The Waterjars, sebuah gerakan yang didirikan untuk mendukung berbagai misi kemanusian oleh organisasi non-profit, mengadakan musical Choir di Scott’s Church di Collins Street pada tanggal 20 Juli lalu bersama Hohidiai, sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Halmahera, Maluku Utara.

Dihadiri sekitar 120 orang termasuk juga Konsul Jenderal Spica A. Tutuhatunewa beserta beberapa stafnya, paduan suara ini merupakan bagian dari sebuah tur yang sudah berjalan selama 6 minggu hingga tanggal enam Agustus. Sebelum mengunjungi Melbourne, Hohidiai Choir sudah mengunjungi beberapa kota lainnya, sebut saja Sydney, Taree, Gold Coast, Bundaberg, dan Raymond Terrace.

Esther Scarborough, pendiri Hohidiai

Natalia Teguhputri, co-founder The Waterjars, mengutarakan music choir ini bertujuan untuk membagikan cerita para musisi bersama Hohidiai dengan tema cinta, iman dan pengharapan, menggalang dana dan membuka hati masyarakat terhadap misi Hohidiai.

“Hohidiai” memiliki arti restorasi, dan didirikan sejak 2001 oleh pasangan suami istri asal Australia, Peter dan Esther Scarborough. Awalnya Esther mendengar terjadinya perang suku di Maluku dimana banyak orang terpaksa harus menetap di tempat pengungsian dan tidak memiliki akses ke fasilitas medis yang memadai. Dengan latar belakang sebagai seorang perawat medis, ia merasakan kasih sayang besar untuk menolong. Ia pergi ke Maluku dan bekerjasama dengan pihak pemerintah membantu para pengungsi. Di sana ia menemukan banyak orang yang meninggal karena penyakit tuberkulosis, dan menjadi dorongan untuknya mendirikan Hohidiai.

Esther pula sempat pindah ke Halmahera. “We lived in a bombed out house, there was 20 of us, and I used to wear a sarong and have a bucket and washed in the house next door. And it wasn’t easy. My kids went to homeschooling and there’s 20 of us in a bombed out room. It was great times, we worked with the team, patients would come early in the morning 7 o’clok till late at night. We served hundreds and thousands of patients,” kenangnya seputar pengalaman mendirikan Hohidiai. Di sana ia dan timnya merawat korban dengan berbagai latar agama, Muslim maupun Kristen, dan juga mendengar pengalaman mereka dari konflik tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Hohidiai pun berkembang. Hohidiai menyediakan perawatan medis bagi siapapun, klinik untuk pengidap tuberkulosis dan juga untuk penyakit lepra dan perawatan untuk pengidap HIV/AIDS. Hohidia juga merawat anak-anak yatim piatu dengan menyediakan akomodasi serta edukasi melalui Hohidiai School yang menyediakan kurikulum Australia dan Indonesia. Beberapa proyek yang sedang didirikan termasuk pembangunan kebun untuk menyediakan pelatihan untuk bercocok tanam. “I just really love the people and want to touch their life with love,” imbuh Esther tentang alasan ia mendirikan Hohidiai.

cofounder The Waterjars Natalia Teguhputri

Musical choir group ini terdiri dari 17, terdiri dari pelajar, pekerja medis dan pengajar di Hohidiai. Berbagai dari mereka memiliki pengalaman yang traumatis, ada yang pernah kehilangan keluarganya, kekerasan dalam rumah tangga, ada juga yang pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Dengan tulus mereka membagikan ceritanya dan menyanyikan lagu, bahkan beberapa tembang merupakan hasil karya mereka sendiri.

Selain melantunkan lagu, para hadirin juga disuguhkan tarian tradisional Cakalele asal Maluku. Adapun beberapa judul yang dibawakan termasuk Kumbaya, Dance- Tide Tide, I’ve Got Joy, I Will Not Go Back, dan Love Can Turn The World.

Jana Golis yang bertugas sebagai Choir Director, mengungkapkan persiapan choir sudah dijalankan sejak tahun lalu. “We auditioned with many people, worked with them, taught them some songs. Then towards the end of the month when we saw how well they were doing we thought, we should use this choir as a mean to share with the people what’s happening on Halmahera,” ujarnya.

The Waterjars sudah mendukung Hohidiai sejak 2015 melalui Entrust Foundation, sebuah badan non-profit yang bertugas memverifikasi berbagai kegiatan non-profit, memfasilitasi dan memastikan dana yang disalurkan digunakan dengan benar, dan sudah mendukung Hohidiai sebagai partner selama 10 tahun.

Hohidiai Choir

CEO Entrust Foundation, Richard Beaumont, yang pernah mengunjungi Halmahera empat kali juga turut hadir dan mengajak para hadirin untuk berpartner dengan mereka. “You’re not a donor, you’re a partner. You don’t give away money, you’re making the best of it. 100% of what you give will go to the projects,” ujar Richard.

Pada malam tersebut $1600 berhasil digalangkan dan 6 anak dari Halmahera juga disponsori. Ada pula respon positif berupa ajakan Hohidai Choir untuk berkunjung dari berbagai sekolah dan gereja, serta pertanyaan dari beberapa orang tentang cara untuk menjadi seorang relawan di Hohidiai.


***

Bagi yang tersentuh untuk menyumbang ke Hohidiai, donasi dapat dilakukan melalui Entrust Foundation melalui tautan berikut: http://www.entrust.org.au/projects/hohidiai-community-development-3/

***

Apa Kata Mereka

Alan, Financial Analyst di AR Multi Finance

Saya tahu acara ini dari Natalia. Acaranya bagus. Seperti yang Natalia bilang, there’s a place that we don’t even know as an Indonesian, we don’t even realize what’s the condition there. Bagus juga buat refleksi bagi kita, we’re very lucky ya because there’s still many people living in poor condition.

Astrid, anggota Keluarga Khatolik Indonesia

Acaranya bagus. Gak nyangka, bahasa Inggrisnya jago-jago, saya suka sama nyanyiannya.

Rufin, anggota Keluarga Khatolik Indonesia

Saya kira ini bagus sekali untuk kita juga pertama mengenal banyak daerah di Indonesia, ini banyak orang yang tidak tahu. Dan banyak orang yang bekerja untuk kemanusiaan, ini sangat memberi inspirasi.

Denis