OBTUS) YIMSA mengangkat topik kesehatan mental dengan menghadirkan Bu Pudak, accredited Islamic Chaplain dan direktur dari iMERCY IMCV Family Centre, serta Bang Irfan, seorang psikolog, dosen, dan aktivis muslim. 

Masyarakat kini mengajarkan manusia untuk selalu tampil sempurna

“There are many, many, many, misunderstandings, myths, stereotypes, attitudes that surround mental illness or mental health difficulties. These results in judgment, discrimination, and isolation with people with mental health difficulties as well as their families and carer.” 

Bu Pudak menganalogikan kondisi ini dengan gambar berikut. Ketika seseorang mengalami masalah terkait kesehatan fisiknya, akan datang banyak simpati dari orang-orang dan keluarga terdekat. Namun mirisnya, ketika seseorang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, perhatian yang sama tidak sering didapatkan. Yang ada hanyalah kesunyian dan keengganan untuk membicarakannya, karena kesehatan mental seringkali masih dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. 

Masyarakat saat ini seperti mendikte kita untuk selalu kuat, tidak boleh nangis, tidak boleh sedih. “Jadi kita seakan-akan diajari sejak kecil bahwa kita nggak boleh nangis, kita nggak boleh yang namanya ‘showing our weakness’. Apalagi dengan kondisi social media yang sekarang, everything has to be perfect. Kita ga bisa seperti itu,” tegas Bu Pudak. 

“Masyarakat expect mothers to be super women. Harus bisa ini, itu, dan sebagainya. Kita nggak bisa keeping up on it. Karena apa? Karena kita manusia, kadang-kadang kita capek, kadang-kadang kita harus complain, kadang-kadang kita harus nangis. Tapi karena kita di build up supaya jadi orang yang perfect, akhirnya kira melupakan kalau kita punya perasaan, kita itu boleh kok feeling sad, nggak apa-apa feeling anxious, kalau worry itu bukan showing our weaknesses, because we are humans.” 

Direktur dari iMERCY IMCV Family Centre ini menambahkan, khususnya di komunitas Muslim, stereotipe terkait kesehatan mental bertambah karena adanya kesalahpahaman terhadap ayat-ayat di Kitab Suci dan adanya stigma bahwa sakit mental itu artinya kurang dekat dengan Tuhan. Padahal, Kitab Suci secara jelas mengajarkan umatnya untuk menerima dan mengakui segala perasaan yang tengah dirasakan.

Spektrum kesehatan mental itu luas

Empat zona ini secara garis besar menjelaskan spektrum kesehatan mental manusia. Seseorang yang berada di spektrum hijau dan kuning masih dapat menyelesaikan masalahnya dengan melakukan kegiatan self-care atau dukungan orang-orang terdekat. Namun, seseorang yang sudah berada di zona oranye atau merah membutuhkan bantuan profesional, entah itu dari General Practitioner atau psikolog. 

Pentingnya resiliensi untuk menjaga kesehatan mental 

Bang Irfan kemudian menjelaskan bahwa fluktuasi kesehatan mental manusia itu sama seperti layaknya manusia mendapat flu atau demam, kebanyakan dari kita pasti pernah mengalaminya. Tidak menutup kemungkinan bahwa banyak dari kita pernah mengalami situasi buruk dimana tanda-tanda depresi mungkin muncul. 

Bagaimana caranya supaya kita bangkit perlu resiliensi dan pemahaman akan masalah kita. 

“Orang yang resilien itu bisa menerima masalah apa adanya. Dia tidak melebih-lebihkan dan tidak mengurang-ngurangi. Makin bisa dia menerima, makin bisa dia pulih. Dia mampu menerima masalah itu sebagaimana masalah itu apa adanya,” jelas Psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini. 

Bang Irfan juga menambahakan bahwa kemampuan untuk resilien ini tidak diberikan sejak lahir, melainkan kemampuan yang harus terus dilatih.

Bagaimana saya mendukung dan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan mental?

Untuk penderita, ini adalah anugerah untuk kalian 

“Kalau kita dikasih anugerah mental ilness, jangan merasa kecil hati. Karena banyak dari klien saya yang punya mental ilness malah jadi lebih cinta sama Allah. Allah memberi cobaan yang bisa ditanggung oleh umatnya, so just accept it,” kata Bu Pudak. 

Untuk kamu yang punya teman dengan masalah kesehatan mental, hindari perkataan-perkataan ini! 

Look on the bright side!” 

“Be patient!” 

“Just read this du’a/read more Quran and you will be fine” 

“Just snap out of it!”

“There are people who are suffering more than you” 

Perkataan-perkataan seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa teman kita yang bersangkutan kurang bersyukur, kurang sabar, dan rendah iman. Sebisa mungkin hindari membuat penilaian akan spiritualitas seseorang. 

Pahami dia dan jangan paksakan kehendakmu padanya 

“Memahami dengan baik penderita dan keluarga penderita. Memahami yang baik itu artinya kita mau mendengarkan dia dan masalahnya, kemudian kita mau memahami dia apa adanya, dan untuk itu kita harus bertanya,” jelas Bang Irfan. 

Baik itu sebagai teman atau profesional, tugas kita hanyalah menyampaikan apa yang menurut kita baik, namun kita tidak bisa memaksakan kehendaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here