Konsul Ekonomi KJRI Melbourne Muniroh Rahim

Muniroh Rahim menuturkan kegembiraannya tentang perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang menjadi topik hangat usai pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Scott Morrison.

Ditemui oleh wartawan BUSET beberapa saat lalu, perempuan kelahiran Jakarta ini dengan antusias menceritakan target pencapaiannya sebagai konsul bidang ekonomi baru di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne.

“Ke depan, apalagi karena Indonesia sudah menandatangani IA-CEPA dan sudah meratifikasi perjanjian yang dalam waktu dekat akan berlaku tersebut, tugas kita di KJRI adalah bagaimana membuat kerjasama itu semakin konkrit,” kata Muniroh yang baru tiba di Melbourne 14 Januari lalu.

“Karena suatu agreement tidak akan berarti apa-apa kalau tidak diikuti dengan upaya keras di kedua belah pihak untuk mengimplementasikan kerjasama IA-CEPA tersebut.”

Menurut Muniroh, langkah konkrit yang harus diambil pemerintah adalah dengan membangun kerjasama dengan kalangan businessman.

“Sebagaimana diketahui, IA-CEPA itu sangat komprehensif dimana Australia dan Indonesia berkeinginan kuat untuk meningkatkan perdagangan dan investasi,” kata dia.

“Oleh karena itu cakupannya sangat luas dimana banyak kemudahan di dalamnya, baik aspek perdagangan dan investasi kedua negara. Ke depan, saya rasa pemerintah harus bekerjasama dengan kalangan businessman, kalangan business sector untuk bisa mengisi agreement tersebut.”

Kenali Australia Lewat Hobi

Muniroh memperkenalkan diri kepada masyarakat Indonesia di Melbourne

Muniroh merasa senang dengan sambutan positif masyarakat Indonesia atas kedatangan pejabat-pejabat baru Indonesia di Melbourne, Victoria. Ia mengatakan ingin menjalin kerjasama erat dengan mereka.

“Saya senang tinggal di sini dan bergaul dengan masyarakat Indonesia di Melbourne di sekitar saya. Saya ingin membangun kerjasama dengan masyarakat Indonesia di sini untuk bisa mendukung program pemerintah dan KJRI Melbourne di bidang ekonomi khususnya.”

Tidak hanya dengan masyarakat Indonesia di Melbourne. Muniroh yang sudah pernah ditempatkan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Belanda dan Wellington, Selandia Baru ini juga ingin menjalin persahabatan dengan masyarakat Australia.

Muniroh pernah menangani isu-isu ASEAN di bidang kerjasama politik dan keamanan sewaktu bertugas di Indonesia dan isu konsuler terkait sengketa pekerja Indonesia dengan majikannya di perusahaan Selandia Baru ini mengatakan ingin menjalin hubungan tersebut melalui ketertarikannya di bidang olahraga.

“Saya lihat tenis merupakan salah satu bagian dari kebudayaan Australia. Saya juga punya kesenangan untuk tenis tapi memang belum bisa banyak. Saya pikir ke depan ingin belajar tenis, bergaul dengan masyarakat Australia di sini supaya kita bisa merasakan suasananya,” kata Muniroh yang hobi berenang ini.

“Kita tinggal di sini tidak hanya berhubungan erat dengan mereka melalui bisnis, tapi bagaimana meningkatkan hubungan personal juga yang sifatnya tidak hanya business approach.”

Muniroh mengilustrasikan bila pengenalan budaya Indonesia pada umumnya melalui makanan, ia akan mencoba menelusuri budaya Australia melalui olahraga.

“Saya melihat kalau kita masuk ke dalam hal-hal yang berbau kebudayaan, ini akan memudahkan saya ataupun mereka [warga Australia] untuk mengenal kita.”

Minat di Ilmu Internasional

Muniroh memulai jenjang perguruan tingginya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta di tahun 1991 dengan jurusan Sastra. Di tahun 1999, ia diterima di Kemenlu dan mulai mengikuti pendidikan untuk diplomat muda selama satu tahun.

Setelah bekerja di bidang ekonomi dan ditempatkan di Belanda pada tahun 2004-2008, Muniroh sempat bertugas di Indonesia sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan S2 Hubungan Internasional di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University di Singapura dari tahun 2009-2010.

Pendidikan S2 ia tekuni di Victoria University of Wellington selama satu tahun hingga 2017 semasa bertugas di sana melihat banyaknya isu konsuler yang harus ditangani.

“Ketika saya di Wellington, di akhir masa tugas, saya sempat belajar mengenai hukum internasional karena saya merasa penting untuk belajar ilmu hukum di Selandia Baru,” kata dia.

“Karena pada saat itu saya banyak menangani isu-isu konsuler dimana yang saya tandatangani erat kaitannya dengan sengketa antara beberapa pekerja Indonesia dengan beberapa majikan di beberapa perusahaan Selandia Baru.”

Pada saat itu, bantuan yang diberikan oleh KBRI Wellington adalah memfasilitasi bagaimana agar mereka bisa bernegosiasi dengan majikan terkait gaji.

Nasa