Museum of Indonesian Arts Tampilkan ‘Peony dan Naga’

0
946

Tidak pernah berhenti untuk terus berusaha memamerkan kekayaan budaya Indonesia di Melbourne, Museum of Indonesian Arts (MIA) bulan lalu membuka pameran bertajuk ‘Peonies and Dragons’. Sesuai dengan namanya, pameran yang diadakan di Fo Guang Yuan Art Gallery ini menceritakan pengaruh budaya Tionghoa terhadap kesenian dan kehidupan masyarakat di Indonesia dari awal hingga sekarang.

Menurut Presiden MIA Halina Nowicka, masyarakat Tionghoa yang rupanya telah menetap di Indonesia sejak 400 BCE memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. “We felt that if you want to look at Indonesian art, you had to look at Chinese influences, and also Indian influences,” jelasnya.

Pengaruh dan kolaborasi antara dua budaya tersebut yang masih dapat dilihat sampai sekarang misalnya saja resep makanan, obat-obatan, permainan dan corak kain batik yang telah beredar dimana-mana. Barang-barang tersebut, seperti mahjong dan kebaya, dapat dilihat secara langsung saat pameran ini dibuka lebih dari satu bulan lamanya.

Bukan hanya itu, MIA juga menyediakan 6 buah workshop tiap minggunya yang berkaitan dengan tema pameran. Salah satu workshop menghadirkan Dewi Anggreani, seorang penulis dan jurnalis senior, yang membawakan presentasi mengenai perempuan Indonesia yang memiliki pengaruh besar pada zamanya. Wanita-wanita tersebut misalnya saja Tan Kim Nio (Fifi Young), Lay Nyuk Lan (Rukmini Sukmawati) dan Ong Pik Hwa.

Selain Dewi Anggreani, hadir juga Diana – seorang koki yang mempresentasikan berbagai resep dan hidangan ala peranakan; Dr Charles Coppel – pakar politik dan mantan barrister yang menceritakan bagaimana masyarakat Tionghoa datang ke Indonesia; dan Marjorie Ho – Direktur East and West Art Gallery yang mengangkat topik mengenai perdagangan keramik antar kedua negara.

Halina lanjut menjelaskan bahwa sebagai organisasi yang berdasarkan pendidikan, pelatihan atau workshop tersebut sengaja dibuat sehingga penduduk Victoria dapat menyerap lebih banyak informasi melalui kesenian dan tema yang diangkat. Walau tidak menentu jumlah pengunjung per harinya, pameran ‘Peonies and Dragons’ berhasil menarik perhatian masyarakat setempat. Hal ini juga dipengaruhi dari lokasi pameran yang cukup populer dan berada di tengah kota sehingga banyak orang yang melewati gedung tersebut.

Dalam beberapa bulan kedepan, akan ada empat pameran oleh MIA baik secara solo maupun kolaborasi yang sudah dalam tahap persiapan. Salah satunya merupakan pameran yang akan diadakan di Highway Gallery, Mount Waverley berjudul ‘Lontar to Canvas’. Pameran tersebut akan menampilkan berbagai lukisan, wayang dan cerita–cerita tradisional yang berpengaruh dari India.

Agar tidak ketinggalan mengenai pameran-pameran dan pelatihan yang menarik, pantau terus aktivitas MIA mealalui situs museumofindonesianarts.org.

 

APA KATA MEREKA

This is another very good exhibition by Museum of Indonesian Arts, this one about Chinese influence on the Indonesian’s art and culture. It’s always very well presented with a lot of interesting artifacts. The workshops are well worth coming to and you do get a lot of information from them.

 

I really enjoyed the exhibition. I learnt a lot about Chinese culture in Indonesia. I knew it was there but I really don’t know much about the details. And I thoroughly enjoy the workshop this afternoon about Chinese Women in Indonesia.

 

GALERI FOTO







 

gaby